Rabu, 06 Januari 2016

#Cerpen Wanita Sejuta Cerita


Waktu membaca: 5-7 menit
“Kau tidak akan percaya ceritaku.”
Kami berempat berhenti seketika di depan wanita tua itu. Senyumnya menyungging dan menyinggung. Seakan ingin menertawakan reaksi kami.
Jon menyikutku dan memberi kode “jalan terus”. Yha, meski penasaran, aku akhirnya  mengikuti kemauan temanku yang lain. Untuk tidak memperdulikan wanita itu. Untuk tidak pernah memperdulikannya.
***
“Darimana sih datengnya tuh orang gila?” Farah, memulai topik tatkala kami sedang menunggu guru masuk. Habis ini pelajaran Pak Suminem. Jadi, kami harus mendinginkan kepala sedingin-dinginnya terlebih dahulu. Guru killer tak bisa mengompromikan kondisi hati dengan pelajaran. Kalau tidak rileks, bisa-bisa pelajaran tidak masuk otak, dan kena marah-marah terus karena tidak bisa menjawab.
Makanya sekarang kami ngobrol santai.
“Aku baru lihat dia 3 hari yang lalu.” Timpal Risya.
“Iya, dan kata penjaga sekolah jangan ada yang meladeninya.” Jon berkata.
“Memangnya kenapa? Dia ngegigit? Rrr.. rr..” Andi, teman kami yang lucu, memperagakan gigitan serigala. Namun yang dituju adalah Risya. Sontak gadis itu menghindar jijik.
“Katanya bisa jadi dia itu penjahat. Sekarang banyak modus kejahatan yang menggunakan wanita tua untuk memancing pelajar seperti kita. Lalu, si wanita akan membawa korban ke tempat khusus, di mana para penjahat lain sudah menunggu.”
Aku mengangguk-angguk. Jika hal tersebut benar, maka wanita tua itu berbahaya.
“Ah kata siapa, mungkin dia cuma seorang nenek kesepian, butuh anak kecil untuk menghiburnya.” Kata Andi. Aku sepenuhnya tidak setuju. Satu, Andi orangnya gak pernah serius. Dua, si nenek tunawisma, bukan? Mana peduli ia dengan anak seperti kami. Makan saja susah.
Tiba-tiba, pak Suminem masuk. Kami refleks kembali ke posisi masing-masing dan bresiap untuk belajar.
***
Hari ini, aku tidak pulang bersama teman-teman. Ada seleksi olimpiade matematika yang harus kuikuti dahulu. Yha, aku memang nekat untuk ikut seleksi ini. Pelajaran matematika saja sebenarnya sudah keteteran. Ia seakan menjadi momok tersendiri bagiku.
Namun, aku tidak ingin menyerah begitu saja. Dua minggu yang lalu, saat diumumkan bahwa akan diadakan seleksi olimpiade matematika, aku langsung bergabung. Waktu yang tersisa sebelum hari H kugunakan sebaik-baiknya untuk belajar semua ketertinggalan. Tiada hari tanpa berhitung. Dan setelah kulihat hasilnya, satu buku tulis sudah habis dijadikan coret-coretan olehku. Namun tetap saja ilmunya tidak masuk. Duh.
Selama 2 jam aku mengerjakan soal yang diberikan. Hey! Ternyata tidak terlalu sulit. Aku bisa mengerjakan 5 dari 40 soal yang diberikan. Sebuah prestasi yang membanggakan. Hehe.
Jam 4 sore, aku baru pulang. Teman-teman lain yang mengikuti seleksi tidak ada yang jalan pulangnya searah denganku. Maka, kali ini aku berjalan sendirian saja ke rumah.
Dan kejadian itu pun terjadi.
Tepat di tikungan kedua dari sekolah, aku melihat wanita renta yang sering kami temui ketika berangkat sekolah. Ia yang setiap harinya menawarkan kepada kami cerita yang katanya “tidak akan kami percayai”. Pun saat ini.
“Hey, kau tidak akan percaya dengan ceritaku.”
Deg!
Aku langsung gemetaran. Ingin tahu, jelas. Namun juga takut terhadapnya.
“Tidak usah takut, mari kita ke rumahku dan mendengarkan cerita, aku juga punya kue.” Nenek itu tersenyum dan mengajakku hangat.
Di sinilah diriku benar-benar bertarung antara adrenalin dan akal sehat.
Di satu sisi, aku ingin sekali mendegar cerita dari nenek itu. Di sisi lain, aku juga harus berhati-hati terhadap orang asing dan sebisa mungkin menghindari ajakannya terhadap apapun.
“Ayo.” Nenek tersebut mulai pergi.
Deg! Inilah kesempatanku.
Aku perlahan mengikuti ke mana kaki tua itu melangkah. Tapak demi tapak.
“Aku heran, mengapa anak-anak selalu menganggpku orang aneh, gila, dan menakutkan.” Nenek itu curhat di tengah perjalanan.
“Padahal, aku hanya ingin bercerita dan membagikan kue. Rumahku tak jauh dari sini. Sebentar lagi kita sampai.”
Aku mengangguk-angguk, meski tahu bahwa nenek itu tak akan melihat karena aku berjalan persis di belakangnya.
“Aku senang karena kau ingin mendengar ceritaku.” Nenek itu berbicara lagi.
Di tikungan selanjutnya, kami berjalan menuju sebuah rumah sederhana.
“Kita sudah sampai.” Rumah nenek itu manis. Ada teras yang asri dan dijalari oleh tumbuhan-tumbuhan hijau seperti Episcia fulgida atau jenggot musa—aku selalu tertawa bila mengingat nama lokalnya tersebut, lalu ada juga Tradescantia albifora atau Rumput Yahudi—nama yang unik, dan Kalanchoe pinnata atau Cocor bebek.
  Nenek itu membawaku ke ruang tamu dan sejurus kemudian menyuruhku duduk. Ia pun pergi ke dapur. Katanya, untuk mengambil teh manis dan kue-kue.
Aku pun duduk dan memperhatikan dekorasi ruangannya yang lagi-lagi membuatku takjub. Hiasan-hiasan di dinding penuh dengan keafira loka seperti lukisan pedesaan, piring-piring yang digantung—yang bercorak batik, dan beberapa foto masa lalu.
Aku bangkit dan melihat figura yang terpasang di tembok. Banyak sekali foto-foto nenek tersebut ketika masih muda.
“Oh, kau tertarik dengan foto-fotoku?” Sang nenek muncul dari arah dapur sambil membawa nampas berisi teh hangat dan kue-kue.
“Banyak sekali kenangan yang tersimpan di sana.” Ia menaruh nampan di meja, kemudian berjalan ke arah sebuah foto. “Ini fotoku bersama suamiku dulu di Bali.” Ia mencopot sebuah figura dari dinding dan memandang lekat ke arahnya.
“Bulan madu pertama kami, tahun 1950.” Wajahnya berkaca-kaca.
Aku ber-ekhm.
“Oh ya, ada kue coklat buatanku. Kau pasti suka.”
Aku melihat ke meja dan segera duduk. “Boleh kuceba satu?”
“Silahkan. Habiskan juga boleh.” Nenek tersebut tersenyum.
Aku mengambil kuenya dan menggigit satu. Enak.
“Kau tahu, aku sepetimu dulu saat muda. Dingin dan cuek.”
Sang nenek menatapku hangat. “Dan cantik pula tentu saja.”
Aku tersipu. “Kau tahu, saat aku seumurmu, aku kenal seseorang. Namanya Matilda.” Sang nenek mulai bercerita. Aku mendengarkan dengan manis sambil mengunyah kue coklat buatannya.
“Matilda ini anak yang cerdas. Konon, ia sudah membaca semua buku yang ada di perpustakaan SR (sekolah rakyat—setingkat dengan SD kalau jaman sekarang). Setelah semua buku ia baca di sana, Matilda pun pergi ke perpustakaan kecamatan untuk membaca lebih banyak buku lagi.”
“Matilda tidak pernah puas dengan semua bukiu yang telah ia baca. Ia selalu mencari buku-buku lain.”
“Sayangnya, orang tuanya jahat. Ia selalu dipukuli di rumah karena lebih banyak membaca daripada bekerja. Orang tuanya ingin ia jadi perempuan baik-baik. Belajar sedikit saja, yang penting bisa ngurus rumah.”
Aku mengambil sepotong kue lagi.
“Orang tuanya tentu salah. Perempuan juga harus pintar. Akhirnya Matilda kabur dari rumah.”
“Ia hidup di panti asuhan sampai umur 15 tahun.”
“Kemudian ia pun menikah dengan seorang pria. Namun sayang, saat mereka baru 3 bulan menikah, rumah yang mereka tinggali terbakar. Mereka berdua pun meninggal.”
Aku meneguk ludah, sedih sekali ceritanya.
“Aku pulang dulu ya nek. Sudah sore.”
Sang nenek tersenyum. “Jangan kapok ya, besok datang lagi.”
Aku mengangguk, salim, kemudian pergi.
Satu kesimpulan hari itu. Andi benar. Nenek tersebut hanya perlu anak-anak untuk mendengar ceritanya. Ia bukan tunawisma atau penjahat yang ingin menculik anak-anak.
***
Sudah 3 hari aku tidak datang ke rumah nenek itu karena sakit.
Namun di hari ke-empat, aku datang lagi ke rumah itu untuk mendengar cerita.
“Ah, kau datang lagi. Ke mana saja kemarin?” Tanyanya.
“Maaf nek, sakit, tidak masuk sekolah.” Kataku.
Ia mengangguk dan tersenyum. Kami pun masuk dan aku makan kue sambil mendengar ceritanya lagi.
***
Sudah lewat dua minggu semenjak pertama kali aku datang ke rumah sang nenek. Kini, aku sudah menjadi seperti pelanggan tetap mendengar ceritanya. Hampir tiap sore aku singgah dan mendengarkan barang 15 menit, sebelum pulang.
Ceritanya sangat banyak. Kadang ia bercerita tentang perjuangan kemerdekaan, kadang tentang saudaranya yang pergi ke Belanda karena tugas, kadang tentang tanamannya yang ia beli dari Jepang, dan lain sebagainya. Apapun itu, aku selalu senang mendengarnya.
Teman-teman belakangan mencurigaiku. Karena tiap kali pulang bersama, di tikungan ketiga dari sekolah, aku selalu mangkir dengan berbagai alasan. Tentu saja aku tidak bilang kalau sebenarnya aku pergi ke rumah si nenek. Mereka pasti langsung melarang-larangku.
Dan tepat di sore itu, sepertinya Jon cs sudah merencanakan untuk membuntutiku.
Mereka ingin tahu apa yang sebenarnya aku lakukan.
Dan kenyataan pahitnya, aku ketahuan.
Ya, mereka melihatku berjalan bersama nenek tersebut dari depan gerbang sekolah.
***
“Ngapasin sih lu pada ngelarang gue?” Aku protes kepada mereka.
“Pokoknya jangan! Dia itu orang jahat!” Risya yang vokal sekarang.
“Lu gatau kan apa yang bisa aja terjadi?” Jon menimpali.
“Denger ya, pokoknya lu gaboleh datang ke sana lagi! Titik!” Risya lagi. Tampaknya ia yang paling menentangku.
Tapi tetap saja, meski dilarang begini, aku bebal. Enak saja teman-temanku ingin mencampuri urusanku.
***
“Kau datang lagi.” Nenek tersenyum tatkala aku sampai ke rumahnya.
“Iya nek.”
“Tak usah kau dengarkan kata-kata temanmu itu.”
Deg!
“Kok nenek tahu?” Aku bertanya. Si nenek cuma tersenyum. “Hari ini kita makan sop daging ya.”
Aku mengangguk. Belakangan aku sudah mulai diajak makan olehnya, dan masakannya enak-enak.
Aku melihat sop daging tersebut dengan nikmat. Hmm, lezat. Sore itu kami makan sambil mendengar cerita seru nenek yang lainnya.
***
Esok hari, Risya tidak masuk sekolah. Tidak ada kabar sama sekali darinya. Entah ke mana tuh anak. Aku cuek.
Namun hari-hari berikutnya, Risya juga tak pernah muncul lagi.
“Ke mana sih Risya?” Tanya Jon kepada teman-teman yang lain. Namun tidak ada yang tahu keberadaannya. Kami nihil informasi.
***
Berita malam.
Seorang mayat pelajar SD ditemukan di sebuah rumah kosong yang berlokasi tiga tikungan dari sekolahnya. Identitas belum diketahui, namun sudah dipastikan bahwa jenis kelaminnya adalah perempuan.
Polisi masih menindak-lanjuti penemuan mayat ini.
Tep! Aku mematikan televisi. Berita seram. Lebih baik aku belajar matematika.
***
“Loh kok kita dipulangin?”
“Ada berita buruk.” Jon berkata. “Risya gak masuk sekolah, ternyata dia dibunuh. Mayatnya ada di rumah kosong di tikungan ketiga.”
Aku meneguk ludah. Berita semalam? Itu Risya?
Aku pun segera menuju pulang sambil menangis. Temanku meninggal? Itu kabar terburuk yang pernah kudapat.
***
Esoknya, sepulang sekolah, aku berjalan ke rumah nenek untuk mendengar cerita seperti biasa. Mungkin cerita darinya akan menghiburku yang masih sedih sepeninggal Risya. Ya, sebenarnya, cerita dari nenek memang selalu menghibur.
Dan alangkah terkejutnya aku begitu sampai di sana.
Garis polisi mengelilingi rumahnya.
Bukan, bukan rumah indah dan asri yang kukenal. Namun rumah kosong yang sepeti habis terbakar puluhan tahun yang lalu. Itulah rumah yang selama ini kukunjungi tiap sore.
Di mana nenek?
Lalu aku mengingat cerita pertamanya. Matilda, yang mati terbakar di rumahnya. Dan aku mengingat sop daging terakhir yang ia berikan padaku. Risya, yang besoknya ditemukan mati di sana.
Aku merinding.
Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dari belakang.
“Hey, mau datang ke rumah untuk mendengar cerita?”
Nenek tersenyum dengan badan hangus dan tulang benulang yang terlihat jelas.
***
 Pondok Petir, 6 Januari 2016

Azam Rofiullah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar