Bermula dari sebuah percakapan
di kelas. Nofandi, teman gua yang berasal dari Pulau Seribu Masjid alias
Lombok, menawarkan buat main ke rumahnya pas liburan musim panas nanti.
Gua sih oke, Lombok terdengar
tidak begitu buruk.
Di samping itu, hobi gua sebagai
penggiat kegiatan alam terbuka (alias si amatir tukang asal naik gunung) udah
lama tertidur. Bagian diri gua ini udah lama gua biarin terlelap, karena gua
sibuk oleh urusan duniawi yang lain.
Maka ketika mendengar kata
Lombok, otomatis ada Rinjani, dan ada gunung-gunung lain menanti.
Saat itulah, setelah agak lama
berhenti dari hobi mendaki, gua memutuskan untuk terjun lagi.
Sebenarnya gua tidak terlalu
amatir. Hanya saja dengan berpikir seperti itu kita akan terus berkembang
karena belum merasa cukup. Jadilah pada akhirnya, peralatan-peralatan yang
sudah lama terdiam gua kumpulkan kembali.
Tanggal 19 Mei 2016, kita
berangkat.
Karena menuju Lombok dengan
transportasi darat, kami harus transit dulu di Jogja. Kereta yang berangkat jam
11.30 siang tersebut berhenti di kota indah ini pada pukul 20.30 WIB.
Menurut rencana, kami akan
berada di Jogja selama satu minggu terlebih dahulu. Bukan apa-apa, gua ingin
melakukan pemanasan dulu sebelum mendaki Rinjani. Maka, yang sekalian lewat
adalah gunung merbabu.
Gua dijemput oleh salah satu
teman di Stasiun Lempuyangan dan langsung menuju kosan Kiting. Doi inilah yang
akan menemani perjalanan menuju merbabu nantinya.
Kami—sebagaimana teman yang sudah lama tak bersua—langsung bercengkrama
kembali.
Kiting bukan hanya sekedar
teman, namun juga lebih seperti saudara bagi gua. Banyak asam garam kehidupan
yang sudah ditelan bersama, sampai tersedak keasinan.
Dan ikatan tersebut akan kembali
menguat karena dalam beberapa hari, kami akan mendaki bersama.
Jadilah akhirnya, pada Sabtu
siang, tanggal 21 Mei 2016, kami berangkat menuju Selo, Boyolali, tempat
basecamp pendakian gunung merbabu berada.
Setelah sedikit berbelanja, kami
pun sampai pada pukul 17.30 sore. Nahas, badai menerpa saat kami baru saja
mengisi formulir pendaftaran untuk mendaki.
“Alam memanggil kita, Ting.”
Kata gua sambil menepuk-nepk bahu doi. Kami sedikit berlypsinc lagu dangdut
sebelum pada akhirnya berangkat sehabis maghrib.
Saat itu sudah masuk musim
kemarau, jadi badai barusan tidaklah terlalu berbahaya. Hanya hujan deras
temporer. Lagipula, gua juga sengaja memutuskan untuk mendaki setelah
mempertimbangkan faktor iklim yang sudah mulai bersahabat di bulan-bulan ini.
Maka, perjalanan dimulai.
Gunung pertama itu adalah
Merbabu.
Dalam kegelapan malam, kami
mendaki. Kiting bisa dibilang tidak terlalu berbackgroun kegiatan di alam terbuka
seperti gua. Doi lebih banyak di depan layar komputer pada kesehariannya. Kalau
gua anak panggilan. Di depan layar oke, disuruh ke lapangan juga sering.
Jalur selo ini terkenal yang
terpanjang dibandingkan jalur di gunung merbabu lainnya. Dan sepengetahuan gua,
gunung ini adalah salah satu gunung dengan jalur pendakian terbanyak. Ada lebih
dari 8 jalur yang biasa dilewati oleh pendaki. Meski yang populer hanya 3 atau
4 jalur.
Anyway, kami terus berjalan.
Hujan masih mencumbu. Namun tidak
sederas tadi sore. Gua dan Kiting memakai ponco kami sambil terus memperhatikan
jalur.
Sebelum sampai ke pos 1, jalanan
memang agak membingungkan karena ada jalan yang menuju camping ground. Namun,
kami dapat mengatasi hal tersebut karena telah menganalisa dan melakukan
orientasi jalur sebelum terlalu jauh menjalaninya.
Kami terus berjalan.
Menurut review-review yang
pernah gua baca, tempat yang ideal untuk mendirikan tenda adalah sabana 1 atau
2, karena ia berada di tengah. Tidak terlalu jauh untuk turun dan lumayan dekat
untuk sampai ke puncak.
Well, kami belum tahu pasti kala
itu.
Jalan begitu landai dan
bersahabat. Karena memang sepeti itulah karakter jalu selo ini. Cocok untuk
pendaki pemula dan ramah untuk pendaki yang sudah usia.
Tak lama, pos satu kami lewati. Kemudian
kami berjalan kembali setengah jam dan sampai ke pos dua. Jarum jam sudah
menunjukkan pukul 8 malam. Kami sudah mulai lelah karena berjalan di tengah
hujan dan jalanan yang becek.
Akhirnya, saat mencapai pos 3
pada pukul sembilan malam, kami memutuskan untuk beristirahat.
Dan ternyata berada di sini juga
bagus. Terdapat lapangan terbuka yang dapat menampung banyak tenda. Hamparan langit
juga bisa terlihat begitu luas karena tidak terhalang oleh hutan. Pos 3 adalah
tempat yang cocok untuk beristirahat.
Kekurangannya adalah, pos 3
merupakan sebuah lembah, di mana akan menjadi sangat dingin dan menjadi jalur
angin untuk lewat.
Gua dan Kiting segera mendirikan
tenda dan tidur.
Pada pagi harinya, kami disuguhi
sunrise yang indah dari merbabu. Kiting segera mengakhiri gelungnya di sleeping
bag dan keluar tenda. Begitu pula gua. Kami merasa pemandangan pagi itu
merupakan permintaan maaf dari merbabu karena penyambutan yang kurang baik
kemarin. Atau mungkin sebagai pengingat bahwa ia juga bisa sebegitu ramahnya
terhadap kita.
Maka, return in favor dari
kita juga dibutuhkan dalam kondisi ini.
Dengan menjaga alam dari
kerusakan yang kita timbulkan. Salah satunya, ya tidak nyampah di alam.
Setelah puas menikmati pagi dan
sarapan dengan kornet serta nasi yang mengenyangkan, gua dan Kiting segera
packing untuk summit attack.
Di sinilah letak tantangan dari
Merbabu via Selo.
Jalur yang bersahabat sudah
tidak ada lagi. Kami harus bergelut dengan diri sendiri melewati
tanjakan-tanjakan yang mencapai 70 derajat kemiringan.
Sabana satu dan dua segera kami
lewati meski dengan susah payah.
Namun tidak ada rasa lelah yang tersisa
begitu pemandangan yang indah lagi-lagi hadir menghiasi perjalanan.
Raja dari sabana gunung mungkin
bisa disematkan kepada gunung yang satu ini. Merbabu begitu indah sampai kau
tidak bisa merasakan kaki-kakimu, tau melupakan senyum gebetan yang tidak
terkejar.
Merbabu begitu indah sampai
burung-burung pun akan melupakan nyanyiannya.
Kami tertegun begitu lama, namun
ingat bahwa puncak masih harus dikejar.
Kiting dan gua bersiap, dan kami
melanjutkan perjalanan.
Nahas, oh nahas, Kiting begitu
kelelahan di jalan. Gua juga sama, namun
gua dengan cepat pulih. Kita tidak seharusnya menyerah dengan ketidak mampuan
kita.
Pada akhirnya, tepat jam 10
pagi, kami sampai puncak trianggulasi.
“Abi, Umi, Kiting sampe ke
puncak Merbabu. Bener kata Umi, harusnya Kiting gak naik. Hujan. Tapi semua
udah beres. Kiting udah sampe puncak.”
Begitu kata anak ini di kamera
video gua. Kami sengaja merekam ekspresi kami dan menyampaikan pesan kepada
orang yang kami sayangi lewat video. Karena selain ramah lingkungan (karena
tidak menggunakan kertas dan sebagainya), juga karena kami tidak bawa pulpen. Hahaha.
Gua pun menyampaikan satu dan
dua kata kepada dia yang berada di lain benua sana. Meski pada akhirnya tidak
gua kirim karena... tidak ada kuota.
Oke.
Puncak Merbabu sendiri ada tiga.
Puncak Trianggulasi, Kenteng Songo, dan Puncak Syarif. Dua puncak pertama bisa
kita capai dari Selo langsung, namun puncak ketiga ini lumayan jadi PR karena
letaknya cukup berbeda dibanding yang lain.
Gua dan Kiting pun tidak
bersusah payah untuk menggapai puncak-puncak di atas. Hanya Trianggulasi dan
kami sudah puas.
Dari Trianggulasi, kita bisa
turun lewat jalur suwanting. Ini jalur yang memiliki sabang yang indah juga,
namun di bawahnya sangat terjal dan pendek.
Cocok untuk yang suka mendaki
dengan tek-tok.
Daaan, perjalanan pulang kami
lakukan dengan hati puas dan bahagia.
Kiting tak henti-hentinya
memegang pinggangnya karena bahagia. Dan capek. Aku tersenyum tiap melihatnya
bersenang hati. Ini pertama kalinya ia naik gunung. Dan dengan pencapaian
seperti ini, gua pikir kita semua puas.
Kami sampai di basecamp pada
pukul 4 sore. Kiting dan gua tidak berlama-lama, kami segera mengambil motor
dan pulang (tipikal pendaki-pendaki kota dan pendaki baru gede, kalau sudah
banyak melintang mah biasanya akan betah nongkrong ngopi-ngopi sambil ngobrol
sama orang-orang di basecamp).
Jogja menyapa kami kembali pada
pukul 8 malam. Segera kami makan dan tidur dengan perasaan ngantuk.
Waktu berlalu hingga gua sampai
pada hari Rabu tanggal 25 Mei 2016. Kereta menuju Banyuwangi berangkat pada
pukul 07.30 WIB. Adalah si anggun Sri Tanjung yang akan membawa gua pada
perjalanan selanjutnya menuju Rinjani.
Nofandi dan gua kembali bertemu
di Lempuyangan. Seblumnya, gua berpamitan dengan teman-teman menyenangkan di
Jogja. Juga berpamitan dengannya yang menyempatkan diri untuk mengantar dan
membelikan sarapan.
Pelajaran lainnya dari hidup:
kita akan terus bergerak. Bersiaplah pada semua perubahan, karena kalau tidak,
berarti kita belum siap.
Oke (2).
Gua dan Nofandi menghabiskan 19
jam yang sangat-sangat lama di kereta. Terasa lebih lama dibandingkan menunggu
antrian di puskesmas. Betul, memang lebih lama.
Akhirnya, jam 23.30 WIB, kami
sampai di stasiun Banyuwangi Baru.
Langkah selanjutnya dari
perjalanan ini adalah berpindah dari stasiun ke pelabuhan, yang mana jaraknya
tidaklah terlalu jauh dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki.
Di sana, kami bergabung dengan 5
orang lain yang “berseragam” tas besar.
Tiga di antaranya ingin mendaki
Rinjani juga. Dua lainnya memutuskan untuk pergi ke Bali karena tidak bisa
mendaki gunung Semeru sebab ada evakuasi yang dilakukan di sana. Akibatnya pendakian
ditutup.
Tiga orang pertama adalah
Diansyah Rizky, Gusti dan Isdar.
Bang Dian inilah yang pada akhirnya
memandu dan membantu kami untuk sampai ke Rinjani. Kami memang domba-domba
tersesat yang nekad pergi ke sebuah tujuan yang belum pernah dituju sebelumnya.
Ngeteng, dan hanya bermodal beberapa artikel di google.
Dua orang yang lain adalah Kang
Yana dan temannya.
Sepanjang perjalanan kami
mengobrol. Terutama bang Dian, doi sangat bersemangat bercerita tentang sebuah
ekspedisi yang ia gagas, tentang Thru Hike melintasi Jawa dengan berjalan kaki.
Sebuah ide besar yang kini
sedang kami perjuangkan. Mungkin dalam jangka panjang.
Perjalanan laut dari Banyuwangi
menuju pelabuhan Gilimanuk, Bali tidak memakan waktu yang lama. Hanya satu jam.
Namun terasa dua jam karena begitu sampai, waktu sudah menunjukkan pukul 2 pagi
WITA. Selisi satu jam lebih cepat. Selain itu, perjalanan ini juga murah karena
hanya memakan ongkos 5 ribu rupiah saja untuk tiket kapal.
Nah, sesampainya di sana, kami
ngopi sebentar sebelum lanjut lagi naik bis yang akan menyebrangi Pulau Bali
hingga ke ujung TImurnya, yaitu pelabuhan Padang Bai.
Bus yang kami tumpangi bernama
P.O Bahagia. Pemilihan nama yang sangat cerdas.
Selama 4 jam bus berjalan tanpa
henti. Gua sempat mengobrol dengan bang Dian sebelum akhirnya lebih banyak
tidur selama perjalanan.
Pukul 6 pagi kami sampai di
Pelabuhan yang indah tersebut.
Padang Bai bak Surga. Begitu naik
ke kapal yang akan membawa kami ke Lombok, pulau Bali yang eksotis mencumbu
pandangan kami. Serasa keluar dari pulau Jurassic Park yang melegenda. Bali,
memanglah secuil Syurga yang diinjamkan Tuhan untuk manusia.
So, perjalanan kapal yang kedua
kami lewati dengan perasaan takjub.
Sampai ketika kau menaiki kapal
tersebut, kau akan merasa bahwa lautan tak pernah sebiru itu. Kau akan takjub
jutaan kali. Kau akan merasa menyesal karena tidak membawa orang yang kau
cintai turut bersamamu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar