Rabu, 30 Desember 2015

#Serial Sang Badai Eps 3

Waktu membaca: 5-7 menit
Sembilan tahun yang lalu.
Semua berkumpul. Ada sebuah agenda besar yang akan dibahas. Tampak beberapa sosok penting seperti Mauna Loa—gunung api terbesar di Hawaii, Kilimanjaro—gunung api tertinggi di dunia, juga Mariana—palung terdalam di dunia. Mereka menunggu sang pemimpin yang akan segera datang.
Tak lama, muncul sebuah sosok dengan burung kakaktua di pundaknya.
“Salam, kawan-kawan.”
“Selamat datang, bos.”
Mariana tampak gelisah. Ia sepertinya tidak ingin ikut ambil bagian dalam rencana ini. Namun, apa boleh buat. Ia terpaksa.
“Bagaimana rencana kita untuk membuka Pandora?”
Suara Ernest yang berat membuat suasana menjadi sangat serius.
“Kami telah membuat skenario, bos.” Kali ini Mauna Loa yang berbicara.
Ernest mengelus-elus dagu. “Kalian tahu betapa pentingnya hal ini. Melalui Pandora, aku bisa melihat di mana lokasi para penjaga langit. Aku juga bisa mengukur kekuatanku bila ingin menyerang mereka. Jadi, misi ini tak boleh gagal.”
Semua mengangguk.
“Aku adalah penjaga kunci Pandora. Untuk beberapa jam, aku bisa mengelabui para Dewan langit dan membawa pergi kunci itu. Namun masalahnya adalah, sang penjaga Pandora itu sendiri.”
“Kami akan mencoba untu mengelabuinya dan membawa bos ke sana untuk mengintip Pandora. Ini harus dilakukan dengan sangat cepat. Lalu sehabis itu, kita pergi.”
Ernest mengangguk-angguk. “Tunggu. Siapa penjaga kotak Pandora itu sendiri?”
Semua saling berpandangan.
“Samudra Pasifik, bos.”
Ernest meneguk ludah.
***
“Asumsi kami, Ernest berkomplotan dengan beberapa gunung api dan juga palung untuk mengintip Pandora di samudra pasifik. Pandora adalah “kotak penglihatan”, ada juga yang menyebutnya “kotak pengetahuan”. Bila kau melihat ke dalamnya meski hanya beberapa detik, pengetahuanmu akan bertambah sangat banyak. Itulah harta karun sebenarnya. Sakral. Sangat berbahaya.”
“Setelah mereka berhasil mengintip Pandora, entah apa yang terjadi, mereka menghadapi masalah.”
“Mungkin mereka ketahuan, sehingga Ernest memakaimu yang sedang lewat untuk menjadi tumbal. Dan mereka bisa bersembunyi di salah satu palung di sana. Dugaanku, mereka bersemunyi di Palung Mariana. Palung terdalam di Dunia.”
Firly menarik napas. Semua mulai masuk akal.
“Setelah kunci Pandora berhasil mereka pindahkan ke tanganmu, otomatis para Patroli Langit akan mengejarmu dan meninggalkan mereka. Ernest mendapatkan apa yang ia cari, dan ia bebas tanpa mengotori tangannya. Licik sekali.”
Feliks mengepalkan tangannya karena marah.
“Sayangnya, aku kurang bukti. Ini hanya asumsi sementara. Masalahnya, bagaimana Ernest bisa tahu lokasi Galang? Tentu dari Pandora! Dan lagi, sehabis ini ia akan menyerang Penjaga Langit yang lain. Mari, Wafee, mereka berada dalam bahaya.”
“Apakah kita akan berperang?” Tanya Firly.
Feliks mengangkat alis. “Aku belum tahu. Namun mengingat apa yang terjadi di Jakarta, sepertinya iya.”
***
Ernest sampai di Jupiter setelah dua bulan perjalanan dari bumi. Planet itu penuh dengan badai. Membuatnya merasa seperti di rumah. Namun sayangnya, rumahnya yang sebenarnya bukanlah di sini. Bumi. Itu satu-satunya tempat yang ia inginkan.
Ernest hanya bisa menunggu tubuhnya kembali sembuh. Ia dan Hacep mempunyai 10 tahun untuk beristirahat, dan berlatih demi mencegah dirinya terkena serangan maut seperti kemarin. Ia salah perkiraan. Ia menghadapi Galang di tengah-tengah atmosfir. Jelas ia beruntung karena bisa menang dalam pertarungan tersebut.
“Bos, mengapa manusia tinggal di bumi? Bukan di Jupiter saja. Padahal di sini enak.” Hacep terbang mengelilingi bosnya itu.
“Cih. Kau bercanda, Cep? Hanya ada satu kehidupan fana dalam satu galaksi, kau tahu? Di milkway, Bumi lah tempatnya. Kehidupan fana dan transendental akan terus berdampingan di tiap galaksi.”
“Ya, namun aku penasaran. Bisakah kita pergi ke galaksi lain untuk melihat kehidupan fana selain manusia, bos?”
Ernest menggelengkan kepala. “Hanya Sang Cahaya yang bisa. Hubungan antar galaksi hanya bisa dilakukan oleh Cahaya, Cep. Mereka kuat dan cepat. Kita akan mati duluan sebelum sampai ke galaksi lain.”
“Berarti Papa bisa melakukannya?” Hacep bertanya.
“Cih. Kakek tua itu memang kuat. Dia pemimpin Penjaga Langit. Apa yang tidak bisa dilakukannya?” Ernest membuang ludah, seperti merasa jijik.
“Kau harus bisa mengalahkannya, bos.”
“Ya, itu yang sedang kupikirkan. Bagaimana aku bisa mengalahkan orang sekuat itu.”
“Pakai strategi itu, bos.”
Ernest mengangguk. “Sementara ini, itulah opsi terbaik kita. Mungkin aku butuh persiapan seratus tahun untuk bisa mengalahkannya. Kita lihat saja.”
Hacep mengajak bosnya itu untuk ber-high five.
***
“Kalau begitu, bisakah aku kembali menjadi makhluk trransendental? Menjadi Awan kembali?” Firly bertanya kepada Feliks.
Pria tersebut menggelengkan kepalanya.
“Kau sedang menjalani hukuman sampai...”
“...Seumur hidup! Ya! Aku mengerti! Aku akan menjadi manusia selamanya.” Firly memotong.
“Tidak, tapi sampai aku bisa membuktikan bahwa kau tidak bersalah. Setelah itu, akan kita cabut bersama hukuman tersebut dan membuatmu kembali menjadi Lady Hans of the cloud.”
“Kau janji?”
“Tentu saja.”
Feliks memeluk Firly. Membiarkan wanita itu melepaskan semua kesalnya.
Feliks melepas pelukan itu setelah Firly tenang. “Sekarang, aku butuh Robby, ia perlu tahu semua yang terjadi. Dan dalam waktu dekat, aku harus mempersiapkannya untuk menjaga Atmosfir.”
Firly mengangguk.
***
Berita besar.
Hari itu, para penduduk langit dikejutkan oleh berita deklarasi perang oleh Sand Badai, juga tentang kematian Galang Sang Atmosfir. Beberapa awan tampak terguncang karena mereka kehilangan pemimpinnya. Makhluk-makhluk transendental tersebut berduka. Tidak hanya di langit, namun juga di laut dan di darat.
Pulau-pulau mikronesia menangis. Galang adalah orang besar, menurut mereka. Gugusan kepulauan itu sangat kehilangan. Angin muson berhembus agak dingin, mereka masih tak percaya dengan kepergian bos mereka. Awan-awan, semua berjalan pelan sekarang. Tampak seperti iring-iringan jenazah yang mengantarkan duka ke seluruh penjuru bumi.
Namun tak lama kemudian, muncul berita yang tak kalah besar.
Robby, terpilih untuk menjadi penerus Galang. Robby, anak dari Galang Sang Atmosfir dan Lady Hans of the cloud—seorang pengkhianat yang diampuni oleh Galang dengan memakai haknya sebagai Penjaga Langit.
Makhluk-makhluk transendental pun terpecah menjadi dua golongan.
Ada yang setuju dan tidak setuju. Mereka yang setia berada di sisi Galang mendukung Robby untuk menggantikan sang ayah. Namun ada pula mereka yang tidak setuju karena Galang menjaga si pengkhianat dan Robby adalah hasil dari kecerobohan Galang tersebut.
Berita ini menyebar dengan cepat. Seluruh penjuru bumi sekarang mengenal Robby. Bagaimana tidak? Penjaga Langit adalah jabatan tertinggi dalam susunan sosial makhluk transendental. Dan seorang anak kecil kini menjadi calonnya.
Semua penghuni langit mendukung Robby. Mereka kini akan mempunyai pemimpin baru.  
Golongan yang tidak setuju hanyalah makhluk transendental yang berada di laut dan daratan. Mereka tidak ada kaitan emosi dengan Galang. Pemimpin mereka adalah Wafee dan Mari. Jadi mereka menganggap bahwa langkah Galang untuk menjaga seorang pengkhianat semaca Lady Hans adalah salah, dan menjadikan anak mereka sebagai penerus Galang juga adalah langkah yang salah.
However, ini adalah sebuah awal baru.
***
Sembilan tahun yang lalu.
Mauna Loa menyelundupkan kunci Pandora yang harusnya ia jaga keluar. Kini, mereka sudah selangkah lebih maju untuk membawa bos mereka ke Pandora itu sendiri. Mariana, si palung, telah mengintai selama beberapa bulan untuk tahu lokasi persis dari Pandora, mengingat bahwa ia terletak di Samudra Pasifik.
“Ayo, kawan.” Mereka menyelundup ke koordinat 48° LS 125° BB , tempat yang disebut “titik nemo” karena merupakan lokasi lautan yang terjauh dari daratan. Di sinilah lokasi dari Pandora, seperti yang sudah diteliti oleh Mariana.
Mariana mendentum kecil, membuat air laut sedikit naik. Mereka berlindung di belakang ombak setinggi 3 meter untuk sampai di titik nemo. Setelah itu, dengan menggunakan kamuflase kabut dari badai kecil buatan Ernest, mereka berhasil masuk tanpa terlihat dan sampai di depan Pandora.
“Kabut dari badaiku bisa mengamuflase-kan kita selama 5 manit. Setelah itu, kita akan langsung pergi dari sini.” Ernest berkata.
Mauna Loa dan Kilimanjaro berjaga di sekeliling. Mereka menggunakan celah 5 menit yang kosong dari Patroli laut. Waktu yang sempit ini sudah dihitung oleh Mariana. Inilah satu-satunya kesempatan mereka.
Ernest yang meemgang kunci Pandora sudah siap di depan kotak pengetahuan tersebut. Pandora terbuka. Ernest menatap ke dalamnya dengan cepat. Ia terhanyut oleh kekuatan kotak tersebut. Pandora bisa mengendalikan pikiran kita hingga tenggelam di alam bawah sadar. Singkatnya, membuat orang yang melihatnya “jatuh ke alam mimpi” dan tidak bisa kembali lagi ke dunia nyata. Namun, sebagai seorang Penjaga Langit, tak lama kemudian Ernest bisa mengendalikan diri.
Ernest menggunakan penglihatan yang didapatkanya di dalam Pandora untuk mengetahui lokasi dari Galang, Wafee, Mari, dan Papa. Selanjutnya, ia mengumpulkan beberapa informasi penting lain. Senjata kuno, hubungan antar galaksi, hingga tempat-tempat tersembunyi di Bumi yang hanya diketahui oleh Wafee dan Mari sebagai penjaganya.
Setelah 3 menit berlalu, Mauna Loa menghampiri sang bos.
“Gawat! Patroli laut! 150 km dari sini dan terus mendekat.”
Ernest mau tidak mau harus mengakhiri proses transfer informasi itu dan segera melesat di udara. Ernest menuju palung Mariana, Mauna Loa kembali ke Hawaii, dan Kilimanjaro menuju ke barat. Membawa kunci Pandora bersamanya.
***
Patroli laut melihat sosok yang keluar dari Titik nemo dengan cepat. Pasukan itu segera mengejar sosok tersebut ke barat. Mereka tidak tahu bahwa itu adalah umpan. Sementara penjahat yang sebenarnya sudah berlindung di laut yang terdalam.
***
Kilimanjaro menjadi umpan demi membuat bos-nya selamat. Ia menuju ke barat—ke Afrika, tempatnya berada. Dan tepat ketika ia melewati Asia Tenggara, Gunung api terbesar di dunia itu menyisipkan kunci Pandora yang ia pegang ke tangan seseorang yang sedang terbang di sana.
Lady Hans of The Cloud.
Kilimanjaro sampai dengan selamat di Afrika, sementara Para Paroli laut dan langit menangkap seseorang yang tidak bersalah di belakangnya.
Skenario yang sempurna.
***
Robby menatap seorang pria berjas di depannya dengan perasaan takut.
“Kau siap, nak?” Feliks berkata.
Yang ditanya memandang sosok ibunya lagi. Sang ibu tersenyum.
Feliks memegang tangan Robby. Seketika, pikiran anak itu membara. Ke tempat yang selama ini belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar