“Kau tidak akan percaya
ceritaku.”
Kami berempat berhenti seketika
di depan wanita tua itu. Senyumnya menyungging dan menyinggung. Seakan ingin
menertawakan reaksi kami.
Jon menyikutku dan memberi kode
“jalan terus”. Yha, meski penasaran, aku akhirnya mengikuti kemauan temanku yang lain. Untuk
tidak memperdulikan wanita itu. Untuk tidak
pernah memperdulikannya.
***
“Darimana sih datengnya tuh orang
gila?” Farah, memulai topik tatkala kami sedang menunggu guru masuk. Habis ini
pelajaran Pak Suminem. Jadi, kami harus mendinginkan kepala sedingin-dinginnya
terlebih dahulu. Guru killer tak bisa mengompromikan kondisi hati dengan
pelajaran. Kalau tidak rileks, bisa-bisa pelajaran tidak masuk otak, dan kena
marah-marah terus karena tidak bisa menjawab.
Makanya sekarang kami ngobrol
santai.
“Aku baru lihat dia 3 hari yang
lalu.” Timpal Risya.
“Iya, dan kata penjaga sekolah
jangan ada yang meladeninya.” Jon berkata.
“Memangnya kenapa? Dia ngegigit?
Rrr.. rr..” Andi, teman kami yang lucu, memperagakan gigitan serigala. Namun
yang dituju adalah Risya. Sontak gadis itu menghindar jijik.
“Katanya bisa jadi dia itu
penjahat. Sekarang banyak modus kejahatan yang menggunakan wanita tua untuk
memancing pelajar seperti kita. Lalu, si wanita akan membawa korban ke tempat
khusus, di mana para penjahat lain sudah menunggu.”
Aku mengangguk-angguk. Jika hal
tersebut benar, maka wanita tua itu berbahaya.
“Ah kata siapa, mungkin dia cuma
seorang nenek kesepian, butuh anak kecil untuk menghiburnya.” Kata Andi. Aku
sepenuhnya tidak setuju. Satu, Andi orangnya gak pernah serius. Dua, si nenek
tunawisma, bukan? Mana peduli ia dengan anak seperti kami. Makan saja susah.
Tiba-tiba, pak Suminem masuk. Kami
refleks kembali ke posisi masing-masing dan bresiap untuk belajar.
***
Hari ini, aku tidak pulang
bersama teman-teman. Ada seleksi olimpiade matematika yang harus kuikuti
dahulu. Yha, aku memang nekat untuk ikut seleksi ini. Pelajaran matematika saja
sebenarnya sudah keteteran. Ia seakan menjadi momok tersendiri bagiku.
Namun, aku tidak ingin menyerah
begitu saja. Dua minggu yang lalu, saat diumumkan bahwa akan diadakan seleksi
olimpiade matematika, aku langsung bergabung. Waktu yang tersisa sebelum hari H
kugunakan sebaik-baiknya untuk belajar semua ketertinggalan. Tiada hari tanpa
berhitung. Dan setelah kulihat hasilnya, satu buku tulis sudah habis dijadikan
coret-coretan olehku. Namun tetap saja ilmunya tidak masuk. Duh.
Selama 2 jam aku mengerjakan soal
yang diberikan. Hey! Ternyata tidak terlalu sulit. Aku bisa mengerjakan 5 dari
40 soal yang diberikan. Sebuah prestasi yang membanggakan. Hehe.
Jam 4 sore, aku baru pulang. Teman-teman
lain yang mengikuti seleksi tidak ada yang jalan pulangnya searah denganku. Maka,
kali ini aku berjalan sendirian saja ke rumah.
Dan kejadian itu pun terjadi.
Tepat di tikungan kedua dari
sekolah, aku melihat wanita renta yang sering kami temui ketika berangkat
sekolah. Ia yang setiap harinya menawarkan kepada kami cerita yang katanya “tidak
akan kami percayai”. Pun saat ini.
“Hey, kau tidak akan percaya
dengan ceritaku.”
Deg!
Aku langsung gemetaran. Ingin tahu,
jelas. Namun juga takut terhadapnya.
“Tidak usah takut, mari kita ke
rumahku dan mendengarkan cerita, aku juga punya kue.” Nenek itu tersenyum dan
mengajakku hangat.
Di sinilah diriku benar-benar
bertarung antara adrenalin dan akal sehat.
Di satu sisi, aku ingin sekali
mendegar cerita dari nenek itu. Di sisi lain, aku juga harus berhati-hati
terhadap orang asing dan sebisa mungkin menghindari ajakannya terhadap apapun.
“Ayo.” Nenek tersebut mulai
pergi.
Deg! Inilah kesempatanku.
Aku perlahan mengikuti ke mana
kaki tua itu melangkah. Tapak demi tapak.
“Aku heran, mengapa anak-anak
selalu menganggpku orang aneh, gila, dan menakutkan.” Nenek itu curhat di
tengah perjalanan.
“Padahal, aku hanya ingin
bercerita dan membagikan kue. Rumahku tak jauh dari sini. Sebentar lagi kita
sampai.”
Aku mengangguk-angguk, meski tahu
bahwa nenek itu tak akan melihat karena aku berjalan persis di belakangnya.
“Aku senang karena kau ingin
mendengar ceritaku.” Nenek itu berbicara lagi.
Di tikungan selanjutnya, kami
berjalan menuju sebuah rumah sederhana.
“Kita sudah sampai.” Rumah nenek
itu manis. Ada teras yang asri dan dijalari oleh tumbuhan-tumbuhan hijau
seperti Episcia fulgida atau jenggot musa—aku selalu tertawa bila
mengingat nama lokalnya tersebut, lalu ada juga Tradescantia albifora atau
Rumput Yahudi—nama yang unik, dan Kalanchoe pinnata atau Cocor bebek.
Nenek
itu membawaku ke ruang tamu dan sejurus kemudian menyuruhku duduk. Ia pun pergi
ke dapur. Katanya, untuk mengambil teh manis dan kue-kue.
Aku pun duduk dan memperhatikan
dekorasi ruangannya yang lagi-lagi membuatku takjub. Hiasan-hiasan di dinding
penuh dengan keafira loka seperti lukisan pedesaan, piring-piring yang
digantung—yang bercorak batik, dan beberapa foto masa lalu.
Aku bangkit dan melihat figura
yang terpasang di tembok. Banyak sekali foto-foto nenek tersebut ketika masih
muda.
“Oh, kau tertarik dengan
foto-fotoku?” Sang nenek muncul dari arah dapur sambil membawa nampas berisi
teh hangat dan kue-kue.
“Banyak sekali kenangan yang
tersimpan di sana.” Ia menaruh nampan di meja, kemudian berjalan ke arah sebuah
foto. “Ini fotoku bersama suamiku dulu di Bali.” Ia mencopot sebuah figura dari
dinding dan memandang lekat ke arahnya.
“Bulan madu pertama kami, tahun
1950.” Wajahnya berkaca-kaca.
Aku ber-ekhm.
“Oh ya, ada kue coklat buatanku. Kau
pasti suka.”
Aku melihat ke meja dan segera
duduk. “Boleh kuceba satu?”
“Silahkan. Habiskan juga boleh.”
Nenek tersebut tersenyum.
Aku mengambil kuenya dan
menggigit satu. Enak.
“Kau tahu, aku sepetimu dulu saat
muda. Dingin dan cuek.”
Sang nenek menatapku hangat. “Dan
cantik pula tentu saja.”
Aku tersipu. “Kau tahu, saat aku
seumurmu, aku kenal seseorang. Namanya Matilda.” Sang nenek mulai bercerita. Aku
mendengarkan dengan manis sambil mengunyah kue coklat buatannya.
“Matilda ini anak yang cerdas. Konon,
ia sudah membaca semua buku yang ada di perpustakaan SR (sekolah rakyat—setingkat
dengan SD kalau jaman sekarang). Setelah semua buku ia baca di sana, Matilda
pun pergi ke perpustakaan kecamatan untuk membaca lebih banyak buku lagi.”
“Matilda tidak pernah puas dengan
semua bukiu yang telah ia baca. Ia selalu mencari buku-buku lain.”
“Sayangnya, orang tuanya jahat. Ia
selalu dipukuli di rumah karena lebih banyak membaca daripada bekerja. Orang tuanya
ingin ia jadi perempuan baik-baik. Belajar sedikit saja, yang penting bisa
ngurus rumah.”
Aku mengambil sepotong kue lagi.
“Orang tuanya tentu salah. Perempuan
juga harus pintar. Akhirnya Matilda kabur dari rumah.”
“Ia hidup di panti asuhan sampai
umur 15 tahun.”
“Kemudian ia pun menikah dengan
seorang pria. Namun sayang, saat mereka baru 3 bulan menikah, rumah yang mereka
tinggali terbakar. Mereka berdua pun meninggal.”
Aku meneguk ludah, sedih sekali
ceritanya.
“Aku pulang dulu ya nek. Sudah sore.”
Sang nenek tersenyum. “Jangan
kapok ya, besok datang lagi.”
Aku mengangguk, salim, kemudian
pergi.
Satu kesimpulan hari itu. Andi
benar. Nenek tersebut hanya perlu anak-anak untuk mendengar ceritanya. Ia bukan
tunawisma atau penjahat yang ingin menculik anak-anak.
***
Sudah 3 hari aku tidak datang ke
rumah nenek itu karena sakit.
Namun di hari ke-empat, aku
datang lagi ke rumah itu untuk mendengar cerita.
“Ah, kau datang lagi. Ke mana
saja kemarin?” Tanyanya.
“Maaf nek, sakit, tidak masuk
sekolah.” Kataku.
Ia mengangguk dan tersenyum. Kami
pun masuk dan aku makan kue sambil mendengar ceritanya lagi.
***
Sudah lewat dua minggu semenjak
pertama kali aku datang ke rumah sang nenek. Kini, aku sudah menjadi seperti
pelanggan tetap mendengar ceritanya. Hampir tiap sore aku singgah dan
mendengarkan barang 15 menit, sebelum pulang.
Ceritanya sangat banyak. Kadang ia
bercerita tentang perjuangan kemerdekaan, kadang tentang saudaranya yang pergi
ke Belanda karena tugas, kadang tentang tanamannya yang ia beli dari Jepang, dan
lain sebagainya. Apapun itu, aku selalu senang mendengarnya.
Teman-teman belakangan
mencurigaiku. Karena tiap kali pulang bersama, di tikungan ketiga dari sekolah,
aku selalu mangkir dengan berbagai alasan. Tentu saja aku tidak bilang kalau
sebenarnya aku pergi ke rumah si nenek. Mereka pasti langsung
melarang-larangku.
Dan tepat di sore itu, sepertinya
Jon cs sudah merencanakan untuk membuntutiku.
Mereka ingin tahu apa yang sebenarnya
aku lakukan.
Dan kenyataan pahitnya, aku
ketahuan.
Ya, mereka melihatku berjalan
bersama nenek tersebut dari depan gerbang sekolah.
***
“Ngapasin sih lu pada ngelarang
gue?” Aku protes kepada mereka.
“Pokoknya jangan! Dia itu orang
jahat!” Risya yang vokal sekarang.
“Lu gatau kan apa yang bisa aja
terjadi?” Jon menimpali.
“Denger ya, pokoknya lu gaboleh
datang ke sana lagi! Titik!” Risya lagi. Tampaknya ia yang paling menentangku.
Tapi tetap saja, meski dilarang
begini, aku bebal. Enak saja teman-temanku ingin mencampuri urusanku.
***
“Kau datang lagi.” Nenek
tersenyum tatkala aku sampai ke rumahnya.
“Iya nek.”
“Tak usah kau dengarkan kata-kata
temanmu itu.”
Deg!
“Kok nenek tahu?” Aku bertanya. Si
nenek cuma tersenyum. “Hari ini kita makan sop daging ya.”
Aku mengangguk. Belakangan aku
sudah mulai diajak makan olehnya, dan masakannya enak-enak.
Aku melihat sop daging tersebut
dengan nikmat. Hmm, lezat. Sore itu kami makan sambil mendengar cerita seru
nenek yang lainnya.
***
Esok hari, Risya tidak masuk
sekolah. Tidak ada kabar sama sekali darinya. Entah ke mana tuh anak. Aku cuek.
Namun hari-hari berikutnya, Risya
juga tak pernah muncul lagi.
“Ke mana sih Risya?” Tanya Jon
kepada teman-teman yang lain. Namun tidak ada yang tahu keberadaannya. Kami nihil
informasi.
***
Berita malam.
Seorang mayat pelajar SD
ditemukan di sebuah rumah kosong yang berlokasi tiga tikungan dari sekolahnya. Identitas
belum diketahui, namun sudah dipastikan bahwa jenis kelaminnya adalah
perempuan.
Polisi masih menindak-lanjuti
penemuan mayat ini.
Tep! Aku mematikan televisi. Berita
seram. Lebih baik aku belajar matematika.
***
“Loh kok kita dipulangin?”
“Ada berita buruk.” Jon berkata. “Risya
gak masuk sekolah, ternyata dia dibunuh. Mayatnya ada di rumah kosong di
tikungan ketiga.”
Aku meneguk ludah. Berita semalam?
Itu Risya?
Aku pun segera menuju pulang
sambil menangis. Temanku meninggal? Itu kabar terburuk yang pernah kudapat.
***
Esoknya, sepulang sekolah, aku
berjalan ke rumah nenek untuk mendengar cerita seperti biasa. Mungkin cerita
darinya akan menghiburku yang masih sedih sepeninggal Risya. Ya, sebenarnya,
cerita dari nenek memang selalu menghibur.
Dan alangkah terkejutnya aku
begitu sampai di sana.
Garis polisi mengelilingi
rumahnya.
Bukan, bukan rumah indah dan asri
yang kukenal. Namun rumah kosong yang sepeti habis terbakar puluhan tahun yang
lalu. Itulah rumah yang selama ini kukunjungi tiap sore.
Di mana nenek?
Lalu aku mengingat cerita
pertamanya. Matilda, yang mati terbakar di rumahnya. Dan aku mengingat sop
daging terakhir yang ia berikan padaku. Risya, yang besoknya ditemukan mati di
sana.
Aku merinding.
Tiba-tiba seseorang menepuk
pundakku dari belakang.
“Hey, mau datang ke rumah untuk mendengar cerita?”
Nenek tersenyum dengan badan hangus dan tulang benulang yang terlihat
jelas.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar