Waktu membaca: 5-7 menit
Sembilan tahun
yang lalu.
Semua berkumpul.
Ada sebuah agenda besar yang akan dibahas. Tampak beberapa sosok penting
seperti Mauna Loa—gunung api terbesar di Hawaii, Kilimanjaro—gunung api
tertinggi di dunia, juga Mariana—palung terdalam di dunia. Mereka menunggu sang
pemimpin yang akan segera datang.
Tak lama, muncul
sebuah sosok dengan burung kakaktua di pundaknya.
“Salam,
kawan-kawan.”
“Selamat datang,
bos.”
Mariana tampak
gelisah. Ia sepertinya tidak ingin ikut ambil bagian dalam rencana ini. Namun,
apa boleh buat. Ia terpaksa.
“Bagaimana
rencana kita untuk membuka Pandora?”
“Kami telah
membuat skenario, bos.” Kali ini Mauna Loa yang berbicara.
Ernest mengelus-elus
dagu. “Kalian tahu betapa pentingnya hal ini. Melalui Pandora, aku bisa melihat
di mana lokasi para penjaga langit. Aku juga bisa mengukur kekuatanku bila
ingin menyerang mereka. Jadi, misi ini tak boleh gagal.”
Semua mengangguk.
“Aku adalah
penjaga kunci Pandora. Untuk beberapa jam, aku bisa mengelabui para
Dewan langit dan membawa pergi kunci itu. Namun masalahnya adalah, sang penjaga
Pandora itu sendiri.”
“Kami akan
mencoba untu mengelabuinya dan membawa bos ke sana untuk mengintip Pandora. Ini
harus dilakukan dengan sangat cepat. Lalu sehabis itu, kita pergi.”
Ernest mengangguk-angguk.
“Tunggu. Siapa penjaga kotak Pandora itu sendiri?”
Semua saling
berpandangan.
“Samudra
Pasifik, bos.”
Ernest meneguk
ludah.
***
“Asumsi kami, Ernest berkomplotan dengan beberapa gunung api dan juga
palung untuk mengintip Pandora di samudra pasifik. Pandora adalah “kotak
penglihatan”, ada juga yang menyebutnya “kotak pengetahuan”. Bila kau melihat
ke dalamnya meski hanya beberapa detik, pengetahuanmu akan bertambah sangat
banyak. Itulah harta karun sebenarnya. Sakral. Sangat berbahaya.”
“Setelah mereka berhasil mengintip Pandora, entah apa yang terjadi,
mereka menghadapi masalah.”
“Mungkin mereka ketahuan, sehingga Ernest memakaimu yang sedang lewat
untuk menjadi tumbal. Dan mereka bisa bersembunyi di salah satu palung di sana.
Dugaanku, mereka bersemunyi di Palung Mariana. Palung terdalam di Dunia.”
Firly menarik napas. Semua mulai masuk akal.
“Setelah kunci Pandora berhasil mereka pindahkan ke tanganmu, otomatis
para Patroli Langit akan mengejarmu dan meninggalkan mereka. Ernest mendapatkan
apa yang ia cari, dan ia bebas tanpa mengotori tangannya. Licik sekali.”
Feliks mengepalkan tangannya karena marah.
“Sayangnya, aku kurang bukti. Ini hanya asumsi sementara. Masalahnya,
bagaimana Ernest bisa tahu lokasi Galang? Tentu dari Pandora! Dan lagi, sehabis
ini ia akan menyerang Penjaga Langit yang lain. Mari, Wafee, mereka berada
dalam bahaya.”
“Apakah kita akan berperang?” Tanya Firly.
Feliks mengangkat alis. “Aku belum tahu. Namun mengingat apa yang terjadi
di Jakarta, sepertinya iya.”
***
Ernest sampai di Jupiter setelah dua bulan perjalanan dari bumi. Planet
itu penuh dengan badai. Membuatnya merasa seperti di rumah. Namun sayangnya,
rumahnya yang sebenarnya bukanlah di sini. Bumi. Itu satu-satunya tempat yang
ia inginkan.
Ernest hanya bisa menunggu tubuhnya kembali sembuh. Ia dan Hacep
mempunyai 10 tahun untuk beristirahat, dan berlatih demi mencegah dirinya
terkena serangan maut seperti kemarin. Ia salah perkiraan. Ia menghadapi Galang
di tengah-tengah atmosfir. Jelas ia beruntung karena bisa menang dalam
pertarungan tersebut.
“Bos, mengapa manusia tinggal di bumi? Bukan di Jupiter saja. Padahal di
sini enak.” Hacep terbang mengelilingi bosnya itu.
“Cih. Kau bercanda, Cep? Hanya ada satu kehidupan fana dalam satu
galaksi, kau tahu? Di milkway, Bumi lah tempatnya. Kehidupan fana dan
transendental akan terus berdampingan di tiap galaksi.”
“Ya, namun aku penasaran. Bisakah kita pergi ke galaksi lain untuk
melihat kehidupan fana selain manusia, bos?”
Ernest menggelengkan kepala. “Hanya Sang Cahaya yang bisa. Hubungan antar
galaksi hanya bisa dilakukan oleh Cahaya, Cep. Mereka kuat dan cepat. Kita akan
mati duluan sebelum sampai ke galaksi lain.”
“Berarti Papa bisa melakukannya?” Hacep bertanya.
“Cih. Kakek tua itu memang kuat. Dia pemimpin Penjaga Langit. Apa yang
tidak bisa dilakukannya?” Ernest membuang ludah, seperti merasa jijik.
“Kau harus bisa mengalahkannya, bos.”
“Ya, itu yang sedang kupikirkan. Bagaimana aku bisa mengalahkan orang
sekuat itu.”
“Pakai strategi itu, bos.”
Ernest mengangguk. “Sementara ini, itulah opsi terbaik kita. Mungkin aku
butuh persiapan seratus tahun untuk bisa mengalahkannya. Kita lihat saja.”
Hacep mengajak bosnya itu untuk ber-high five.
***
“Kalau begitu, bisakah aku kembali menjadi makhluk trransendental?
Menjadi Awan kembali?” Firly bertanya kepada Feliks.
Pria tersebut menggelengkan kepalanya.
“Kau sedang menjalani hukuman sampai...”
“...Seumur hidup! Ya! Aku mengerti! Aku akan menjadi manusia selamanya.”
Firly memotong.
“Tidak, tapi sampai aku bisa membuktikan bahwa kau tidak bersalah. Setelah
itu, akan kita cabut bersama hukuman tersebut dan membuatmu kembali menjadi
Lady Hans of the cloud.”
“Kau janji?”
“Tentu saja.”
Feliks memeluk Firly. Membiarkan wanita itu melepaskan semua kesalnya.
Feliks melepas pelukan itu setelah Firly tenang. “Sekarang, aku butuh
Robby, ia perlu tahu semua yang terjadi. Dan dalam waktu dekat, aku harus
mempersiapkannya untuk menjaga Atmosfir.”
Firly mengangguk.
***
Berita besar.
Hari itu, para penduduk langit dikejutkan oleh berita deklarasi perang
oleh Sand Badai, juga tentang kematian Galang Sang Atmosfir. Beberapa awan
tampak terguncang karena mereka kehilangan pemimpinnya. Makhluk-makhluk
transendental tersebut berduka. Tidak hanya di langit, namun juga di laut dan
di darat.
Pulau-pulau mikronesia menangis. Galang adalah orang besar,
menurut mereka. Gugusan kepulauan itu sangat kehilangan. Angin muson berhembus
agak dingin, mereka masih tak percaya dengan kepergian bos mereka. Awan-awan,
semua berjalan pelan sekarang. Tampak seperti iring-iringan jenazah yang
mengantarkan duka ke seluruh penjuru bumi.
Namun tak lama kemudian, muncul berita yang tak kalah besar.
Robby, terpilih untuk menjadi penerus Galang. Robby, anak dari Galang
Sang Atmosfir dan Lady Hans of the cloud—seorang pengkhianat yang diampuni oleh
Galang dengan memakai haknya sebagai Penjaga Langit.
Makhluk-makhluk transendental pun terpecah menjadi dua golongan.
Ada yang setuju dan tidak setuju. Mereka yang setia berada di sisi Galang
mendukung Robby untuk menggantikan sang ayah. Namun ada pula mereka yang tidak
setuju karena Galang menjaga si pengkhianat dan Robby adalah hasil dari kecerobohan
Galang tersebut.
Berita ini menyebar dengan cepat. Seluruh penjuru bumi sekarang mengenal
Robby. Bagaimana tidak? Penjaga Langit adalah jabatan tertinggi dalam susunan sosial
makhluk transendental. Dan seorang anak kecil kini menjadi calonnya.
Semua penghuni langit mendukung Robby. Mereka kini akan mempunyai
pemimpin baru.
Golongan yang tidak setuju hanyalah makhluk transendental yang berada di
laut dan daratan. Mereka tidak ada kaitan emosi dengan Galang. Pemimpin mereka
adalah Wafee dan Mari. Jadi mereka menganggap bahwa langkah Galang untuk
menjaga seorang pengkhianat semaca Lady Hans adalah salah, dan menjadikan
anak mereka sebagai penerus Galang juga adalah langkah yang salah.
However, ini adalah sebuah awal baru.
***
Sembilan tahun yang lalu.
Mauna Loa menyelundupkan kunci Pandora yang harusnya ia jaga keluar. Kini,
mereka sudah selangkah lebih maju untuk membawa bos mereka ke Pandora itu
sendiri. Mariana, si palung, telah mengintai selama beberapa bulan untuk tahu
lokasi persis dari Pandora, mengingat bahwa ia terletak di Samudra Pasifik.
“Ayo, kawan.” Mereka menyelundup ke koordinat 48° LS
125° BB , tempat yang disebut “titik
nemo” karena merupakan lokasi lautan yang terjauh dari daratan. Di sinilah
lokasi dari Pandora, seperti yang sudah diteliti oleh Mariana.
Mariana
mendentum kecil, membuat air laut sedikit naik. Mereka berlindung di belakang
ombak setinggi 3 meter untuk sampai di titik nemo. Setelah itu, dengan
menggunakan kamuflase kabut dari badai kecil buatan Ernest, mereka berhasil
masuk tanpa terlihat dan sampai di depan Pandora.
“Kabut dari badaiku
bisa mengamuflase-kan kita selama 5 manit. Setelah itu, kita akan langsung
pergi dari sini.” Ernest berkata.
Mauna Loa dan
Kilimanjaro berjaga di sekeliling. Mereka menggunakan celah 5 menit yang kosong
dari Patroli laut. Waktu yang sempit ini sudah dihitung oleh Mariana. Inilah satu-satunya
kesempatan mereka.
Ernest yang meemgang
kunci Pandora sudah siap di depan kotak pengetahuan tersebut. Pandora terbuka.
Ernest menatap ke dalamnya dengan cepat. Ia terhanyut oleh kekuatan kotak
tersebut. Pandora bisa mengendalikan pikiran kita hingga tenggelam di alam
bawah sadar. Singkatnya, membuat orang yang melihatnya “jatuh ke alam mimpi”
dan tidak bisa kembali lagi ke dunia nyata. Namun, sebagai seorang Penjaga
Langit, tak lama kemudian Ernest bisa mengendalikan diri.
Ernest menggunakan penglihatan yang didapatkanya di dalam Pandora untuk
mengetahui lokasi dari Galang, Wafee, Mari, dan Papa. Selanjutnya, ia
mengumpulkan beberapa informasi penting lain. Senjata kuno, hubungan antar
galaksi, hingga tempat-tempat tersembunyi di Bumi yang hanya diketahui oleh
Wafee dan Mari sebagai penjaganya.
Setelah 3 menit berlalu, Mauna Loa menghampiri sang bos.
“Gawat! Patroli laut! 150 km dari sini dan terus mendekat.”
Ernest mau tidak mau harus mengakhiri proses transfer informasi itu dan
segera melesat di udara. Ernest menuju palung Mariana, Mauna Loa kembali ke
Hawaii, dan Kilimanjaro menuju ke barat. Membawa kunci Pandora bersamanya.
***
Patroli laut melihat sosok yang keluar dari Titik nemo dengan cepat. Pasukan
itu segera mengejar sosok tersebut ke barat. Mereka tidak tahu bahwa itu adalah
umpan. Sementara penjahat yang sebenarnya sudah berlindung di laut yang
terdalam.
***
Kilimanjaro menjadi umpan demi membuat bos-nya selamat. Ia menuju ke
barat—ke Afrika, tempatnya berada. Dan tepat ketika ia melewati Asia Tenggara,
Gunung api terbesar di dunia itu menyisipkan kunci Pandora yang ia pegang ke tangan
seseorang yang sedang terbang di sana.
Lady Hans of The Cloud.
Kilimanjaro sampai dengan selamat di Afrika, sementara Para Paroli laut
dan langit menangkap seseorang yang tidak bersalah di belakangnya.
Skenario yang
sempurna.
***
Robby menatap seorang pria berjas di depannya dengan perasaan takut.
“Kau siap, nak?” Feliks berkata.
Yang ditanya memandang sosok ibunya lagi. Sang ibu tersenyum.
Feliks memegang tangan Robby. Seketika, pikiran anak itu membara. Ke tempat
yang selama ini belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
Bersambung

Tidak ada komentar:
Posting Komentar