Senin, 01 Mei 2017

#Catper Hikayat si Amatir (Perjalanan 3 Gunung; Mei-Juni 2016) Bag. 1


Bermula dari sebuah percakapan di kelas. Nofandi, teman gua yang berasal dari Pulau Seribu Masjid alias Lombok, menawarkan buat main ke rumahnya pas liburan musim panas nanti.
Gua sih oke, Lombok terdengar tidak begitu buruk.
Di samping itu, hobi gua sebagai penggiat kegiatan alam terbuka (alias si amatir tukang asal naik gunung) udah lama tertidur. Bagian diri gua ini udah lama gua biarin terlelap, karena gua sibuk oleh urusan duniawi yang lain.
Maka ketika mendengar kata Lombok, otomatis ada Rinjani, dan ada gunung-gunung lain menanti.
Saat itulah, setelah agak lama berhenti dari hobi mendaki, gua memutuskan untuk terjun lagi.
Sebenarnya gua tidak terlalu amatir. Hanya saja dengan berpikir seperti itu kita akan terus berkembang karena belum merasa cukup. Jadilah pada akhirnya, peralatan-peralatan yang sudah lama terdiam gua kumpulkan kembali.
Tanggal 19 Mei 2016, kita berangkat.

Karena menuju Lombok dengan transportasi darat, kami harus transit dulu di Jogja. Kereta yang berangkat jam 11.30 siang tersebut berhenti di kota indah ini pada pukul 20.30 WIB.
Menurut rencana, kami akan berada di Jogja selama satu minggu terlebih dahulu. Bukan apa-apa, gua ingin melakukan pemanasan dulu sebelum mendaki Rinjani. Maka, yang sekalian lewat adalah gunung merbabu.
Gua dijemput oleh salah satu teman di Stasiun Lempuyangan dan langsung menuju kosan Kiting. Doi inilah yang akan menemani perjalanan menuju merbabu nantinya.
Kami—sebagaimana  teman yang sudah lama tak bersua—langsung bercengkrama kembali.
Kiting bukan hanya sekedar teman, namun juga lebih seperti saudara bagi gua. Banyak asam garam kehidupan yang sudah ditelan bersama, sampai tersedak keasinan.
Dan ikatan tersebut akan kembali menguat karena dalam beberapa hari, kami akan mendaki bersama.
Jadilah akhirnya, pada Sabtu siang, tanggal 21 Mei 2016, kami berangkat menuju Selo, Boyolali, tempat basecamp pendakian gunung merbabu berada.
Setelah sedikit berbelanja, kami pun sampai pada pukul 17.30 sore. Nahas, badai menerpa saat kami baru saja mengisi formulir pendaftaran untuk mendaki.
“Alam memanggil kita, Ting.” Kata gua sambil menepuk-nepk bahu doi. Kami sedikit berlypsinc lagu dangdut sebelum pada akhirnya berangkat sehabis maghrib.
Saat itu sudah masuk musim kemarau, jadi badai barusan tidaklah terlalu berbahaya. Hanya hujan deras temporer. Lagipula, gua juga sengaja memutuskan untuk mendaki setelah mempertimbangkan faktor iklim yang sudah mulai bersahabat di bulan-bulan ini.
Maka, perjalanan dimulai.
Gunung pertama itu adalah Merbabu.
Dalam kegelapan malam, kami mendaki. Kiting bisa dibilang tidak terlalu berbackgroun kegiatan di alam terbuka seperti gua. Doi lebih banyak di depan layar komputer pada kesehariannya. Kalau gua anak panggilan. Di depan layar oke, disuruh ke lapangan juga sering.
Jalur selo ini terkenal yang terpanjang dibandingkan jalur di gunung merbabu lainnya. Dan sepengetahuan gua, gunung ini adalah salah satu gunung dengan jalur pendakian terbanyak. Ada lebih dari 8 jalur yang biasa dilewati oleh pendaki. Meski yang populer hanya 3 atau 4 jalur.
Anyway, kami terus berjalan.
Hujan masih mencumbu. Namun tidak sederas tadi sore. Gua dan Kiting memakai ponco kami sambil terus memperhatikan jalur.
Sebelum sampai ke pos 1, jalanan memang agak membingungkan karena ada jalan yang menuju camping ground. Namun, kami dapat mengatasi hal tersebut karena telah menganalisa dan melakukan orientasi jalur sebelum terlalu jauh menjalaninya.
Kami terus berjalan.
Menurut review-review yang pernah gua baca, tempat yang ideal untuk mendirikan tenda adalah sabana 1 atau 2, karena ia berada di tengah. Tidak terlalu jauh untuk turun dan lumayan dekat untuk sampai ke puncak.
Well, kami belum tahu pasti kala itu.
Jalan begitu landai dan bersahabat. Karena memang sepeti itulah karakter jalu selo ini. Cocok untuk pendaki pemula dan ramah untuk pendaki yang sudah usia.
Tak lama, pos satu kami lewati. Kemudian kami berjalan kembali setengah jam dan sampai ke pos dua. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Kami sudah mulai lelah karena berjalan di tengah hujan dan jalanan yang becek.
Akhirnya, saat mencapai pos 3 pada pukul sembilan malam, kami memutuskan untuk beristirahat.
Dan ternyata berada di sini juga bagus. Terdapat lapangan terbuka yang dapat menampung banyak tenda. Hamparan langit juga bisa terlihat begitu luas karena tidak terhalang oleh hutan. Pos 3 adalah tempat yang cocok untuk beristirahat.
Kekurangannya adalah, pos 3 merupakan sebuah lembah, di mana akan menjadi sangat dingin dan menjadi jalur angin untuk lewat.
Gua dan Kiting segera mendirikan tenda dan tidur.
Pada pagi harinya, kami disuguhi sunrise yang indah dari merbabu. Kiting segera mengakhiri gelungnya di sleeping bag dan keluar tenda. Begitu pula gua. Kami merasa pemandangan pagi itu merupakan permintaan maaf dari merbabu karena penyambutan yang kurang baik kemarin. Atau mungkin sebagai pengingat bahwa ia juga bisa sebegitu ramahnya terhadap kita.
Maka, return in favor dari kita juga dibutuhkan dalam kondisi ini.
Dengan menjaga alam dari kerusakan yang kita timbulkan. Salah satunya, ya tidak nyampah di alam.
Setelah puas menikmati pagi dan sarapan dengan kornet serta nasi yang mengenyangkan, gua dan Kiting segera packing untuk summit attack.
Di sinilah letak tantangan dari Merbabu via Selo.
Jalur yang bersahabat sudah tidak ada lagi. Kami harus bergelut dengan diri sendiri melewati tanjakan-tanjakan yang mencapai 70 derajat kemiringan.
Sabana satu dan dua segera kami lewati meski dengan susah payah.
Namun tidak ada rasa lelah yang tersisa begitu pemandangan yang indah lagi-lagi hadir menghiasi perjalanan.
Raja dari sabana gunung mungkin bisa disematkan kepada gunung yang satu ini. Merbabu begitu indah sampai kau tidak bisa merasakan kaki-kakimu, tau melupakan senyum gebetan yang tidak terkejar.
Merbabu begitu indah sampai burung-burung pun akan melupakan nyanyiannya.
Kami tertegun begitu lama, namun ingat bahwa puncak masih harus dikejar.
Kiting dan gua bersiap, dan kami melanjutkan perjalanan.
Nahas, oh nahas, Kiting begitu kelelahan  di jalan. Gua juga sama, namun gua dengan cepat pulih. Kita tidak seharusnya menyerah dengan ketidak mampuan kita.
Pada akhirnya, tepat jam 10 pagi, kami sampai puncak trianggulasi.
“Abi, Umi, Kiting sampe ke puncak Merbabu. Bener kata Umi, harusnya Kiting gak naik. Hujan. Tapi semua udah beres. Kiting udah sampe puncak.”
Begitu kata anak ini di kamera video gua. Kami sengaja merekam ekspresi kami dan menyampaikan pesan kepada orang yang kami sayangi lewat video. Karena selain ramah lingkungan (karena tidak menggunakan kertas dan sebagainya), juga karena kami tidak bawa pulpen. Hahaha.
Gua pun menyampaikan satu dan dua kata kepada dia yang berada di lain benua sana. Meski pada akhirnya tidak gua kirim karena... tidak ada kuota.
Oke.
Puncak Merbabu sendiri ada tiga. Puncak Trianggulasi, Kenteng Songo, dan Puncak Syarif. Dua puncak pertama bisa kita capai dari Selo langsung, namun puncak ketiga ini lumayan jadi PR karena letaknya cukup berbeda dibanding yang lain.
Gua dan Kiting pun tidak bersusah payah untuk menggapai puncak-puncak di atas. Hanya Trianggulasi dan kami sudah puas.
Dari Trianggulasi, kita bisa turun lewat jalur suwanting. Ini jalur yang memiliki sabang yang indah juga, namun di bawahnya sangat terjal dan pendek.
Cocok untuk yang suka mendaki dengan tek-tok.
Daaan, perjalanan pulang kami lakukan dengan hati puas dan bahagia.
Kiting tak henti-hentinya memegang pinggangnya karena bahagia. Dan capek. Aku tersenyum tiap melihatnya bersenang hati. Ini pertama kalinya ia naik gunung. Dan dengan pencapaian seperti ini, gua pikir kita semua puas.
Kami sampai di basecamp pada pukul 4 sore. Kiting dan gua tidak berlama-lama, kami segera mengambil motor dan pulang (tipikal pendaki-pendaki kota dan pendaki baru gede, kalau sudah banyak melintang mah biasanya akan betah nongkrong ngopi-ngopi sambil ngobrol sama orang-orang di basecamp).
Jogja menyapa kami kembali pada pukul 8 malam. Segera kami makan dan tidur dengan perasaan ngantuk.
Waktu berlalu hingga gua sampai pada hari Rabu tanggal 25 Mei 2016. Kereta menuju Banyuwangi berangkat pada pukul 07.30 WIB. Adalah si anggun Sri Tanjung yang akan membawa gua pada perjalanan selanjutnya menuju Rinjani.
Nofandi dan gua kembali bertemu di Lempuyangan. Seblumnya, gua berpamitan dengan teman-teman menyenangkan di Jogja. Juga berpamitan dengannya yang menyempatkan diri untuk mengantar dan membelikan sarapan.
Pelajaran lainnya dari hidup: kita akan terus bergerak. Bersiaplah pada semua perubahan, karena kalau tidak, berarti kita belum siap.
Oke (2).
Gua dan Nofandi menghabiskan 19 jam yang sangat-sangat lama di kereta. Terasa lebih lama dibandingkan menunggu antrian di puskesmas. Betul, memang lebih lama.
Akhirnya, jam 23.30 WIB, kami sampai di stasiun Banyuwangi Baru.
Langkah selanjutnya dari perjalanan ini adalah berpindah dari stasiun ke pelabuhan, yang mana jaraknya tidaklah terlalu jauh dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki.
Di sana, kami bergabung dengan 5 orang lain yang “berseragam” tas besar.
Tiga di antaranya ingin mendaki Rinjani juga. Dua lainnya memutuskan untuk pergi ke Bali karena tidak bisa mendaki gunung Semeru sebab ada evakuasi yang dilakukan di sana. Akibatnya pendakian ditutup.
Tiga orang pertama adalah Diansyah Rizky, Gusti dan Isdar.
Bang Dian inilah yang pada akhirnya memandu dan membantu kami untuk sampai ke Rinjani. Kami memang domba-domba tersesat yang nekad pergi ke sebuah tujuan yang belum pernah dituju sebelumnya. Ngeteng, dan hanya bermodal beberapa artikel di google.
Dua orang yang lain adalah Kang Yana dan temannya.
Sepanjang perjalanan kami mengobrol. Terutama bang Dian, doi sangat bersemangat bercerita tentang sebuah ekspedisi yang ia gagas, tentang Thru Hike melintasi Jawa dengan berjalan kaki.
Sebuah ide besar yang kini sedang kami perjuangkan. Mungkin dalam jangka panjang.
Perjalanan laut dari Banyuwangi menuju pelabuhan Gilimanuk, Bali tidak memakan waktu yang lama. Hanya satu jam. Namun terasa dua jam karena begitu sampai, waktu sudah menunjukkan pukul 2 pagi WITA. Selisi satu jam lebih cepat. Selain itu, perjalanan ini juga murah karena hanya memakan ongkos 5 ribu rupiah saja untuk tiket kapal.
Nah, sesampainya di sana, kami ngopi sebentar sebelum lanjut lagi naik bis yang akan menyebrangi Pulau Bali hingga ke ujung TImurnya, yaitu pelabuhan Padang Bai.
Bus yang kami tumpangi bernama P.O Bahagia. Pemilihan nama yang sangat cerdas.
Selama 4 jam bus berjalan tanpa henti. Gua sempat mengobrol dengan bang Dian sebelum akhirnya lebih banyak tidur selama perjalanan.
Pukul 6 pagi kami sampai di Pelabuhan yang indah tersebut.
Padang Bai bak Surga. Begitu naik ke kapal yang akan membawa kami ke Lombok, pulau Bali yang eksotis mencumbu pandangan kami. Serasa keluar dari pulau Jurassic Park yang melegenda. Bali, memanglah secuil Syurga yang diinjamkan Tuhan untuk manusia.
So, perjalanan kapal yang kedua kami lewati dengan perasaan takjub.
Sampai ketika kau menaiki kapal tersebut, kau akan merasa bahwa lautan tak pernah sebiru itu. Kau akan takjub jutaan kali. Kau akan merasa menyesal karena tidak membawa orang yang kau cintai turut bersamamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar