Kamis, 06 April 2017

#Cerpen Si Dia


Pernah punya teman yang gila? I do.
Pernah punya teman yang jenius? I do.
Pernah punya teman gila dan juga jenius? I really do.
Tersebutlah seorang Bigo. Temanku sejak SMP. Kami dekat karena dulu ia kurang ajarnya minta ampun kepadaku. Maksudku, kami baru kenal, namun cara ia menjahiliku seakan-akan kami sudah berteman ratusan tahun.
Pernah aku tidur saat istirahat. Waktu itu kami baru berkenalan selama 2 hari. Tanpa kusadari, ia datang dan menggambar kumis di bawah hidungku.
Sekelas tertawa saat istirahat selesai.
Bigo pun berakhir dengan hukuman lari keliling lapangan sebanyak 7 kali. Gantian aku yang berkekeh.
Hari esoknya, Bigo dipanggil ke ruang guru. Aku agak kikuk mendengar saat Pak Sugeng memanggil namanya waktu peajaran Sejarah kala itu. Masa’ hukuman kemarin belum cukup? Gusarku dalam hati.
Aku mulai merasa kasihan padanya.
Namun Guru Sejarah kami—Pak Jukri—berkata bahwa Bigo akan mewakili sekolah kami untuk mengikuti olimpiade Matematika tingkat Kabupaten.
Seketika, rasa kasihanku sirna. Berubah menjadi terkejut.

Meski begitu, di hari ke-4 semenjak kami berkenalan, ulah Bigo tidak berkurang. Ia menaruh ular mainan di tasku—klasik. Namun tidak bagiku.
Aku sangat-sangat takut terhadap ular. Atau cacing. Atau binatang melata lainnya.
Serangan panik langsung muncul begitu aku membuka tas. Dan tebak apa? Aku pingsan. Yap, di hadapan seluruh muka kelas—karena waktu itu aku ingin mengambil buku pelajaran bahasa Indonesia.
Semua orang panik mendengarku berteriak dan kehilangan kesadaran. Aku langsung dibawa ke UKS. Kelas bubar. Tidak ada yang belajar. Bu Guru sibuk menyidang siapa yang tega berbuat seperti itu kepadaku.
Tebak apa (lagi)?
Bigo yang mengaku. Dan ia diskors selama satu minggu.
Meski begitu, bulan depan Bigo menang medali emas olimpiade. Sesuatu yang pertama kali dicapai oleh sekolah kami sejak 15 tahun berdiri.
Mendadak guru-guru terpecah menjadi dua bagian. Ada yang sangat-sangat mengapresiasi pencapaian Bigo, dan ada yang mengecamnya karena ia nakal.
Bigo sendiri cuek. Ia memang jenius. Ia tidak butuh orang lain. Dalam pertemanan, ia duluan yang selalu memberi manfaat.
Bigo juga tidak melulu menjahili yang lain. Kadang ia yang jadi korban.
Pernah suatu saat kami sedang liburan ke pulau seribu. Karena ke pantai, tentu saja kami main pasir dong. Bigo dengan sukarela menawarkan diri untuk dikubur di dalam pasir, dengan hanya kepalanya saja yang mencuat.
Kami beramai-ramai menaruh pasir di atas tubuhnya yang besar—tapi harus kuakui, ketika masuk SMA, tubuhnya menjadi kekar.
Jahatnya kami, tatkala pasir sudah menimbun hingga ia tak bisa bergerak, aku mengoordinasi yang lain untuk membuka bagian telapak kakinya.
“SIap-siap Gooo.”
Serta merta, kami mengelitiki telapak kaki teman kami yang malang itu.
Bigo—tentunya—tidak bisa bergerak dan hanya bisa pasrah merintih. Geli dan tersiksa. Kami tertawa melihatnya seperti itu. Meski jahat juga sih.
Akhir cerita, konon Bigo pipis di celana.
***
Masuk SMA, Bigo tambah menjadi-jadi. Aku masuk SMA yang sama dengannya namun kami beda penjurusan. Aku IPS dan ia IPA. Di fase ini kami jarang mengobrol, atau bertemu. Tapi minimal sebulan sekali kami masih ngumpul-ngumpul bersama teman SMP dulu. Ya, sekedar gila-gilaan.
Bigo merokok. Itu satu-satunya hal yang tidak kusuka darinya.
Aku sangat-sangat anti dengan benda berbahaya itu. Pernah suatu kali kuberitahu Bigo tentang hal tersebut, Bigo menurut dan langsung mematikan rokoknya.
Namun aku tahu hal itu tidak membuatnya berhenti.
Di sekolah, aku cukup sering berpapasan dengannya. Biasanya saat mau ke kantin. Kebetulan, kantin berada di bagian utara sekolah, dan aku akan melewati kelasnya bila ingin ke kantin.
Bigo, seperti yang kutahu, selalu akan menghabiskan waktunya di perpus saat istirahat. Mungkin salah satu resolusinya ketika masuk SMA. Perpus, berada di bagian selatan sekolah.
Jadilah kami selalu berpapasan.
Setelah beberapa bulan, aku baru tahu bahwa ia tidak berubah menjadi kutu buku—mengingat kebiasaan barunya ke perpus.
Bigo hanya ingin ngecengin Penjaga perpus baru kami yang berkaca mata. Lulusan Ilmu Perpustakaan Unpad.
Tidak banyak yang tahu bahwa penjaga perpus kami itu cantik bukan main bila melepas kacamatanya. Dan Bigo tampaknya merahasiakan hal ini.
Semua baru terungkap tatkala kami sedang ngumpul-ngumpul bareng teman SMP.
Jadi begitu, Go. Ucapku dalam hati.
Menjelang kenaikan kelas, Bigo pergi ke Singapura. Ada semacam olimpiade tentang komputer yang ia ikuti. Entahlah, aku tidak begitu paham dengan hal-hal yang ia lakukan.
Begitu pulang, ia menciumku. Ya, tepat di bibir.
Katanya ia tertular pergaulan bebas di sana. Apa-apaan. Aku ingin marah, tapi rasanya cukup enak. Tapi, hey! Aku ingin marah.
Sekarang kalian tahu bahwa aku adalah perempuan.
Ya, mau tahu yang lebih mengejutkan? Bigo juga perempuan.
Geng kami isinya perempuan semua. Teman SMP yang riweuh dan termakan cerita dari film Ada Apa dengan Cinta, yang kerap dicelutuki oleh Bigo sebagai Ada Apa dengan Bigo.
Lulus SMA, kami kuliah di Unpad. Aku jurusan Sastra Inggris, dan Bigo Teknik Informatika.
Padahal menurutku orang sepertinya bisa masuk ITB. Tapi, sekali lagi, ia kan gila.
Yang kutahu, baru 3 bulan kuliah, Bigo langsung drop out. Ia menghilang dari peredaran. Kata orang-orang sih, ia pergi ke Singapura.
Entah apa yang dilakukannya di sana. Kan sudah kubilang, ia gila.
Tahun demi tahun berlalu. Aku lulus dengan nilai yang cukup memuaskan. Aku sudah bersiap untuk masuk dunia kerja, malah sudah membuat target untuk kapan menikah.
Bigo, sudah jarang mengabari.
Hingga pada suatu hari, sebuah email datang ke akunku. Menwarkan posisi di sebuah perusahaan. Terkejut? Iya, terutama karena posisi itu cukup bagus untuk seorang fresh graduate.
Mungkinkah?
Aku pada akhirnya mengerti dan senyum-senyum sendiri saat membaca nama perusahaan yang menawarkanku perkejaan tersebut.
Dasar gila, kataku. Bigo live, sebuah social media yang bergelut di live streaming untuk para penggunanya. Aku datang, Bigo, sekali lagi aku datang.

Bersiaplah, Bigo. Hahaha.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar