Selasa, 29 Desember 2015

#Cerpen Matematimil


Waktu membaca: 4-6 menit
Jadi seorang pelajar di Indonesia, adalah salah satu tantangan terberat di dunia.
Itu kata seorang pakar dari Kutub Utara yang aku lupa namanya. Kacau, dia bilang. Kau akan dipaksa untuk mempelajari banyak hal yang bahkan tidak dijelaskan tujuannya apa. Kami dijajah oleh kurikulum lucah berisi 19 mata pelajaran. Mereka tidak pernah memfokuskan satu atau dua saja keahlian kami untuk dikembangkan. Tidak seperti negara maju yang ingin kami senang dalam belajar. Mereka memaksa kami agar tahu semuanya. Mengesalkan.
Apalagi, dengan penjelasan garing dari pengajar yang tidak ikhlas memberi ilmu. Aku tidak akan memanggil mereka ‘guru’. Karena setahuku, guru itu mendidik. Baik di kelas, maupun di luar kelas. Sementara mereka hanya menjelaskan pelajaran di dalam kelas dan mengambil gaji atas 45 menit kehadiran mereka untuk membuat otak kami meledak.
Oh, silahkan hujat aku. Bilang saja aku anak yang tidak bersyukur atau apapun. Namun itulah yang sejujurnya kurasakan selama menjadi pelajar hingga kini.
Aku tidak pernah berniat sekolah. Yeah. Setidaknya sampai 2 minggu yang lalu.
Ceritanya begini...
***
Oh iya, cerita ini bukan tentang murid baru yang cantik dan sempurna, yang datang kemudian mengubah segalanya di hidupku. Itu sudah mainstream. Di cerita ini, akulah murid barunya.
2 minggu yang lalu aku pindah sekolah.
Bukan kemauanku, actually, namun kemauan bokap-nyokap. Mereka ingin membangkitkan lagi semangat belajarku. Secara diplomatis, aku pun menurut.
Sekolah baruku bernama SMA STAR. Aku belum pernah mendengar nama itu sebelumnya, namun pandangan meyakinkan ibu membuat keraguanku hilang. Soalnya aku tahu, ibu jarang salah.
Hari pertama itu, aku mengenalkan diri sebagai murid pindahan dari SMA ASIA. Lima menit aku bercerita tentang karakterku, kebiasaanku, dan tetek bengek lainnya. Akhirnya, aku pun duduk.
Kursiku berada di sayap kanan tengah kelas. Namun, ternyata kursi sebelahnya kosong. Kata Joko, yang duduk persis 2 bangku di belakang, pemilik kursi itu sedang tidak sekolah karena sakit.
Aku yang mencoba tidak kepo pun akhirnya hanya menjawab dengan anggukan. Lalu, pelajaran berjalan seperti biasa. Ternyata sekolah ini sama seperti yang lainnya. Biarlah. Mungkin semua sekolah di Indonesia memang seperti gini.
***
Tiga hari pertama sekolah, masih belum ada hal spesial yang terjadi. Malah, kurasa SMA ini benar-benar sama persis seperti SMA ASIA dulu. Kalau begini terus, nilai-nilaiku pasti akan stagnan di kisaran 5 ke bawah. Aku butuh suasana baru! Sistem baru! Ya! Aku butuh cara belajar yang baru untukku!
Masalahnya, tiap kali mereka mengajar, aku merasa ada yang tidak beres denganku. Entah pikiranku yang berjalan begitu lambat atau hal lainnya, yang jelas aku benar-benar susah menangkap pelajaran.
Tiga hari ini, teman sebangkuku masih saja absen.
Aku selalu sendirian saat pelajaran, meski saat istirahat teman yang lain juga cukup banyak. Namun tetap saja ketiadaan seseorang di sisiku saat pelajaran membuat segalanya berbeda.
Joko akhirnya memberitahuku nama si chairmate.
 Seorang gadis biasa yang dipanggil Timil.
Aku mengangguk-angguk mendengarnya. Tidak ada firasat sama sekali dengan gadis itu. Namun memang ada pertanyaan sedikit.
Sakit apa Timil hingga absen 3 hari lebih?
Hari selanjutnya, gadis itu masih belum muncul. Aku menggeleng-gelengkan dada. Gabungan dari perasaan khawatir, penasaran, dan tidak peduli.
Joko bergumam di belakangku.
“Si Timil sakit parah lagi kayaknya. Kasihan tuh anak.”
Telingaku merespon cukup baik. Sakit parah lagi?
Jam 11, setengah rasa penasaranku selesai. Timil datang ke sekolah. Wajahnya datar. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.
Kesan pertamaku melihatnya biasa-biasa saja. Wajahnya standar, sedikit lebih tinggi daripada nilai sekolahku. Namun ia cukup manis. Ada tahi lalat di pipi kirinya. Aku menyukai itu.
Saat itu Bu Risma sedang mengajar matematika. Ia datang, mencium tangan sang pengajar, lalu sedikit ditanya tentang kabarnya, dan akhirnya duduk di sebelahku.
Kulihat matanya sedikit kaget melihat sudah ada anggota baru di kelas ini. Aku mencoba biasa saja. Dan ia pun seperti itu. Jelas ada kekakuan di antara kita.
***
Dua hari berlalu.
Aku belum tahu penyakitnya sampai sekarang. Kami hanya bicara sepenggal-penggal. Saat meminjam tipe-x, atau penggaris. Saat minta diambilkan barang yang jatuh, atau barang yang sengaja dijatuhkan olehku.
Selesai belajar, biasanya ia mengobrol sedikit dengan perempuan lain, kemudian pergi entah ke mana. Ya, Timil seperti tidak punya teman dekat di sini. Dan yang lain pun seperti membiarkannya.
Pikiranku mengembara.
Apakah ini normal?
***
Kami kembali pada pelajaran Bu Risma. Matematika.
Hanya saat pelajaran inilah kulihat Timil kesulitan. Ia menggaruk-garuk kepala begitu keras, seakan ingin mengeruk otaknya dan menemukan titik cerah. Padahal hanya pelajaran “fungsi”, aku juga bisa.
Saat itulah kulihat telinganya memerah. Wajahnya mendadak pucat. Dan tangannya bergetaran. Aku tidak menyangka apa-apa awalnya. Karena memang setelah itu tidak ada yang terjadi. Beres pelajaran itu, ia kembali seperti biasa.
Datar. Dingin.
Ah, peduli setan.
***
Matematimil.
Manusia terhebat gak pernah takut sama ketakutannya.
Tulisan ini ditujukan buat mereka yang masih lari dan menyalahkan sesuatu yang gak sesuai keinginannya. Banyak yang seperti itu. Bahkan mungkin engkau. Bahkan mungkin aku.
Kleistropochus Matematini.
Itu nama penyakitku. Bisa dibilang, penyakit itu adalah kakak tertua dari perasaan “trauma”.
Penyakit itu membuatmu kalut saat menghadapi sebuah trauma. Kalutnya bisa parah. Sampai pingsan, bahkan kejang-kejang.
Namun dalam kasusku, saat penyakit itu kambuh, dia akan memicu penyakitku yang lain untuk kambuh juga. Itulah yang membuatku sakit-sakitan terus. Bahkan, dokter yang merawatku bilang kalau jantungku bisa mendadak berhenti karenanya. Seram, namun aku tidak takut.
Kalau kau bertanya aku trauma pada apa, jawabannya adalah Matematika.
Dulu, ada seorang guru yang sangat hebat, menurutku. Dia guru matematika. Dan dia mendidikku dengan sangat keren. Ia peduli, hangat, dan baik. Saking sayangnya ia padaku, ia mengatakan bahwa aku dan matematika tidak akan bisa dipisahkan untuk selamanya. Setelah itu, ia memanggilku Matematimil.
Guru itu sangat dekat denganku. Kami seperti kakak beradik saja. Sampai suatu ketika dia bunuh diri. Aku tidak tahu apa sebabnya, namun semua orang menuduhku karena saksi melihatku bersamanya terakhir kali. Memang, aku sedang mengunjungi rumahnya waktu itu, tapi aku tidak melakukan apa-apa!
Semenjak itu aku dikucilkan. Aku mencoba bertahan, meski dengan semua pandangan sinis orang-orang. Tegar, Timil, ujarku pada diri sendiri.
Aku juga jadi trauma dengan yang namanya matematika. Ia dan guru itu membuat karakterku terbunuh. Aku merasa dibunuh olehnya, meski guru itu telah mati.
Dan kini, biarlah semua itu berlalu. Aku akan tetap menghadapi matematika. Aku tidak akan lari darinya.
Siapapun kalian, jangan pernah lari dari yang kalian takuti.
***
Itulah post terakhir yang kubaca dari blog matematimil.com. Sebuah curahan hati yang terdalam dari gadis tersebut. Ya, aku baru tahu kalau kejadiannya seperti itu.
Untuk Timil, aku pun bertekad untuk menghiburnya besok di sekolah. Seram saja, pantas ketika sedang pelajaran matematika, air mukanya berubah. Penyakitnya bisa saja kambuh dan membuatnya sakit kembali. Jangan sampai itu terjadi.
Aku pun mematikan komputer. Iseng-iseng mencari namanya di google, malah ketemu dengan blog melankolis itu. Hahaha.
Baru saja ingin merebah diri, telepon genggamku berbunyi. SMS dari Joko.
Bro, Timil meninggal. Katanya sih waktu lagi belajar matematika di rumah.
Aku membanting handphone-ku. Sial! Terlambat!
-Done-
PS: Kleistropochus Matematini adalah penyakit yang berasal dari Kutub Utara
Dan Kutub Utara adalah konotasi kefiksian dalam cerpen ini
PS (2): Beberapa orang kadang tidak bisa membedakan, mana yang modus, mana yang karya sastra. Poor People.

2 komentar: