Aku mencintai imamku itu dengan
sepenuh hati.
Imamku selalu bersabar
menghadapi kelakuanku yang kadang tak baik. Aku yang masih kekanak-kanakan dan
sering minta dimanja olehnya.
Aku tahu beban yang dipikulnya
berat. Sehari-hari mencari nafkah sambil melanjutkan S2nya di salah satu
Universitas terbaik di Indonesia.
Sebenarnya dulu, saat awal-awal
menikah, ia sudah berniat melanjutkan S2. Namun tampaknya hal tersebut baru
bisa terwujud 2 tahun yang lalu, karena saat itu kami terkendala biaya. Ia mengalah,
dan lebih memilih melanjutkan pekerjaannya.
Meski begitu, tak ada kata
berhenti belajar dalam kamus hidupnya.
Suamiku selalu membaca buku
minimal 1 buku per minggu. Itu jumlah yang banyak. Aku sering gangguin dia
kalau malam sedang khusyu’ membaca. Ada saja alasanku. Minta dikelonin, minta
dipijitin. Ih, lucu. Malah seperti suamiku yang melayaniku, bukan aku yang
melayaninya.
Biasanya kalau aku sudah
bertingkah seperti itu ia hanya akan tersenyum, lalu berkata mesra.
“Sebentar ya, sayang.”
Kemudian ia mengecup keningku
dan kembali larut ke dalam bacaannya.
