Bukan malam penuh hujan yang
membuatnya basah, namun serentetan peristiwa yang terjadi dua bulan ke belakang
ini. Harum berjalan gontai saja sepanjang malam. Pulang menuju kosannya tanpa
berusaha berteduh dari tembakan hujan dari langit.
Harum memeluk dirinya sendiri,
berusaha membunuh gigil yang membuatnya kedinginan. Gadis itu melihat ke
tanaman di pinggir jalan, menyapa mereka, dan tersenyum. Ia seakan bisa melihat
ke dalam serbuk sari dan putik yang bahkan dapat merajut cinta. Kontradiktif
dengan dirinya belakangan ini.
Ah, ia ingin beristirahat saja
rasanya.
Tak terasa, dua puluh langkah
lagi ia sampai di kosan tercinta.
***
“Ya Allah, Harum, kamu teh
kenapa kok hujan-hujanan?” Bu Kirana, sang pemilik kosan memeberi komentar saat
Harum masuk ke dalam.
“Hehe, iya bu, karena saya
gerah, jadi biar seger ujan-ujanan aja.”
Bu Kirana menggelengkan kepala.
“Ya tapi nanti kamu sakit. Sudah sana mandi, ganti baju, lalu istirahat. Jangan
sampe sakit ya!”
Harum mengangguk dan segera ke
kamarnya.
Bu Kirana pun mengambil pel dan
mengelap tetesan air yang jatuh dari pijakan kaki anak kosnya tersebut.
***
Benda paling rumit yang pernah
diciptakan Tuhan adalah hati manusia.
Bahkan di saat hati tersebut
sudah bersatu dengan yang lain, sekuat apapun ikatan dan rasa yang telah
tercipta, ada saja hal yang bisa memisahkan.
Harum rebahan di kasurnya sambil
masih mengelap kepalanya dengan handuk.
Ia gadis berjilbab, dan di kosannya pun ia lebih sering memakai
jilbabnya. Bukan apa-apa, tapi suka banyak teman laki-laki anak kosan lain yang
berkunjung. Biasa pada belajar bareng, nugas, atau hal lainnya.
Harum
menghembuskan napasnya lagi.
Dua
bulan yang lalu, masih teringat kata-kata dari Rahmat, atau Memet, atau gendut,
yang membuatnya menjadi seperti sekarang.
“Rum,
saya takut akan hilangnya berkah.”
Harum
sendiri sudah mahasiswa tingkat akhir. Dari awal kuliah sampai semester 7
sekarang ini ia ngekos di tempat Bu Kirana. Harum sudah seperti anak sendiri
bagi si ibu. Dulu, gendut ering mengantar atau menjemputnya di kosan, meski
tidak pernah berlama-lama juga.
Bu
Kirana sampai hapal, yang jaket abu-abu dengan rambut sebahu.
Motor
Supra hitam. Plat belakangnya EWE.
Haduh.
“Rum,
kamu kok cantik sih.” Habis bilang gitu, biasanya si gendut yang mukanya
memerah sendiri. Aneh memang dia.
“Ye
gendut gombal mulu.” Ia langsung memukul Rahmat dengan tasnya.
Jadi,
siapakah Memet atau Rahmat atau gendut ini?
Memet
adalah pacar Harum. Ya, setidaknya itu yang ia rasakan. Pacar bukanlah sesuatu
yang perlu dideklarasikan, namun terasa dari kedekatan dan kepedulian yang
timbul dari hubungan mereka. Dan seperti banyak orang lainnya, Harum dan Memet
berawal dari teman.
“Rum,
KRS udah beres belum? Jangan ditunda-tunda ketemu dosen walinya.”
“Iye
Dut, kamu juga tuh, dietnya yang bener elah.”
“Hehe.”
“Tawa
aja.”
“Nanti
nenek sedih kalo makanannya ga habis, Rum.”
Gendut
memang tinggal bersama neneknya. Mereka hanya tinggal berdua. Dan alasan klasik
Memet selalu untuk membahagiakan sang nenek. Makan masakannya dengan lahap.
Mereka
berteman sejak semester awal. Setelah itu baru terasa jadi pacar saat Harum
masuk semester lima.
“Kita
ini pacaran ya Dut?” Kata Harum suatu saat.
“Kayaknya
sih gitu.”
Mereka
dekat karena Harum pada awalnya sering meminta bantuan Memet untuk mengerjakan
tugasnya. Oh iya, Memet itu sudah S2, jurusan yang sama dengan Harum saat ini;
Hukum.
Mereka
bertemu juga tidak disengaja. Saat itu, Harum ingin berangkat ke kampus. Namun karena
agak telat, ia naik ojek dari pangkalan dekat kosannya.
Nah,
tukang ojeknya itulah si Memet.
Memet
menjadi berurusan kembali dengan Harum karena ternyata si Harum meninggalkan
tas kecilnya di gantungan motor Memet. Tas tersebut berisi tugas-tugas kuliah
yang harus dikumpulkan saat itu juga.
Jadilah
pada akhirnya Memet mengejar Harum. Namun ia sudah telat, Harum menghilang
entah ke mana. Memet sampai mencari-cari ke kelas-kelas. Tak disangka, kelas
yang dihadiri oleh Harum tersebut sedang diajar oleh dosen yang dulu pernah ia
asisteni.
Memet,
karena sudah kenal dengan si dosen, segera ijin masuk. Ia mengatakan bahwa salah
satu murid si ibu dosen ada yang ketinggalan tas kecil di motornya.
“Loh
kok bisa? Emang kalian apa?” Bu Dosen agak takjub.
“Hehe,
iya bu, tadi dia ngojek sama saya.”
Tawa
si ibu menggelegar.
“Oh
iya ibu sampe lupa, kamu itu tukang ojek juga ya.” Si ibu berkata sambil
kesusahan. Mahasiswa di kelasnya agak kurang mengerti sampai pada akhirnya ia
menjelaskan.
“Perkenalkan,
guys, ini Memet, mahasiswa pasca sarjana hukum yang dulu pernah jadi Asdos ibu.”
Sekelas
ber-ooooh yang panjang.
“Rum,
sini ambil tasmu. Wah bisa ada kejadian kayak gini ya, mungkin aja kalian
berdua jodoh.”
Harum
tersipu. Memet apalagi. Hampir pipis di celana.
Dan
beneran kan terjadi.
“Rum,
mau kuajak menikah tidak?”
Saat
ia semester enam, Memet bilang begitu kepadanya.
“Buset
Met. Serius? Gimana ya.”
Harum
cinta Memet. Memet juga. Usia mereka juga sudah waktunya. Eh, itu Memet doang
sih. Harum masih umur 21 saat itu, Memet 25.
“Hehe,
aku belum ngajakin nikah kok, baru nanya mau gak kalo kuajak nikah.”
Ah,
si gendut berkelit aja.
Harum
menatap langit-langit rumah makan Bakso H. Udin yang sedang jadi tempat
hang-out mereka.
“Kamu
sendiri yakin mau ngajak aku nikah?” Harum balas bertanya.
Memet
menggaruk-garuk perutnya (tanda bahwa ia sedang grogi).
“Kamu
adalah hal terindah Rum. Masa’ iya aku gak yakin.”
Harum
tersipu. “Yaudah sana siapin dulu apa yang mau diomongin, terus ngajak nikahnya
bukan ke aku, tapi ke bapak aku.”
Memet
mengangguk-angguk.
“Rum,
kamu...”
“Haduh,
Met, aku lagi makan jangan digombalin terus.”
“Eh
yaudah.” Memet gajadi bicara.
***
Bagaimana
rasanya setelah itu? Hari-hari Harum mulai berubah. Aduh, Memet. Orangnya lucu,
gempal, pintar, mandiri, dewasa.
Tapi
aku masih 21, Met. Maksudnya, Met, apa mungkin baiknya aku lulus kuliah dulu
ya. Tapi nanti Memet takutnya ketuaan. Apa jangan-jangan doi ga tahan? Aduuh,
Met.
***
Dan,
kejadiannya dua bulang yang lalu, saat berderet duka silih berganti
menghampiri.
Pertama,
Nenek Memet meninggal dunia. Memet sedih bukan main. Harum datang ke rumah pria
itu, berusaha menenangkan, memberi pundak untuk bersandar, telinga untuk
mendengar. Memet tak henti-hentinya menangis saat memandikan, mengafani,
menyolat, hingga mengantar sang nenek ke peristirahatan terakhirnya.
“Mungkin
itu artinya udah saatnya aku yang masakin buat kamu, Met.”
Harum
bergetar saat mengucapkan kalimat itu.
Memet,
dengan matanya yang masih penuh dengan pilu, menatap Harum. Ia tak berkata apa-apa,
namun sedetik kemudian Memet tersenyum.
Sudah,
itu saja. Memet hanya tersenyum.
***
Tiga
hari kemudian, rumah Memet kebakaran.
Entah
harus bilang apa, namun Harum menangis. Ya, duka pria yang ia cintai juga
adalah dukanya. Harum menemani Memet sekali lagi. Mengambil sisa-sisa barang
yang masih bisa diselamatkan dari rumah tersebut.
Tidak
banyak, karena pemadam kebakaran kesulitan untuk masuk ke rumah yang berada di
gang itu.
Memet
mengandalkan hidupnya dari beasiswa, dan hasil dia ngojek. Jaman itu belum ada
yang namanya ojek online. Menjadi ojek adalah pekerjaan yang tidak semua orang
mau melakukannya.
Akhirnya,
Harum mencari kosan untuk Memet tinggal sementara waktu. Memet tidak punya uang
untuk merenovasi rumahnya.
Sekali
lagi, Harum menangis. Namun Memet sempat berkata.
“Jangan
gentar, hidup sulit tapi jangan dipersulit. Aku bakal lewatin semua ini.”
Harum
tersenyum simpul.
***
Kejadian
ketiganya, adalah sebagai berikut.
“Rum,
aku takut akan hilangnya keberkahan.”
Harum
mendengar dengan seksama. Ah, tidak, sambil menunduk. Karena sepertinya Memet
akan mengatakan hal yang serius.
“Kalaupun
suatu saat aku berhasil menikahimu, apakah kehidupan kita akan berkah? Dengan cara-cara
yang kita lewati sekarang.”
“Aku
mendekatimu dengan cara yang kurang baik, Rum. Mungkin lebih baik kita tidak
bersama dahulu, lagipula, banyak hal yang harus kukerjakan.”
Harum
berusaha mengerti posisi dari lelaki yang ia cintai tersebut.
Tanggung
jawabnya banyak.
“Aku
bisa bantu kamu, Met. Atau mungkin keluargaku bisa membantu.”
Di seberang meja sana, Memet hanya tersenyum.
“Ah,
tak usah.”
***
Memet
meninggal tiga hari kemudian.
Ia
dibacok oleh begal saat pulang mengantar pelanggan ojeknya di sebuah tempat
yang sepi. Motornya diambil oleh pelaku. Jasadnya yang tidak bernyawa ditemukan
dua hari setelahnya di kebun kosong dekat situ.
Lelaki
baik itu, kini sudah tiada.
Harum
menghapus air matanya di kosan tercinta.
“Met,
Memeeet...”

Tragis amat om endingnya
BalasHapus