Sabtu, 26 Desember 2015

#Cerpen Untitled


Waktu membaca: 6-8 menit

Sebuah cercah cahaya melesat cepat ke atas. Melambung jauh melewati batas langit. Ke 1, 2, 3, semua penduduk langit dapat mencium harum wanginya. Merebak di seluruh penjuru langit. Hingga sampai cahaya yang tak lain adalah ruh itu pergi ke tempat di mana seluruh ruh dikumpulkan. Ke tempat yang hanya diketahui oleh-Nya.
“Wangi apakah tadi?” Pertanyaan itu serempak keluar dari benak hampir seluruh penduduk langit. Aku hanya tersenyum. Sebagai pencatat amal ruh itu, aku tahu semua yang dilakukannya sehingga Allah benar-benar ridho padanya. Aku tahu semua penderitaannya, dan apa yang ia korbankan. Pengorbanannya seperti Mushab bin Umair, Imannya sekuat Nabi Yusuf,  kesabarannya hampir menyamai Nabi Ayub, dan ketegarannya mirip Nabi Ibrahim. Dan untuk kalian, marilah kuceritakan kisahnya.
***
Saat Akhir Hayatnya...
“Tolooong!!!!” Dia mau memperkosa saya!!!” Seorang perempuan cantik berteriak dari sebuah gang sempit di pinggir jalan. Mimiknya sangat ketakutan, karena memang hari itu sudah malam, lewat dari pukul 23.00 WIB. Di depannya terlihat seorang laki-laki yang kebingungan harus berbuat apa.
“Tolooong!!!” Teriakan kedua itu disambut oleh sahutan warga yang sedang meronda malam ini. Sang laki-laki kaget dan langsung berlari ke arah jalan. Kemudian tak lama warga datang.
“Neng tidak apa-apa?” Tanya seorang warga. Jumlah mereka kurang lebih 5 orang.
“Dia hampir merenggut keperawanan saya, bapak bilang saya tidak apa-apa?!!! Dia lari ke sana!!!” Sang perempuan berteriak sambil menangis-nangis.Tubuhnya setengah terbuka karena baju yang ia kenakan sudah tak di tempatnya lagi.
“Tunggu apa lagi?! Kejar dia!!” Teriak perempuan itu.
“Eh, iya, ayo pak, kejar!!!” Seorang pemimpin ronda berteriak menyuruh. Semua langsung terbuyar dari lamunan jorok. Dasar, kesempatan dalam kesempitan namanya.
Warga pun bergegas pergi mengejar sang pelaku. Namun setelah semua pergi, terlihat sedikit kilas licik di mata sang perempuan.
Warga yang tahu jalan pintas dengan cepat dapat menangkap sang pelaku, meringkusnya dan seperti kebiasaan banyak peronda, mereka main hakim sendiri.
Bak! Bik! Buk! Duarr! Sang pelaku pingsan berdarah-darah. Parahnya, salah seorang warga tak sengaja juga menusukkan pisau ke tubuh pelaku. Dan dapat ditebak, Atas izin Allah, ia menjemput ajal.
Itulah ruh yang tercium wangi tadi. Namanya Fandi.
30 menit sebelum kejadian...
Di sebuah rumah dekat gang tersebut...
“Fandi sayang... kenapa kamu tidak mau bicara sama aku?” Seorang perempuan cantik merangkul pundak Fandi sambil mengerling penuh nafsu. Namun Fandi hanya diam.
“Fandi... kamu mau kan nemenin aku malam ini... aku lagi butuh teman...” Perempuan itu merayu lagi sambil sedikit-sedikit melepas pakaian. Fandi agak melangkah mundur.
“Kalau kamu pergi, aku akan teriak bahwa kamu mau memperkosa aku sayang, jadi, kita main nyantai aja ya, kamu udah tau kan caranya?” Perempuan itu mengedipkan sebelah mata sambil sedikit mengancam. Fandi bersiap pergi. Ia menggelengkan kepala, lalu melangkah keluar dari rumah tersebut.
“Tidak! Kau tidak boleh pergi sebelum melayaniku!” Perempuan itu mencegah.
Andai saja Fandi dapat bicara, ia pasti sudah mengeluarkan argumen. Namun yang dapat dilakukannya hanyalah memberi isyarat. Ia bisu.
Kata-kata perempuan itu tidak ia hiraukan. Fandi membuka pintu dan melangkah keluar dari rumah tersebut. Langkahnya cepat, namun dengan cepat pula sang perempuan mengejar. Menghentikan Fandi di dalam gang.
“Aku akan berteriak..”
6 jam sebelum kejadian...
Di sebuah Lapas di daerah Jakarta...
Fandi sedang berdzikir ketika seorang perempuan cantik menjenguk dan mengaku pacarnya.
“Fandii!!!” Ujar perempuan itu setengah berteriak. Ia memasukan tangannya ke dalam jeruji besi, mencoba memeluk Fandi.
“Jangan mbak!! Berbahaya bila mbak memegang jeruji!” Larang seorang petugas penjara. Perempuan itu langsung menarik tangannya.
“Oh, maaf...” Ujarnya,”  Fandi, ini aku Jessica, pacar kamu!!”
Fandi mengkerutkan alis. Tak dapat berkata-kata.
“Fandi, kamu ingat aku kan?” Jessica bertanya lagi, “ Kamu udah janji untuk setia sama aku!! Kamu ingat kan?”
Hening.
“Udah mbak, dia itu bodoh, biar saja saya yang jadi pacar mbak, saya janji akan setia selalu, hahaha!!!” Seorang napi menyahut jahil.
“Iiih!!” Jijik perempuan itu.
“Hahaha...” tawa napi-napi yang lain.
“Huh!” Perempuan itu berbalik dan membisikkan sesuatu kepada petugas.
“Baiklah mbak, akan saya urus”.
“Oke, saya tunggu di mobil,” dan perempuan itu pun pergi.
Kejadian selanjutnya terasa begitu cepat bagi Fandi. Ia ditarik keluar oleh para petugas penjara kemudian ditusuk oleh sesuatu yang sangat menyengat. Selebihnya, ia tak ingat apapun sampai terbangun di sebuah rumah bersama Jessica.
11 jam sebelum kejadian...
“Haiya...! Itu dia penculik tadi !! Tangkaplah dia!!” Seorang engkoh berteriak di keramaian pasar. Menunjuk ke arah Fandi yang sedang memegang radio tape yang berukuran sedang.
“Oi!! Tangkap!!” Seru beberapa lelaki di sana sambil mulai berlarian menuju pelaku. Fandi pun kaget dan berlari. Namun apa daya, lelaki-lelaki tersebut lebih cepat darinya. Fandi diringkus, dipukuli sampai polisi datang dan membawanya pergi ke lapas.
11 jam 5 menit sebelum kejadian...
Fandi melihat seorang laki-laki sedang mencuri radio tape di toko Koh Lee. Ia membuntutinya hingga keluar toko. Namun ia tak bisa berteriak. Menegur pun tak bisa. Akhirnya dengan sedikit keberanian, ia menepuk pundak sang pencuri dan mencoba memukul sang pelaku.
Seett...  Dengan cepat sang pelaku menghindar dan malah memukul balik Fandi. Fandi terjatuh, lalu dengan sigap sang pelaku melempar radio tape tersebut ke tubuh Fandi yang masih tersungkur, kemudian pergi. Fandi mengelus pantat sebentar sebelum bangun. Namun begitu bangun, ia mendengar sang engkoh berteriak pencuri.
12 jam sebelum kejadian...
Fandi baru saja ingin memakan sebungkus roti yang baru dibelinya ketika tiba-tiba seorang pengemis tua datang. Ia iba, kemudian memberikan satu-satunya makanan miliknya itu kepada sang pengemis. Pengemis itu pun tersenyum dan mengucap banyak terima kasih. Fandi dapat membalas senyumannnya, namun tak bisa menjawab, “sama-sama”.
12 jam 10 menit sebelum kejadian...
Akhirnya Fandi mendapatkan uang juga setelah dari pagi bekerja membantu seorang tukang bubur. Dalam hati, ia bersyukur karena semenjak kemarin belum makan apapun. Semenjak ia pergi dari rumah, kehidupannya memang berubah total, yang tadinya kaya menjadi miskin, bahkan untuk makan saja tidak mampu.
“Saya cuma bisa ngasih segini dik, maaf ya, penghasilan saya juga kecil,” ujar tukang bubur tersebut sambil memberi uang sebesar 6000 rupiah.
Fandi hanya bisa tersenyum. Ia menerima uang tersebut kemudian meraih tangan si tukang bubur untuk disalami.
“Eh, tidak usah, saya bukan ustadz  loh..” elak sang tukang bubur.
Fandi menganggukan kepalanya isyarat berterima kasih, kemudian berpamitan. Fandi pun menyisihkan uang 5000-nya untuk dimasukkan ke kotak amal dan menggunakan sisanya untuk membeli roti. Bagi Fandi, sekecil apapun uang yang ia miliki, masih ada hak orang yang lebih membutuhkan di sana. Ia rela berlapar-lapar agar orang lain bisa mendapatkan yang lebih baik darinya. Akhirnya, dengan uang sisa tersebut, Fandi membeli roti dan sudah ingin memakannya ketika seorang pengemis tua datang.
Pukul 07.00 WIB, 16 jam sebelum  kejadian...
Seorang laki-laki setengah baya kaget ketika melihat sebuah brankas besar terbuka di dalam kantor tempatnya bekerja. Dan ia lebih terkejut lagi ketika ternyata di dalam brankas itu terdapat uang yang sangat banyak, juga emas dan surat-suratnya. Keterkejutannya itu pun belum berakhir saat ia melihat secarik kertas yang ada di sana.
Yth. Yasasan Peduli Ummat
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Perkenalkan saya di sini adalah hamba Allah yang ingin mencari ridho-Nya. Sebelumnya maaf bila mengagetkan bapak dengan uang yang sangat banyak ini. Bersama dengan surat ini saya ingin menyampaikan bahwa seluruh uang yang ada di brankas ini saya sumbangkan untuk kepentingan ummat. Jumlah seluruhnya adalah 100 milyar. Silahkan bapak gunakan uang tersebut untuk hal yang semestinya. Semoga Allah SWT meridhoi kita.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Hormat Saya
Hamba Allah
Tanpa terasa, laki-laki itu meneteskan air mata haru.
Pukul 00.00 WIB, 23 jam sebelum kejadian...
Setelah lolos dari kejaran orang suruhan ayahnya, ia beristirahat sejenak. Menghela nafas di depan sebuah bangunan. Yayasan Peduli Ummat.
Yang dilakukan Fandi hanyalah berdoa, meminta agar bantuan datang dari Allah untuk memindahkan brankas besar itu ke kantor yayasan amal. Kemudian setelah itu  ketika ia mengangkat brankas berat tersebut serasa ada yang membantunya menahan beban sekitar 250 kg tersebut. Dan atas izin-Nya pula, Fandi dapat masuk dan menaruh brankas tersebut ke dalam kantor. Tak lupa, ia menulis sebuah surat kecil.
Pukul 20.00 WIB, 27 jam sebelum kejadian...
Fandi turun dari taksi dan membayar. Kemudian dengan cepat ia pergi.
Ia berlari sambil mengangkat brankas itu. Ya, berlari. Beberapa mobil Jaguar mengejarnya dari belakang, namun dengan sigap ia menghindar ke dalam gang-gang sempit untuk meloloskan diri. Beberapa orang berjas hitam pun turun dan mengejarnya sambil berlari, namun Fandi begitu cepat, ia dapat menghilang dalam sekejap.
Pukul 17.00 WIB, 30 jam sebelum kejadian...
Fandi melambai tangan menyetop sebuah taksi. Mobil sedan tersebut pun berhenti. Fandi dengan cepat mengangkat dan memasukkan brankas tersebut ke kursi belakang. Lalu dengan sigap pula memasukkan tubuhnya sendiri.
“Mau kemana, Mas?” Tanya supir taksi yang Fandi berhentikan. Ia agak kaget karena melihat Fandi begitu enteng mengangkat brankas dan memasukkannya ke kursi belakang.
“emmmph...emph...” Fandi mencoba bicara. Namun ternyata sulit sekali. Ia mencoba lagi, “emmph..emph...” Ia tidak tahu mengapa suaranya hilang, namun akhirnya dengan cepat ia menulis di kertas.
Jalan Saja Dulu.
“Oke!” Ujar si supir.
Di jalan, Fandi berpikir keras, kenapa ia tak bisa bicara? Padahal sebelum-sebelumnya ia dapat berkata-kata dengan mudah. Fandi bingung, namun berpikir.
Mungkin itu sudah diatur oleh-Nya.
Saat itu ia masih bisa berpikir jernih, namun tiba-tiba ia melihat beberapa mobil jaguar mengejar di belakang.
Pukul 16.30 WIB, 30,5 jam sebelum kejadian...
 “Kejar dia! Apapun yang terjadi!! Bawa dia padaku hidup atau mati!!” Suara lelaki tua itu bergetar. Terutama saat bilang, hidup atau mati.
“Baik bos!” Ujar anak buahnya yang berjas hitam. Mereka berjumlah sekitar 10 orang.
“Pergi!” Kata-kata itu disambut dengan langkah kaki para anak buahnya yang berbalik menuju mobil masing-masing.
Lelaki tua itu merenung. Apa benar yang telah ia lakukan?
Pukul 15.30 WIB, 31,5 jam sebelum kejadian...
Fandi keluar dari rumahnya tanpa diketahui siapapun. Entah yang membuat orang-orang di rumahnya tertidur semua sehingga ia dengan mudah dapat keluar dengan brankas ayahnya yang bernilai 100 milyar itu. Serta-merta ia mengucap syukur kepada Allah. Ayahnya adalah seorang pengusaha diskotik terkenal yang mempunyai banyak cabang diskotik di seluruh indonesia. Fandi tidak senang dengan hal itu, ia selalu melawan ayahnya yang mencari nafkah dari jalan yang haram. Sampai puncaknya hari ini. Ia kabur, dan membawa uang ayahnya untuk disumbangkan ke yayasan amal.
Fandi memang seorang yang agamis. Dengan ayah yang seperti itu, ia selalu menjaga dirinya dari apa-apa yang dilarang Allah SWT. Dan Alhamdulillah, ia selalu dijaga oleh-Nya.
Setelah cukup lama berjalan, ia memutuskan untuk menyetop sebuah taksi.
Pukul 14.00 WIB, 33 jam sebelum kejadian...
“Ayah! Aku tidak mau mewarisi hartamu!!!” Fandi menaikkan suara. Ia marah karena hari itu ayahnya memberitahu bahwa ia akan pensiun dan mewariskan hartanya kepada Fandi, anak semata-wayangnya.
“Fandi!!! Beraninya kau bilang seperti itu pada ayahmu!!” Ayahnya itu berteriak emosi. Ia begitu marah karena tidak ada keluarganya lagi selain anaknya itu. Istrinya sudah meninggal 2 tahun yang lalu.
“Ya! Karena perbuatan ayah itu tidak benar! Aku tidak akan mengikuti jejak syaitanmu!!” Fandi membalas.
Plak!!
Ayah Fandi menamparnya sangat keras.
“Aku tidak takut!! Bahkan bila ayah ingin membunuhku!!” Fandi bergetar mengucapkannya.
Hari itu, Allah telah menegarkan hati Fandi untuk melawan kejahatan ayahnya. Seperti Nabi Ibarahim.
Aku akan pergi, maaf ayah.
***
Dan itulah akhir kisah ini.
Fandi adalah seorang laki-laki hebat yang dapat melawan kedzaliman. Semua sifatnya mengajarkan pada kita tentang hakikat sebenarnya untuk hidup. Mencontohkan kepada kita tentang bagaimana yang seharusnya kita lakukan pada harta kita. Dan sebelum cerita ini ditutup, aku ingin membeberkan sebuah kisah kecil lagi.
24 jam setelah kejadian....
Tempat 1, Warga dekat gang tempatnya terbunuh...
“Terima kasih pak, kami sangat menghargai apa yang bapak-bapak berikan kepada warga RT ini, karena setelah banjir minggu lalu, kami banyak kehilangan harta benda kami...Bantuan ini sangatlah berarti bagi kami...” Seorang pak RT mengucap banyak terima kasih kepada perwakilan dari yayasan amal yang memberikan kepada mereka bantuan setelah banjir.
“Jangan berterima kasih kepada saya pak, berterima kasihlah kepada seorang dermawan yang kemarin menyumbangkan uang sebesar 100 milyar kepada yayasan ini. Kami tidak tahu siapa dia, Semoga Allah meridhoinya...”
“Amiiin....!!!” Ujar warga serempak. Termasuk peronda yang telah membunuh Fandi
Tempat 2, Pasar tempatnya dituduh mencuri...
“Alhamdulillah...Kami sangat berterima kasih kepada Yayasan ini, karena telah memberikan bantuan langsung kepada kami para pedagang di pasar “Rame” ini. Bantuan ini sangatlah berarti karena kemarin baru terjadi musibah kebakaran yang membuat kami kehilangan banyak harta benda, kami mengucapkan banyak terima kasih...” Ujar perwakilan para pedagang kepada yayasan amal tersebut.
“Sama-sama pak, jangan berterima kasih kepada kami, berterima kasihlah kepada seorang dermawan yang kemarin menyumbangkan uang sebesar 100 milyar kepada yayasan ini. Kami tidak tahu siapa dia, Semoga Allah meridhoinya...”
“Amiin...!!!” Ujar para pedagang. Termasuk engkoh yang menuduhnya pencuri.
Tempat  3, rumah si tukang bubur
“Alhamdulillah, terima kasih pak!! Saya tidak tahu apa jadinya bila tidak ada uang bantuan ini, saya pikir anak saya tidak akan bisa diselamatkan....” Ucap tukang bubur itu sambil berlinang air mata. Anaknya memang baru dioperasi tumor otak di sebuah rumah sakit.
“Sama-sama pak, janganlah berterima kasih kepada kami, berterima kasihlah kepada seorang dermawan yang kemarin menyumbangkan uang sebesar 100 milyar kepada yayasan ini. Kami tidak tahu siapa dia, Semoga Allah meridhoinya...”
“Amiiin...”
Tempat 4, kamar mayat sebuah rumah sakit di Jakarta.
“Fandi anakku!!!!!” Laki-laki itu berlari menuju sebuah jasad yang sudah terkaku di kamar mayat sebuah rumah sakit,” mengapa kau pergi nak?? Aku tak ingin kehilangan keluargaku lagi...cukuplah ibu yang pergi...jangan kau susul dia...”
Air mata menderas begitu saja dari matanya. Lelaki itu begitu menyesal. Mencium kening anak semata-wayangnya yang sebenarnya sangat ia cintai.
“Fandi....ayah mencintaimu...ayah akan berubah...mengikuti jalanmu...”
Dan Allah mencatat itu sebagai sebuah taubat.
***
Kuningan, 24 Januari 2012

PS: Juara Pertama Lomba Cerpen se-Jawa Barat, KRISTAL 2012

3 komentar:

  1. kalau ada yang kyak fandi langsung pingin lamar deuh

    BalasHapus
    Balasan
    1. gak usah mencari deng, menjadi dan memantaskan diri lyaknya fandi aja deh

      Hapus