Dulu pas kecil pasti gemuruh
riang. Loncat sana lompat sini begitu Ramadhan datang.
Sekarang pas udah agak gede-an
(apanya?) jadi sedikit lebih kalem. Senyam-senyum tengok kanan-kiri. Kadang sambil
elus dada (dada sendiri kok bukan dada tetangga).
Ramadhan merefleksikan
ketenangan.
Ia adalah bulan liburan bagi
jiwa yang sudah lelah sebelas bulan sebelumnya ditimpa masalah. Saatnya hati
bertamasya, merenung, menangis.
Tidak ada yang lebih indah
dibanding seorang lelaki yang menangis di tengah solat malamnya. Meminta agar
ia dikuatkan. Mengaku bahwa ia sangat lemah di hadapan Rabbnya.
Tidak ada yang lebih indah
dibanding seorang perempuan yang mukenanya basah. Bersujud di pojok rumahnya
yang paling gelap. Meminta agar ia diberi kesabaran dan ketaatan.
Ayolah, akui saja, tidak ada
tempat kembali yang lebih indah dibanding pada sujudmu di sepertiga malam. Sujud
yang tulus kepada Penciptamu. Sujud yang lama. Sujud yang menetes air mata.
Kawan, menangislah demi dirimu.
Siapa tahu kelak, air matamu lah
yang akan memadamkan api neraka, yang siap membakarmu.
Selamat Ramadhan 1438 H.
Dari aku, si kecil tapi itunya
besar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar