Kamis, 18 Mei 2017

#Cerpen Pulang


Syifa memeluk dirinya sendiri.
Salju turun perlahan di luar bangunan tua tempatnya memandang. Seketika jarinya terasa membeku saat ia menyentuh permukaan kaca di depannya. Hari sudah sore di musim dingin itu. Sebentar lagi ia pergi.
“Syifa, ilk eve gittim. Aku pulang duluan ya.”
Yang disahut hanya mengangguk sambil tersenyum.
Aku mau pulang, desisnya dalam hati.
Sudah beberapa tahun Kastamonu memenjara hatinya. Sebuah distrik kecil di Turki yang kebetulan menjadi tempatnya berkuliah. Syifa sebenarnya bersyukur karena diberi kesempatan untuk menuntut ilmu di negeri Khilafah terakhir tersebut, namun belakangan ia resah.
Ada yang lebih sakit daripada jatuh dari pohon mangga, yaitu merindukan keluarga yang kita cintai.
36 ribu kilometer totalnya; dari rumah ke asrama tempatnya tinggal sekarang.
Butuh 2 penerbangan komersil dan sekali perjalanan laut untuk mencapai rumah. Di mana abi dan umi, serta Zaky menunggu-nunggu kepulangannya.
***
“Syifa, gimana tugas? Lumayan buat nambahin nilai sebelum ujian. Harus dimaksimalin.” Celetuk Eksa, temannya yang cantik.
Maksudnya, sanagt cantik.
“Iya aku sebentar lagi selesai. Nanti ke perpus ya, belajar.”
Eksa mengangguk sambil berlalu.
“Syifa, gimana keputusannya? Lanjut kan?” Ujar Siti Qulsyum, temannya yang lain.
“Eh, hm, eh, hm.” Gadis itu menggaruk perutnya yang gatal.
“Dih ditanya juga.”
Sebelumnya, Syifa bercerita tentang keinginannya untuk pindah jurusan, dari bio medical engineering ke Ilahiyyat. Ia bercerita hampir ke seluruh kenalan yang ia percayai, tentang keputusan besar tersebut.
“Eh, hm, eh, hm.”
“Ah, lama lo.” Siti meninggalkan Syifa yang masih menggaruk-garuk perutnya.
***
Pagi itu, Syifa sedang merapihkan kerudungnya sebelum berangkat ke kelas.
Kalau boleh jujur, belajar di Turki sangatlah menguras tenaga. Tugas yang menumpuk setinggi Burj Khalifa, dosen killer yang kalau marah menggunakan aksen kurdinya—yang membuat para mahasiswa terdiam tidak mengerti, kemudian ujian yang berat, hingga badai homesick yang sering melanda.
Belum lagi kalau kau seorang perempuan, pasti ada saja cowok di negara asalmu yang “nitip” cariin akhwat Turki.
Tapi, serius, sih, Turki sudah seperti matrikulasi bidadari syurga. Gadis-gadisnya bening, mancung, dan kalau bicara sangatlah cepat; oh, itu karena mereka sedang marah.
“Aku siap. Aku siap.”
Syifa melangkahkan kaki dengan riang menuju ruang kelasnya.
Jarak antara asrama dan tempatnya belajar tidaklah cukup jauh. Seperti dari Alfamart di pengkolan Cijeruk sampai Indomaret di Pengkolan satunya.
Kalau berjalan dengan riang bisa sampai ke sana dalam 5 menit.
Kalau jalannya sambil ngeliatin akhwat Turki bisa jadi setengah jam.
Ya, kecepatannya bergantung dengan kebersihan hati, wahai kalian laki-laki bermata awas.
Sesampainya di kelas, Syifa duduk sebentar. Masih sepi. Ia membuka tab samsung besarnya, dan mulai membaca chat yang belum sempat dibalas semalam.
Ada dari si Aman, adik besarnya yang sering galau.
Ada dari si Una, adik keduanya yang sedang berjuang untuk masuk ke kampus favorit.
Ada juga dari Umi, yang mendoakan kesuksesan dalam ujian yang sebentar lagi datang.
Setelah menjawab dengan hati yang kangen, Syifa berniat untuk menutup tab tersebut untuk menggeluti bukunya kembali, sekedar preview materi yang akan diajarkan hari itu. Apa lah materinya.
Namun, baru sepersekian detik memencet tombol power, datang sebuah pesan masuk.
“Abi” nama kontaknya.
Segera Syifa membuka pesan tersebut.
“Kak, kamu pulang ya tahun ini.”
Singkat, padat, dan cukup untuk membuat Syifa agak melompat terlonjak.
Ia mengucek matanya untuk memastikan apakah pesan tersebut asli atau tidak. Kucek-kucek, dan pesan tersebut masih ada di sana. Ya, Abi benar-benar menyuruhnya pulang.
“AAAAA.”
Syifa teriak. Girang.
“Eh, gandeng ceu.”
Eksa duduk di sampingnya sambil menoyol pundaknya.
“Hehe, aku pulang, Sa. Abis ujian. Aku pulang.”
Eksa berbinar sejenak, namun redup lagi.
“Alhamdulillah ya Syifa, kamu mau dijodohin berarti.” Eksa tersenyum penuh arti kepada sohibnya tersebut.
“y jg y bg.”
-Ayo pulang, ceritanya udah selesai-

Jangan lupa follow ig syflhsnh
Ingat prinsip kalian wahai jomblo-jomblo tuna asmara
"Follow aja dulu siapa tau jodoh"

                

Tidak ada komentar:

Posting Komentar