Kamis, 17 Desember 2015

#Cerpen Keras Kepala

Waktu membaca: 7-9 menit

Deny menaiki eskalator secara perlahan. Barang bawaannya begitu berat sehingga terkadang—di beberapa bagian—agak menyulitkan. Siang itu, bandara terlihat ramai. Ratusan orang hilir mudik di sana. Dari atas ke bawah. Dari bawah ke atas. Dari dalam keluar. Dan dari luar ke dalam. Beberapa penerbangan domestik tampak sibuk dengan para penumpang. Semenjak adanya tarif penerbangan murah, mereka jadi kebanjiran penumpang. Jadi terkadang, kalau mau beli tiket, bahkan harus menunggu hingga satu tahun, karena tiket sudah dibooking semua. Ah, memang payah.

“Permisi, Deny ya?” tanya seorang perempuan muda yang tak dikenalinya.


“I…iya, anda siapa ya?” Deny balik bertanya. Ia sepertinya pernah melihat wajah perempuan tersebut.

“Ini gue, Nessa. Inget gak? Kita ketemu pas tes beasiswa waktu itu!” Perempuan tersebut berkata.

“Ohh… iya! Gue inget. Gila, itu kan udah tiga tahun yang lalu. Lu masih inget gue aja,” Deny tersenyum. Ia ingat kawan lamanya itu. Dulu, mereka tes bareng untuk dapat beasiswa ke Amerika. Namun sayangnya, mereka berdua gagal.

“Ngapain lu ke sini Den?” tanya Nessa.

“Gua pengen berangkat Nes, hehe,” Deny cengar-cengir.

“Wah..wah.. kemana? Dapet beasiswa juga nih?” Nessa bertanya kagum.

“Iya nih, dapet ADS. Gua berangkat ke Australia sekarang. Lu ngapain?” Deny menjawab.

“Gue? Gue dapet ADS juga! Hahaha, satu penerbangan kita!” Nessa tertawa.

“Wah! Hebat lu, gak nyangka gue. Kampus mana?”

“Biasa, UoS (University of Sydney) kalo lu?”

“Gue di Adelaide. Hehe, kita ngumpul di mana nih?” Tanya Deny.

“Ntar juga dipanggil dah. Tunggu aja. Eh, btw, lu sama siapa?”

“Sendiri gua mah. Tadinya anak panti pada mau ikut. Tapi mau naek apa? Gak ada kendaraan euy.”

“Wah… gue jadi kangen sama panti dah.”

“Udah lama lu gak maen… eh, lu juga sendiri?”

“Enggak, gue ditemenin ama Ibu gue. Tadi sih lagi ke kamar mandi, tau dah belom balik-balik sampe sekarang.”

“Ohh…”

Jam 13.00, bandara Soe-ta masih saja ramai. Sepertinya 24 jam pun bandara itu takkan sepi. Maklum, bandara terbesar di Indonesia. Deny dan Nessa memutuskan untuk duduk di dekat jendela besar yang memperlihatkan lintasan pesawat terbang. Karena, selain pemandangannya bagus, mereka juga bisa mendengar lebih jelas bila mereka dipanggil.

Tak lama kemudian, ibunya Nessa datang. Beliau memakai baju terusan berwarna cerah dan kerudung motif yang sesuai dengan warna bajunya.

“Eh, Nes? Kamu belom dipanggil?” Tanyanya pada sang anak.

“Belom bu, sebentar lagi kayaknya. Oh iya bu, ini Deny, temen Nessa yang waktu itu sempet nginep di rumah,” ujar gadis itu seraya menyikut Deny.

“Deny bu…” Cowok itu tersenyum.

“Deny…Deny… kayaknya ibu pernah liat kamu deh,” kata sang ibu.

“Iya bu, mungkin ibu agak lupa, dia kan maen ke rumah 3 tahun yang lalu. Pas yang kata kehujanan itu loh…” Ujar Nessa.

“Ohh.. iya ibu inget. Kamu Deny yang waktu itu pulang bareng Nessa kan? Yang abis tes beasiswa apa waktu itu Nes?”

“Amerika bu,” jawab Deny.

“Ah iya itu, ibu inget. Kamu ngapain juga Den di sini? Berangkat juga? Dapet beasiswa?” Tanya sang ibu.

“Iya bu, kebetulan saya dapet beasiswa juga ke Australia, sama kayak Nessa tapi kampusnya beda,” jelas Deny.

“Oh, iya deh syukur kalo gitu,” ibu Nessa tersenyum.

Kepada para penerima beasiswa ADS, diharapkan berkumpul di gerbang 3 sekarang juga. Diulangi, kepada seluruh….

“Ah itu kita dipanggil!” ujar Nessa.

“Iya Nes, yuk! Ayo Den, ikut sekalian.”

“Iya bu,” Deny mengangkat kopernya yang tadi direbahkan. Mengikuti Nessa dan ibunya yang berjalan duluan.

“Ah, andai saja tidak ada itu…” ujarnya dalam hati.

***

3 tahun yang lalu.

Deny berjalan melewati pintu sebuah gedung bertingkat. Masuk ke dalam aula yang sangat besarmenurutnya. Di sana, sudah ada puluhan siswa lain yang bersiap mengikuti tes. Termasuk dirinya, ada sekitar 60 peserta lain.

 Ia menyocokkan nomer yang didapatkan saat melakukan daftar ulang ke bangku yang ada. 421. Hmm.. sepertinya ia berada di belakang banget deh. Namun ternyata hitungan dimulai dari angka 400 sehingga ia duduk tidak terlalu di belakang juga.

“Ahh… sampai juga…” Deny berkata saat ia sudah duduk.

Di sampingnya duduk pula seorang gadis yang cukup manis. Ia sedang membaca sebuah buku. Hei! Itu novel.

“Heh! Kok malah baca novel?” Tanya Deny.

“Terus? Masalah buat lo?” Tanya balik sang gadis.

“Ya kan sekarang mau tes, masa lu gak belajar?”

“Lu sendiri? Bukannya belajar malah nyeramahin gue,” jawabnya jutek.     

“Ya, kan kita harus saling mengingatkan. Bener kan… Ness… Nessa?” Deny mengeja kartu peserta yang ditempel di dada kanan gadis tersebut.

“Iya, Deny!” Katanya.

“Loh, kok lu bisa tau nama gue Deny? Kan gue…”

“Tadi gue dah baca name tag lu.”

“Ohh… iya, jadi harus belajar biar lulus, kan?”

Gadis itu berhenti membaca dan menurunkan bukunya,” Lo kira walaupun lu belajar bakal ngejamin lu lulus?”

“Ya… gak juga sih.. tapi…”

Gadis itu tak menanggapi. Sebuah perkenalan yang kurang baik sepertinya.

***

Tes dimulai.

Semua peserta terlihat sangat serius mengerjakan tiap soal di sana. Tes untuk mendapatkan beasiswa ke Amerika itu memang tergolong cukup sulit. Terutama bagi Deny, yang kemarin baru saja mengikuti ujian persamaan paket C. Mungkin, ya sangat kecil kemungkinannya untuk lulus menghadapi persaingan yang begitu ketat ini.

Sementara itu berbeda dengan Nessa. Gadis itu sama sekali tidak mementingkan tes ini. Baginya, cita-cita itu sangat sederhana.

Menikah dengan orang kaya.

Ya, sederhana, jelas, dan juga realistis. Walaupun mungkin agak naif juga. Ibunya menginginkan agar ia berkuliah dengan baik, menjadi orang yang berguna bagi lingkungan sekitarnya. Dan pekerjaan? Terserah apa saja, asalkan semua itu memberi manfaat. Tapi Nessanya tidak mau. Ia hanya terpaksa juga mengikuti tes bodoh macam ini. Walaupun sebenarnya ia anak yang cerdas.

“Eh, gua liat punya lu dong,” ucap Nessa di tengah ujian pada Deny.

“Enak aja! Gua berusaha nih. Udah belajar, masa lu minta gitu aja?” Deny berusaha menjelaskan sepelan mungkin.

“Dikit doang… plis dah, ntar gua bisa dimarahin ibu gua. Kalo dia kecewa, lu tau kan gua ntar dosa banget karena durhaka?” Nessa memberi argumen.

“I…iya sih, tapi tetep aja! Gak mau ah!”

“Huh! Keras kepala!” Nessa mengumpat.

Apa?” Deny berkata.

“Keras kepala!” Ulang Nessa.

Kemudian tiba-tiba Deny berubah pikiran.

“Baiklah,” cowok itu menulis di sebuah kertas kecil, jawaban dari pilihan ganda yang sudah ia kerjakan,” nih!”

“Makasih! Lu baik banget!” Nessa tersenyum bahagia. Akhirnya ia tak jadi kena marah oleh ibunya. Ternyata hoki juga deket cowo bego kayak gini, batinnya, tapi kok dia bisa berubah pikiran secepat itu ya? Ah tau ah, bodo amat. Yang penting gue dapet jawabannya.

Jawaban itu, jawaban yang sama sekali ngaco. Malah mungkin Nessa bisa menjawab lebih benar walau tanpa belajar sekalipun. Dasar, ternyata orang bodoh pun bisa mengelabui orang pintar yang malas.

“Eh, makasih yak! Sebagai tanda terima kasih gue pengen traktir lu!” Ujar Nessa pasa Deny setelah tes selesai.

“Wah, baik juga lu ternyata,” Deny menyeringai senang.

“Ah, biasa aja. Yuk!” Nessa menarik tangan Deny, mengajaknya berlari.

“Eh, mau kemana nih?!” Ujar Deny yang terpaksa mengikuti gadis itu berlari.

“Tenang aja, lu pasti suka!” Gadis itu tersenyum.

***

Rumah makan yang Nessa pilih begitu lenggang. Hanya ada mereka berdua dan beberapa pelanggan lain.

“Jadi, lu suka makan di sini?” Tanya Deny.

“Iya! Gua udah kenal sama pemilik tempatnya, lagian biasanya kalo gua kabur dari rumah juga nginepnya di sini. Hahaha!” Jelas Nessa.

“Ckckck, lu cewek tapi brutal banget dah kayaknya,” Deny menggelengkan kepala.

“Yah, tapi menurut orang-orang gua itu manis kok, malah ada yang bilang feminim malah. Tau tuh mereka liat darimana,” Nessa berkata.

“Pada buta kali ya, orang-orang. Hahaha!” Deny mengatai.

“Hahaha… tau tuh. Eh, itu makanannya dateng,” Nessa berbinar.

“Akhirnyaa..” Deny menggosokkan kedua telapak tangannya. Tanda bahwa ia sudah siap menyantap hidangan.

“Wah wah, Nessa dah punya pacar ternyata..” Ujar pelayan wanita itu.

Apa?! Gue?! Ama cowok brakadut kayak gini?? Mbak Geni, sori mbak, ini baru aja saya pungut dari pinggir jalan, jadi gak ada rencana deh buat macarin dia,” unggah Nessa.

“Eitsss… enak aja! Kan lu yang ntraktir gue ke sini! Masa gua dibilang pungutan?” Deny menyergah.

“Udahlah Nes! Gak usah berantem, gak enak ntar suasana restoran. Udah mbak doain ko biar kalian lenggang sampe mati dah. Aamiin…” Mbak Geni bercanda. Walalupun sebenarnya juga menenangkan situasi yang mulai tegang.

“Aamiin,” Deny tak sengaja juga berucap.

“Sialan lo!” Nessa menjitak kepala Deny.

“Aduduh! Gua kebiasaan ngaminin doa soalnya!” Deny melawan.

“Udah! Makan dulu sana! Mbak ke dapur dulu,” kata mbak Geni.

“Oke deh mbak!” Nessa tersenyum.

“Makasih doanya ya mbak!” Ucap Deny.

“Iiiih!”

“Aduduh…” Jitakan kedua sore itu.

***

Deny akhirnya menginap di rumah Nessa setelah berhujan-hujanan ria sebelumnya. Awalnya ia menolak, namun saat ibunya Nessa menyuruh, ia tidak berkutik. Terlalu hormat dan patuh sepertinya pada orang tua. Deny…. Deny…

Nessa berasal dari keluarga yang cukup kaya. Ayahnya sudah meninggal saat ia masih berusia 5 tahun, dan beliau meninggalkan harta peninggalan yang cukup banyak. Termasuk kontrakan 50 pintu yang menjadi sumber penghasilan utama mereka. Nessa hidup berdua saja dengan ibunya. Itulah mengapa sang ibu jadi sangat sayang kepada anak semata wayangnya ini.

Nessa tumbuh sebagai anak yang cerdas—semua tahu itu. Selalu mendapat rangking di kelas. Tetapi semenjak SMA, ia menjadi gadis yang berbeda. Semua kecerdasannya itu dipergunakan untuk hal-hal yang seperti kenakalan”, yang lebih suka disebut oleh Nessa sebagai “kreativitas.”

Lulus SMA sekarang ini, ibunya menyuruh untuk mencari beasiswa ke luar negri. Namun ia menolak. Awalnya sih yang begitu. Namun pada akhirnya Ia pun mau. Padahal sebenarnya, seperti yang sudah diceritakan awal-awal. Cita-citanya hanya satu. Dan sederhana.

Sementara Deny? Ia adalah alumni dari Panti Asuhan ‘sayang(i) kami’. Semenjak kecil ia tak mengetahui keberadaan keluarganya. Diasuh oleh panti tersebut dan disekolahkan. Sekarang, saat ia telah lulus SMA—paket c, ia pun mencari beasiswa. Tak tanggung-tanggung. Amerika Boi!

Deny selalu mempunyai impian yang jelas. Ia tak ingin menjadi orang biasa. Cita-citanya, menaklukkan dunia. Jelas kan? Hanya 2 kata. Menaklukkan. Dunia. Selesai.

Selama bertahun-tahun di panti asuhan, belum ada yang tertarik mengadopsinya, hingga sekarang, ia menjadi yang tertua di panti. Mengurus keperluan anak-anak dan juga membantu tetek bengek kebutuhan mereka. Itulah kerjaannya sehari-hari.

Deny, Nessa, bersyukurlah kalian telah dipertemukan, karena nanti….

Lihat saja apa yang akan terjadi.

***

“Nessa pergi ya bu!” Lambainya saat berjalan memasuki gerbang 3. Sang ibu di sana hanya bisa berdiri terpaku. Menatap anaknya yang sedang mengejar impian di negeri sebrang. Lebih tepatnya, mengejar bule kaya raya yang siapa tahu ingin mempersuntingnya.

“Iya, sayang,” sang ibu menahan tangis harunya. Seperti kehilangan dirinya sendiri. Darah dagingnya itu lah kebanggaannya. Satu-satunya. Dan ia telah berhasil. Sang ibu bangga.

“Deny pergi ya, bu!” Deny juga ikutan melambai.

“Iya Den! Jaga Nessa baik-baik ya! Jangan ada yang usilin!”

“Pasti bu!” Jawab Deny tersenyum, yang disusul oleh injakan kaki Nessa pada sepatunya.

“Aww! Kenapa sih lu Nes?” Deny protes, namun Nessa tetap diam. Ia hanya mengerutkan alisnya.

“Oke gua ngerti. Sori. Tapi gapapa kan kalau…. Aw!” Deny mendapat injakan kedua,” kalau gue… aw!” Ketiga.

“Kita bakal di pesawat. Kalau lu main-main, gua jatohin lu dari langit! Ngerti?” Ancam Nessa.

“Dari dulu galak lu gak berubah dah,” Deny cemberut,” tapi…Aw!”

Keempat dan terakhir, setidaknya untuk hari itu.

***

Nessa sensitif. Yah, mungkin kata itu cukup untuk menggambarkan sifatnya bila ada orang yang mengganggu. Seperti Deny, ia tak lain adalah seorang laki-laki bodoh yang beruntung, dan juga pekerja keras. Kebanyakan tindakan bodohnya itu selalu diprotes oleh Nessa. Entah dengan jitakan, atau injakan kaki. Dan yang benar-benar membuatnya bodoh. Ia ikhlas saja.

Kembali ke-3 tahun yang lalu.

Nessa jadi mengenal panti lewat ajakan Deny. Mereka sering bermain dengan anak-anak. Tentu saja, anak-anak juga senang. Apalagi kak Nessa-nya cantik. Mereka tambah senang.

Anak-anak panti sangat senang menerima hadiah, dan bila kak Nessa datang, ia pasti membawa hadiah, mulai dari permen, snack, ciki, dan lain sebagainya. Sekecil apapun hadiah itu anak-anak pasti menerimanya dengan bahagia. Ah, anak kecil memang selalu menghargai pemberian orang lain.

Nessa berhenti berkunjung ke sana saat bulan ketiga setelah perkenalannya dengan Deny. Rumahnya pindah, dari Jakarta ke Balikpapan. Ia tinggal di Kalimantan sekarang, sehingga akhirnya setelah itu, tak pernah lagi mengunjungi Panti tersebut. Ah, sayangnya…

Deny juga ditinggal. Meski sebenarnya tidak apa-apa sih, mereka kan bukan siapa-siapa. Namun bagaimana rasanya lah. Setelah akhirnya mereka berdua tak lolos seleksi beasiswa—karena Nessa menyontek ke Deny yang bodoh—mereka kembali ke kehidupan masing-masing. Deny hanya belajar dan mengurus Panti, dan Nessa, entah apa yang dilakukannya di Kalimantan sana.

Mereka baru bertemu saat ini. Saat sama-sama akan berangkat ke Australia. Tentu sangat mengejutkan. Andaikan anak Panti bisa melihat kak Nessa-nya lagi.

***

Pesawat take off. Penerbangan kali ini menuju ibukota Australia dahulu, Canberra, sebelum para penerima beasiswa diantar ke kampus mereka masing-masing. Deny duduk di samping Nessa. Yah, entah kebetulan atau apa, namun mereka selalu saja duduk berdampingan.

“Tau gak? Gua punya satu pertanyaan bodoh yang selalu pengen gua tanyain ke lo Den,” ucap Nessa memulai percakapan.

“Apaan Nes?”

“Itu, dulu waktu gua minta contekan sesat lu pas 3 tahun yang lalu, kenapa lu bisa tiba-tiba berubah pikiran saat gua bilang keras kepala?”

“Haha, pertanyaan itu ternyata. Eh, tau gak? Gua bahkan selama ini nungguin lo buat nanya itu ke gue! 3 tahun gua nunggu. Hahaha!” Deny tertawa.

“Jadi jawabannya apa?” Nessa bertanya lagi.

“Jawabannya? Cium gua dulu dong,” Deny menyodorkan pipi.

Plak!

“Lu kasih pipi, gua kasih tangan, udah dicium kan tuh?” Nessa berkata tak berdosa. Beberapa penumpang lain melihat tingkah mereka berdua keheranan.

“Yaelah gitu doang Nes,” Deny cemberut.

“Lu beneran pengen tau?” sambung Deny.

“Iya, asalkan lu gak bikin syarat yang aneh-aneh lagi,” jawab Nessa.

“Baiklah. Dengerin, tapi sebenarnya ini….. rahasia,” ucap Deny.

“Inget loh, gua gak mau ketipu 2 kali ama lu!” Nessa berkata.

“Iyeee, ini mah beneran tapinya,” ucap Deny.

“Kita itu… dulu pernah ketemu….” Sambungnya.

***

Dulu. Duluuuu banget. Pas Deny masih kecil. Sekitar umur 4 tahun lah. Sebuah keluarga kecil mendatangi panti-nya. Mencari seorang anak untuk diadopsi.

“Kami sedang mencari seorang anak umur 4 tahun-an untuk jadi teman main putri kami, Nessa. Kasihan ia tidak punya teman bermain yang seusianya,” ujar sang bapak.

“Oh, di sini kebetulan yang berumur 4 tahun hanya ada seorang. Namanya Deny, biar saya panggil dulu ya!” petugas panti itu masuk ke dalam dan segera keluar bersama seorang anak yang telah dikatakannya tadi.

“Ini Deny. Ayo den! Ucapkan salam ke keluarga Pak Muhaimin,” petugas panti itu tersenyum, namun Deny tak bergeming.

“Ayo Den, salam,” petugas panti itu menyuruhnya sekali lagi. Namun nihil.

“Halo Deny, ini ada ibu, kamu mau ucapkan salam kan?” Ucap ibunya Nessa lembut, membujuk agar sang anak mau membuka mulut.

“Ayoo…” Ujar petugas panti yang lain.

Namun Deny tetap diam, tak bergeming, tak acuh dengan semua bujukan itu. Kemudian tanpa disadari, Nessa, anak keluarga kecil itu berteriak.

“Keras kepala! Dasar keras kepala!” teriaknya,” aku gak suka!”

Orangtua gadis itu menyuruhnya bungkam. Itu tentu saja kata-kata yang cukup kasar bagi seorang anak berumur 4 tahun.

Namun itu pulalah yang selalu diingat Deny.

Keluarga tersebut tak jadi mengadopsi Deny. Juga atas pertimbangan bahwa putri mereka,. Nessa, takkan akur dengan sang laki-laki. Hal tersebut membuat Deny pupus. Ia tak punya keluarga selama ini. Dan kali ini, gagal untuk membuatnya menjadi bagian dari sebuah keluarga.”

“Keras Kepala!”

Deny teringat saat gadis itu mengatakannya di saat tes beasiswa. Gadis itu, Nessa, anak dari keluarga yang akhirnya tak jadi mengadopsinya. Yang mungkin, mereka sudah melupakannya dan panti tersebut. Sebuah kenyataan. Sebuah Long Term Memory atas sebuah kejadian yang tak disengaja.

Nessa, terkesima mendengarnya. Apa benar semua itu?

Iya? Deny tersenyum.

“Masih bisa gak, gue jadi anak dari ibu lu? Bukan adopsi….”

“Tapi bentuk anak yang lain…”

“Menantu gitu?”

PLAK!

--selesai—

Kuningan, 11 Agustus 2012

Baru aja ada satpam yang lewatt….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar