Syifa memeluk
dirinya sendiri.
Salju turun perlahan
di luar bangunan tua tempatnya memandang. Seketika jarinya terasa membeku saat
ia menyentuh permukaan kaca di depannya. Hari sudah sore di musim dingin itu.
Sebentar lagi ia pergi.
“Syifa, ilk eve
gittim. Aku pulang duluan ya.”
Yang disahut hanya
mengangguk sambil tersenyum.
Aku mau pulang, desisnya
dalam hati.
Sudah beberapa tahun
Kastamonu memenjara hatinya. Sebuah distrik kecil di Turki yang kebetulan
menjadi tempatnya berkuliah. Syifa sebenarnya bersyukur karena diberi
kesempatan untuk menuntut ilmu di negeri Khilafah terakhir tersebut, namun
belakangan ia resah.
Ada yang lebih
sakit daripada jatuh dari pohon mangga, yaitu merindukan keluarga yang kita
cintai.
36 ribu kilometer
totalnya; dari rumah ke asrama tempatnya tinggal sekarang.
Butuh 2 penerbangan
komersil dan sekali perjalanan laut untuk mencapai rumah. Di mana abi dan umi,
serta Zaky menunggu-nunggu kepulangannya.
***
“Syifa, gimana
tugas? Lumayan buat nambahin nilai sebelum ujian. Harus dimaksimalin.” Celetuk
Eksa, temannya yang cantik.
Maksudnya, sanagt
cantik.
“Iya aku sebentar
lagi selesai. Nanti ke perpus ya, belajar.”
Eksa mengangguk
sambil berlalu.
“Syifa, gimana
keputusannya? Lanjut kan?” Ujar Siti Qulsyum, temannya yang lain.
“Eh, hm, eh, hm.”
Gadis itu menggaruk perutnya yang gatal.
“Dih ditanya juga.”
Sebelumnya, Syifa
bercerita tentang keinginannya untuk pindah jurusan, dari bio medical
engineering ke Ilahiyyat. Ia bercerita hampir ke seluruh kenalan
yang ia percayai, tentang keputusan besar tersebut.
“Eh, hm, eh, hm.”
“Ah, lama lo.” Siti
meninggalkan Syifa yang masih menggaruk-garuk perutnya.
***
Pagi itu, Syifa
sedang merapihkan kerudungnya sebelum berangkat ke kelas.
Kalau boleh jujur,
belajar di Turki sangatlah menguras tenaga. Tugas yang menumpuk setinggi Burj
Khalifa, dosen killer yang kalau marah menggunakan aksen kurdinya—yang membuat
para mahasiswa terdiam tidak mengerti, kemudian ujian yang berat, hingga badai homesick
yang sering melanda.
Belum lagi kalau kau
seorang perempuan, pasti ada saja cowok di negara asalmu yang “nitip” cariin
akhwat Turki.
Tapi, serius, sih,
Turki sudah seperti matrikulasi bidadari syurga. Gadis-gadisnya bening,
mancung, dan kalau bicara sangatlah cepat; oh, itu karena mereka sedang marah.
“Aku siap. Aku siap.”
Syifa melangkahkan
kaki dengan riang menuju ruang kelasnya.
Jarak antara asrama
dan tempatnya belajar tidaklah cukup jauh. Seperti dari Alfamart di pengkolan
Cijeruk sampai Indomaret di Pengkolan satunya.
Kalau berjalan
dengan riang bisa sampai ke sana dalam 5 menit.
Kalau jalannya
sambil ngeliatin akhwat Turki bisa jadi setengah jam.
Ya, kecepatannya
bergantung dengan kebersihan hati, wahai kalian laki-laki bermata awas.
Sesampainya di
kelas, Syifa duduk sebentar. Masih sepi. Ia membuka tab samsung besarnya, dan
mulai membaca chat yang belum sempat dibalas semalam.
Ada dari si Aman,
adik besarnya yang sering galau.
Ada dari si Una,
adik keduanya yang sedang berjuang untuk masuk ke kampus favorit.
Ada juga dari Umi, yang
mendoakan kesuksesan dalam ujian yang sebentar lagi datang.
Setelah menjawab
dengan hati yang kangen, Syifa berniat untuk menutup tab tersebut untuk
menggeluti bukunya kembali, sekedar preview materi yang akan diajarkan hari
itu. Apa lah materinya.
Namun, baru
sepersekian detik memencet tombol power, datang sebuah pesan masuk.
“Abi” nama
kontaknya.
Segera Syifa membuka
pesan tersebut.
“Kak, kamu pulang ya
tahun ini.”
Singkat, padat, dan
cukup untuk membuat Syifa agak melompat terlonjak.
Ia mengucek matanya
untuk memastikan apakah pesan tersebut asli atau tidak. Kucek-kucek, dan pesan
tersebut masih ada di sana. Ya, Abi benar-benar menyuruhnya pulang.
“AAAAA.”
Syifa teriak. Girang.
“Eh, gandeng ceu.”
Eksa duduk di
sampingnya sambil menoyol pundaknya.
“Hehe, aku pulang,
Sa. Abis ujian. Aku pulang.”
Eksa berbinar
sejenak, namun redup lagi.
“Alhamdulillah ya
Syifa, kamu mau dijodohin berarti.” Eksa tersenyum penuh arti kepada sohibnya
tersebut.
“y jg y bg.”
-Ayo pulang, ceritanya udah selesai-
Jangan lupa follow ig syflhsnh
Ingat prinsip kalian wahai jomblo-jomblo tuna asmara
"Follow aja dulu siapa tau jodoh"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar