Pernah punya teman yang gila? I
do.
Pernah punya teman yang jenius? I
do.
Pernah punya teman gila dan juga
jenius? I really do.
Tersebutlah seorang Bigo.
Temanku sejak SMP. Kami dekat karena dulu ia kurang ajarnya minta ampun
kepadaku. Maksudku, kami baru kenal, namun cara ia menjahiliku seakan-akan kami
sudah berteman ratusan tahun.
Pernah aku tidur saat istirahat.
Waktu itu kami baru berkenalan selama 2 hari. Tanpa kusadari, ia datang dan
menggambar kumis di bawah hidungku.
Sekelas tertawa saat istirahat
selesai.
Bigo pun berakhir dengan hukuman
lari keliling lapangan sebanyak 7 kali. Gantian aku yang berkekeh.
Hari esoknya, Bigo dipanggil ke
ruang guru. Aku agak kikuk mendengar saat Pak Sugeng memanggil namanya waktu
peajaran Sejarah kala itu. Masa’ hukuman kemarin belum cukup? Gusarku dalam
hati.
Aku mulai merasa kasihan
padanya.
Namun Guru Sejarah kami—Pak Jukri—berkata
bahwa Bigo akan mewakili sekolah kami untuk mengikuti olimpiade Matematika
tingkat Kabupaten.
Seketika, rasa kasihanku sirna. Berubah
menjadi terkejut.
Meski begitu, di hari ke-4
semenjak kami berkenalan, ulah Bigo tidak berkurang. Ia menaruh ular mainan di
tasku—klasik. Namun tidak bagiku.
Aku sangat-sangat takut terhadap
ular. Atau cacing. Atau binatang melata lainnya.
Serangan panik langsung muncul
begitu aku membuka tas. Dan tebak apa? Aku pingsan. Yap, di hadapan seluruh
muka kelas—karena waktu itu aku ingin mengambil buku pelajaran bahasa
Indonesia.
Semua orang panik mendengarku
berteriak dan kehilangan kesadaran. Aku langsung dibawa ke UKS. Kelas bubar. Tidak
ada yang belajar. Bu Guru sibuk menyidang siapa yang tega berbuat seperti itu
kepadaku.
Tebak apa (lagi)?
Bigo yang mengaku. Dan ia
diskors selama satu minggu.
Meski begitu, bulan depan Bigo
menang medali emas olimpiade. Sesuatu yang pertama kali dicapai oleh sekolah
kami sejak 15 tahun berdiri.
Mendadak guru-guru terpecah
menjadi dua bagian. Ada yang sangat-sangat mengapresiasi pencapaian Bigo, dan
ada yang mengecamnya karena ia nakal.
Bigo sendiri cuek. Ia memang
jenius. Ia tidak butuh orang lain. Dalam pertemanan, ia duluan yang selalu
memberi manfaat.
Bigo juga tidak melulu menjahili
yang lain. Kadang ia yang jadi korban.
Pernah suatu saat kami sedang
liburan ke pulau seribu. Karena ke pantai, tentu saja kami main pasir dong.
Bigo dengan sukarela menawarkan diri untuk dikubur di dalam pasir, dengan hanya
kepalanya saja yang mencuat.
Kami beramai-ramai menaruh pasir
di atas tubuhnya yang besar—tapi harus kuakui, ketika masuk SMA, tubuhnya
menjadi kekar.
Jahatnya kami, tatkala pasir
sudah menimbun hingga ia tak bisa bergerak, aku mengoordinasi yang lain untuk
membuka bagian telapak kakinya.
“SIap-siap Gooo.”
Serta merta, kami mengelitiki
telapak kaki teman kami yang malang itu.
Bigo—tentunya—tidak bisa
bergerak dan hanya bisa pasrah merintih. Geli dan tersiksa. Kami tertawa
melihatnya seperti itu. Meski jahat juga sih.
Akhir cerita, konon Bigo pipis
di celana.
***
Masuk SMA, Bigo tambah
menjadi-jadi. Aku masuk SMA yang sama dengannya namun kami beda penjurusan. Aku
IPS dan ia IPA. Di fase ini kami jarang mengobrol, atau bertemu. Tapi minimal
sebulan sekali kami masih ngumpul-ngumpul bersama teman SMP dulu. Ya, sekedar
gila-gilaan.
Bigo merokok. Itu satu-satunya
hal yang tidak kusuka darinya.
Aku sangat-sangat anti dengan
benda berbahaya itu. Pernah suatu kali kuberitahu Bigo tentang hal tersebut,
Bigo menurut dan langsung mematikan rokoknya.
Namun aku tahu hal itu tidak
membuatnya berhenti.
Di sekolah, aku cukup sering
berpapasan dengannya. Biasanya saat mau ke kantin. Kebetulan, kantin berada di
bagian utara sekolah, dan aku akan melewati kelasnya bila ingin ke kantin.
Bigo, seperti yang kutahu,
selalu akan menghabiskan waktunya di perpus saat istirahat. Mungkin salah satu
resolusinya ketika masuk SMA. Perpus, berada di bagian selatan sekolah.
Jadilah kami selalu berpapasan.
Setelah beberapa bulan, aku baru
tahu bahwa ia tidak berubah menjadi kutu buku—mengingat kebiasaan barunya ke
perpus.
Bigo hanya ingin ngecengin
Penjaga perpus baru kami yang berkaca mata. Lulusan Ilmu Perpustakaan Unpad.
Tidak banyak yang tahu bahwa
penjaga perpus kami itu cantik bukan main bila melepas kacamatanya. Dan Bigo
tampaknya merahasiakan hal ini.
Semua baru terungkap tatkala
kami sedang ngumpul-ngumpul bareng teman SMP.
Jadi begitu, Go. Ucapku dalam
hati.
Menjelang kenaikan kelas, Bigo
pergi ke Singapura. Ada semacam olimpiade tentang komputer yang ia ikuti. Entahlah,
aku tidak begitu paham dengan hal-hal yang ia lakukan.
Begitu pulang, ia menciumku. Ya,
tepat di bibir.
Katanya ia tertular pergaulan
bebas di sana. Apa-apaan. Aku ingin marah, tapi rasanya cukup enak. Tapi, hey! Aku
ingin marah.
Sekarang kalian tahu bahwa aku
adalah perempuan.
Ya, mau tahu yang lebih
mengejutkan? Bigo juga perempuan.
Geng kami isinya perempuan
semua. Teman SMP yang riweuh dan termakan cerita dari film Ada Apa
dengan Cinta, yang kerap dicelutuki oleh Bigo sebagai Ada Apa dengan
Bigo.
Lulus SMA, kami kuliah di
Unpad. Aku jurusan Sastra Inggris, dan Bigo Teknik Informatika.
Padahal menurutku orang
sepertinya bisa masuk ITB. Tapi, sekali lagi, ia kan gila.
Yang kutahu, baru 3 bulan
kuliah, Bigo langsung drop out. Ia menghilang dari peredaran. Kata orang-orang
sih, ia pergi ke Singapura.
Entah apa yang dilakukannya di
sana. Kan sudah kubilang, ia gila.
Tahun demi tahun berlalu. Aku lulus
dengan nilai yang cukup memuaskan. Aku sudah bersiap untuk masuk dunia kerja,
malah sudah membuat target untuk kapan menikah.
Bigo, sudah jarang mengabari.
Hingga pada suatu hari, sebuah
email datang ke akunku. Menwarkan posisi di sebuah perusahaan. Terkejut? Iya,
terutama karena posisi itu cukup bagus untuk seorang fresh graduate.
Mungkinkah?
Aku pada akhirnya mengerti dan
senyum-senyum sendiri saat membaca nama perusahaan yang menawarkanku perkejaan
tersebut.
Dasar gila, kataku. Bigo live,
sebuah social media yang bergelut di live streaming untuk para penggunanya. Aku
datang, Bigo, sekali lagi aku datang.
Bersiaplah, Bigo. Hahaha.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar