Ada kegetiran saat kusebut
namamu kali ini. Tiga hari yang lalu, seorang gadis manis datang ke rumahku. Ia
datang membawa segenggam kenangan masa lalu. Membawa pesan sekaligus kabar
darimu. Dia adalah Ana, cucumu yang kau namai dengan nama kesukaanku.
Namaku adalah Mamat. Namamu
Kiki. Kita seumuran. Sekarang tahun 2066 Masehi. Berarti, kau dan aku sama-sama
berumur 69 tahun sekarang. Umur yang tipis-tipis menjelang akhir.
Jadi, dahulu sekali, aku dan
kamu adalah sepasang teman spesial. Kita saling jatuh cinta dengan cara yang
indah. Kisah kita seperti kain batik. Awalnya putih bersih, lalu kau dan aku
sama-sama mewarnainya.
Waktu itu tahun 2015, saat
pertama kita bertemu. Petualangan lah yang mempertemukan kita. Kita sama-sama
remaja liar yang menerobos waktu. Bedanya, kamu takut dengan ibumu. Aku tidak.
Kemudian waktu berlalu. Tahun 2015
berganti dengan tahun 2016, dan tahun 2016 terlindas oleh datangnya 2017. Di tahun
itu pula terakhir aku mendengar suaramu. Terakhir kulihat rambut hitammu yang
disemilir hujan, dibasahi angin. Kikos, kadang aku mengejekmu.
Di tahun tersebut aku
menumpahkan tinta ke lukisan batik kita. Merusak semua pattern-pattern indah
yang sudah kita buat bersama.
Aku mulai bersifat arogan,
posesif, dan menginginkanmu secara esklusif.
Pertengkaran pun tak terelakkan.
Puji Tuhan, aku tidak pernah memukulmu, namun kata-kataku yang pedas amat
menyakitimu.
***
Duarrr!
Petir di luar begitu ganas. Aku mematikan
lampu di kamarku dan segera memejamkan mata. Rumah ini adalah rumahku. Memang hanya
sebuah rumah kecil di pinggir desa. Aku tinggal sendiri sejak 40 tahun yang
lalu. Semenjak adikku yang perempuan menikah dan ayahku wafat.
Awalnya, aku masih tinggal di
kota. Bekerja, berpetualang, kegiatanku cukup sibuk. Namun ketika menginjak umur
50-an, aku memutuskan untuk pindah ke desa ini, desa Babakan, kampung nenekku
dahulu.
Suasana memang lebih modern,
namun aku menyukai ketenangan di sini.
Aku tidak pernah menikah. Lebih
tepatnya, tidak ingin.
Dulu sekali, sebenarnya, saat
berumur 34 tahun, ada yang menawariku calon. Kawan-kawanku bilang bahwa aku
butuh pasangn hidup kalau tidak ingin jadi bujang lapuk. Aku hampir mengamini
mereka, namun fatal, saat itu, ada yang mengirimiku fotomu dengan anakmu yang
baru lahir.
Fatal.
Aku jadi tak bisa mengingat
hari, tanggal, karena itu.
Pada akhirnya, aku tidak jadi
menikah. Karena mungkin memang, aku tidak butuh pernikahan.
***
Esok cerah. Aku bangun jam 5
pagi setelah badai semalaman menerpa desa. Segera kulakukan pemanasan kecil
agar diriku kembali bugar. Sebenarnya
aku masih kuat kalau ingin bekerja. Namun beberapa tahun ini aku lebih ingin
sendiri dan menulis. Sudah terlalu banyak petualanganku yang perlu diikat
dengan tulisan.
Tabunganku semenjak muda dulu
kukumpulkan untuk saat-saat seperti ini. Hingga cukup untukku hidup di masa
tua.
Orang-orang mungkin melihat
hidupku menyedihkan. Sendiri di ketuaan, kesepian. Namun tidak juga. Aku cukup
bahagia bila membayangkan wajahmu di pagi hari. Seperti sekarang.
Kau tersenyum. Masih seindah
dulu. Ah, aku penasaran bagaimana wajahmu saat sudah menjadi nenek-nenek. Aku tidak
sempat ditunjukkan fotomu oleh Ana kemarin.
Tapi menurutku, begini sudah
cukup. Aku bisa tumbuh tua dengan bayanganmu yang tersenyum. Aku cukup bahagia.
***
“Ngocoool!”
Jam sembilan. Sesuai janji Ana
kemarin.
Kau datang. Ya, itu kau. Dituntun
oleh cucumu yang manis.
“Hey.” Kataku pelan.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar