Senin, 10 April 2017

#Cerpen (Bukan) Orang Baik


Adalah aku, umur delapan tahun, yang sedang sidang di bawah terik.
Pengurus masjid marah bukan main. Pasal, aku memecahkan kaca masjid, hasil dari tendangan Macan Cisewu yang kuciptakan saat bermain bola.
Sebenarnya, jarak antara masjid dan lapangan cukup jauh, mungkin ada 500 meter. Kuat sekali tendangan Macan Cisewu ya? Ah, tidak juga sih. Sebenarnya aku tidak bermain di lapangan, tapi di dalam masjid. Itulah mengapa Macan Cisewu bisa dengan mudahnya meretak-bolongkan kaca masjid.
Di sekolah, ah, bukan, di warnet, aku adalah pelanggan teladan. Absenku hampir tidak pernah bolong. Minimal, 3 hari seminggu aku melipir. Masuk ke daam lingkaran setan yang menjebak anak-anak seusiaku.
Game online, itu kata mereka.
Oiya, namaku Jack. Nama panjangnya, Zaki Al-anshori. Lebih familiar di Norbex—nama kampungku—dengan panggilan Jack. Aku berambut ikat. Bertubuh gempal. Dengan semangat muda yang menggumpal.
Ayah ibuku bercerai saat aku masih di kandungan 8 bulan. Saat itu ibu depresi dan hampir mengaborsiku. Tapi setelah diyakinkan Pak Ustad, niat beliau diurungkan.
Sst, jangan bilang-bilang, aku tahu hal tersebut dari Bi Oom, tetanggaku yang kupaksa cerita kalau tidak, aku berantem sama anaknya.
Aku memang bukan anak yang baik. Ibu sering menangis setiap hari, melihat pergaulanku yang tidak jelas. Kami dapat uang dari Om Febri. Beliau adalah adik ayah yang sukses di kota. Om Febri peduli dengan keluarga kami. Sangat. Ia mengirimi ibu uang setiap bulan. Ibu sendiri sebenarnya bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Namun bersyukur ada bantuan labih dari keluarga yang lain.
Aku tidak tahu sampai umurku 15 tahun, bahwa Om Febri sebenarnya naksir sama ibuku. Dari bertahun-tahun yang lalu, Om Febri selalu datang minimal sebulan dua kali ke rumah, yang aku kira hanya mengantarkan uang, atau mengecek kondisiku dan kondisi ibu. Ternyata ada maksud lebih. Ya, Om Febri selama ini melakukan itu kepada ibuku.
Mengapa aku akhirnya tahu? Tidak penting lah itu.
Aku melihat ibu dengan pandangan yang berbeda sekarang. Aku tidak lagi menghormatinya seperti yang dulu—oh, malahan—tidak pernah kulakukan. Aku hanya makin jauh saja darinya.
Hanya datang ke rumah ketika butuh uang saja.
Umur 16 tahun, aku bergabung dengan sebuah geng motor. Adalah Lulu, pacarku yang mengenalkanku pada bos mereka. Lulu adalah adik dari Jefri, sang ketua geng motor. Awalnya, Jefri bertanya padaku apakah aku mempunyai motor atau tidak.
Tentu saja tidak.
Ia pun mengusirku.
Namun Lulu bersikeras agar Kakaknya menerimaku di dalam gengnnya. Akhirnya, aku diterima dengan syarat harus menyelesaikan misi-misi dari mereka. Bukan Jack namanya kalau oleh sebuah misi kecil langsung ciut. Aku menerima syarat-sayat tersebut.
Mulai dari mencuri, berantem, hingga menjual barang-barang terlarang.
Semua itu kulakukan demi diterima oleh Jefri.
Masuk SMA, selain aktif di geng motor yang negatif (karena ada beberapa geng yang murni geng motor dan mereka tidak meakukan kejahatan), aku juga seringkali tawuran.
Suatu ketika aku kena bacok. Perutku berdarang. Aku langsung mengenangkan ikat pinggangku di tempat darah mengucur deras dan langsung berlari ke klinik tradisional di dekat situ.
Yang punya klinik kenal aku. Namanya Koh Xi-Fu. Aku tidak tahu nama aslinya. Dari dulu aku asal panggil saja dan tidak pernah diprotes ileh yang empunya nama.
Aku hampir tidak tertolong saat itu. Pingsan. Saat gelap menerjang, kukira itu saat-saat terakhirku di dunia. Kalau pun ia, hidupku juga tidak seberharga itu untuk dipertahankan.
Kemudian tanpa sadar aku mulai membuka mata lagi. Koh Xi-Fu berdiri di sampingku. Mengucapkan beberapa kata di dalam bahasa Mandarin yang tidak kupahami.
Ling, anak perempuannya yang berusia 8 tahun, datang sambil membawa segelas air hangat untuk kuminum. Katanya, aku tidak usah bangun. Ling membawa sedotan bambu juga untukku supaya aku bisa minum dengan mudah.
Sedotan bambu, huh. Klinik ini memang sering menerapkan Zero Waste sebisa mereka. Tidak ingin menghasilkan sampah terlalu banyak, selain sampah medis.
Aku tahu, karena aku sering sekali terluka, dan waktu kecl, ibu yang sering membawaku ke sini.
Kata Ling, aku sudah pingsan selama 3 hari. Selama itu iayang meraatku, bakan mengganti bajuku. Aku kaget. Anak perempuan sekecil itu sudah professional mengurus lelaki dewasa sepertiku—meski aku baru 18 tahun.
Kutanya, apa yang dia lakukan pada tubuhku.
Ling hanya diam saja. Sebuah kenyataan baru kupahamii beberapa tahun setelahnya. Ling pernah  mendapat perlakuan seronok dari beberapa orang tak dikenal. Ia tidak pernah menceritakan hal tersebut kepada Bapaknya. Tepatnya 8 tahun setelah kejadian ini, di mana usianya 16 dan aku 26, ia menceritakannya sendiri padaku.
Oh pantas ia sudah tidak tabu saat mengurus tubuhku dulu.
Yang kutahu setelah kejadian tawuran itu, adalah pertama kalinya aku benar-benar hampir mati. Suatu keajaiban yang menolongku hingga masih hidup saat itu.
Tetapi ada kenyataan lain.
Saat aku sampai rumah, Ibu kutemukan sudah tidak bernyawa. Ia tergeletak di kasurnya dengan busa mengair dari bawah bibir. Aku membanting pintu kamar begitu menemukan jasadnya seperti itu.
Akhirnya, kuputuskan untuk memanggil tetangga demi mengurus jasad ibu. Aku sendiri, secepat kilat lansung pergi dari tempat tersebut.
Sepuluh tahun aku tidak pernah kembali.

Sekian

Tidak ada komentar:

Posting Komentar