Waktu
membaca: 5-7 menit
Darat, Laut dan Udara.
Tiga kubu inilah yang menjalankan
Bumi dengan semestinya semenjak milyaran tahun yang lalu. Mereka bukan
Organisme. Mereka adalah makhluk transendental, yang dilihat oleh manusia
sebagai Benda non-biologis. Yang tidak mereka tahu bahwa sebenarnya benda-benda
itu hidup. Mungkin lebih hidup daripada mereka.
Penghuni langit—atau kubu langit, adalah makhluk transendental yang
menghuni langit. Ada awan timur, awan barat, angin muson, Ozon, Stratosfer,
Mesosfer, hingga Termosfer. Pemimpin mereka adalah Sang Atmosfir. Seorang
Penjaga Langit.
Ada juga Penghuni Laut. Mereka adalah
kmoponen-komponen lautan. Ada Samudra, Teluk, Tanjung, Palung, hingga gunung
api yang berada di dalam air. Pemimpin mereka adalah Sang Penjaga air, Mari.
Yang ketiga, Penghuni Daratan.
Gunung, Bukit, Pulau, hingga Gua dan Air terjun. Sungai dan Danau pun
belakangan mengekor sebagai Penghuni Daratan. Pemimpin mereka, adalah Wafee.
Sang Penjaga Tanah.
Sang Cahaya adalah pemimpin para
Penjaga Langit. Ia yang mengatur pertemuan dan menjalin hubungan dengan
kehidupan fana di galaksi lain. Ia juga yang menjaga stabilitas di Bumi sesuai
dengan rencana.
Sementara itu, Sang Badai, adalah
saudara terdekat dari Sang Atmosfir. Bedanya, Sang Badai mengatur segala
kerusakan yang terjadi di bumi, sebagai bentuk seleksi alam, ataupun sifat dari
Bumi itu sendiri.
Jutaan tahun yang lalu, Bumi
butuh banyak badai. Mikro-organisme pertama, adalah mereka yang bertahan dari
badai-badai ini. Fase demi fase pun berlanjut. Ada Zaman Es, dan lain
sebagainya. Berbagai seleksi alam dan fase bumi ini adalah tugas dari Sang
Badai.
Maka, berkat kelima Penjaga
Langit tersebutlah Bumi menjadi seperti sekarang.
***
Robby mengangguk-angguk, menerima
pelajaran dari gurunya dengan pikiran terbuka.
Bocah itu sudah kehabisan ide
tentang apa yang terjadi dalam hidupnya dalam kurun waktu 2 X 24 jam ini. Dari mulai
kematian ayahnya, hingga kenyataan bahwa ia adalah penerus dari seorang Penjaga
Langit.
Sebuah fakta yang begitu
mengejutkan.
“Kau
tampak kelelahan, Robby.” Ujar Feliks, orang berjas yang datang ke rumahnya
kemarin.
“Ya, aku hanya berusaha mencerna
banyak informasi yang baru ini.” Ia memegang kepalanya.
“Hahaha. Kau akan terbiasa.”
***
Esoknya, Robby belajar terbang. Maksudnya,
terbang. Tanpa menggunakan apa-apa. Terbang secara harfiah. Tanpa sayap,
tanpa bantuan apapun.
Feliks membawa Robby ke ketinggian
3 KM, kemudian menjatuhkannya. Pria tersebut menyuruh Robby untuk mencoba
berkonsentrasi dan mengontrol udara di sekelilingnya agar ia bisa mengambang di
udara.
Robby jatuh, dan sekuat apapun ia
mencoba berkonsentrasi, ia tak bisa mengontrol udara di sekelilingnya. Bocah itu
jatuh, dan jatuh.
Hingga akhirnya sebelum menyentuh
lautan di bawahnya, Feliks menangkap Robby dan memulai lagi dari awal.
***
Siang sudah usai, dan Robby masih
gagal dalam pelajaran terbangnya.
“Begini, Robby. Terbang. Ingat,
sekarang kau bukanlah manusia. Kau adalah seorang makhluk transendental.
Jadi, coba gunakan kekuatanmu.”
Feliks menasihati. Jujur saja, ia
tahu bahwa masih ada bagian manusia yang tersisa dalam diri Robby, hal
itulah yang menghalanginya dari mengontrol udara yang ada di sekelilingnya.
“Aku tahu kau akan bisa melalui
proses ini. Yakinlah.” Feliks berkata lagi.
“Dan, oh ya. Santailah sedikit.”
Feliks melempar sebuah kunci kepada Robby. “Pakailah sesukamu.”
Robby menangkap kunci tersebut
dan memandangnya. “Kunci apa ini?”
Feliks hanya tersenyum. “Tekan
saja tombolnya.”
Robby yang masih bingung akhirnya
menekan tombol yang ada pada kunci tersebut.
Tiba-tiba, secercah cahaya
mengelilinginya. Berputar-putar cepat, dan mulai melapisi tubuhnya.
“Apa ini?”
Feliks hanya melambai-lambaikan
tangan. Tubuh Robbby pun mgnhilang ditelan cahaya tersebut.
***
Bukan menghilang lebih tepatnya,
namun dipindahkan. Robby kini berada dalam sebuah ruangan mewah yang sangat
keren.
Ada tempat tidur super empuk yang modern, meja kerja, sofa, kulkas yang
penuh dengan makanan, layar LCD super besar, dan juga komputer canggih. Selain itu
ada pula dapur mewah yang minimalis. Di sana sudah ada segala macam peralatan
memasak dan bumbu-bumbu yang bisa ia gunakan kapan saja.
“Waw.” Ujarnya saat melihat
koleksi kartu pemain bola yang lengkap. Ya, kartu-kartu yang selama ini selalu
ia kolesi dan ia pamerkan di sekolah.
Lalu Robby melihat ke jendela. Dan
yang ia lihat adalah...
“Tunggu, ini di langit?” Seluruh
pemandangan awan tipis dan Kota Jakarta yang indah kini berada di bawahnya.
Robby telat menyadari bahwa kunci
itu adalah sebuah kunci kendaraan awan yang juga berfungsi sebagai rumah
para Penghuni Langit.
Layar LCD super besar tadi adalah
alat navigasi dan pengaturan perjalanan. Dan ia tinggal memilih lokasi yang
ingin ia kunjungi. Selain itu, ia juga bisa tinggal dan menikmati fasilitas di
dalam kendaraan tersebut. Sudah seperti jet pribadi super mewah!
“Kau suka?” Tanya Feliks yang
tiba-tiba berada di sana.
Robby mengelus dada. “Kau harus
berhenti muncul secara tiba-tiba seperti itu.”
“Hahaha. Bagaimana rumah barumu
ini?”
Robby mengangguk-angguk. “Lumayan.
Terutama bagian kartu-kartu bola tersebut. Aku sangat menyukainya.”
Feliks tersenyum. “Kami menyebut
kendaraan ini Cloudvan. Bisa kau gunakan untuk perjalanan sesuka hati,
sekaligus tinggal di dalamnya. Menarik, bukan?”
“Kau tinggal di cloudvan juga?”
Feliks tertawa. “Aku tidak bisa
memberitahumu. Aku adalah Partner seorang Penjaga Langit. Lokasi kami rahasia.”
Robby mengangguk-angguk saja.
“Hei, lebih baik kau mandi sana. Malam
ini, aku ingin membawamu ke suatu tempat.”
***
Feliks membawa Robby dengan Mobil
awannya. Mirip seperti Cloudvan, namun yang ini lebih kecil. Sepri mobil
pada umumnya, namun terbuat dari awan.
“Baiklah, siap-siap untuk melihat
sesuatu yang belum pernah kau lihat.” Feliks membuat suasana menjadi dramatis.
Di depan mereka, ada sebuah awan
tebal yang berbentuk seperti lorong dan mengarah ke atas. Mereka pun masuk ke
dalamnya dan.. Slurp, naik dengan cepat. Robby berpegangan pada apa saja yang
ada. Kecepatan mereka tinggi sekali. Feliks hanya tertawa kecil di sebelahnya
melihat kekagetan Robby.
Dan setelah 10 detik dalam
kecepatan gila tersebut, mobil mereka keluar dari lorong awan tadi, melambat
dengan halus dan sempurna.
Kini, di depan Robby, tampak
sebuah kota megah yang terbuat dari awan kristal. Dengan gedung-gedung
bertingkat, papan-papan iklan, jalanan, taman, sungai-sungai, dan lampu-lampu
indah.
Feliks segera masuk ke dalam
jalanan bersama mobil-mobil lainnya. Mereka mengambil jalanan utama yang
menyuguhkan pemandagnan seluruh kota. Indah sekali.
“Di mana kita?” Tanya Robby.
Feliks tersenyum. “Selamat datang
di noctilucent cloud.”
***
“Kita berada 80 km di atas
permukaan laut. Awan noctilucent adalah satu-satunya jenis awan yang
bisa bertahan di atas lapisan Troposfer.”
Robby menggaruk-garukkan kepala.
“Singkatnya begini. Urutan
Atmosfir dari bawah: Troposfer—Stratosfer—Mesosfer. Awan yang berasal dari air
bumi yang menguap itu tidak sanggup naik ke atas lapisan troposfer. Mereka akan
‘keberatan’ karena suhu yang dingin di stratosfer.”
“Jadi, darimana datangnya awan noctilucent ini? Dari debu dan air
yang menguap ketika meteor terbakar di Mesosfer. Dan karena ‘air’ dari meteor
itu spesial, yang terbentuk adalah awan kristal. See? Makanya tempat ini sangat
indah.”
“Manusia bisa melihat kota ini?”
Feliks tertawa. “Jangan bercanda. Ingatan mereka tentang ayahmu yang
jatuh dari langit pun sudah kami hapus. Pada musim panas, mereka memang bisa
melihat pantulan kristal yang ada pada awan ini, namun sisanya, mereka akan ‘kehilangan’
fenomena awan noctilucent.”
“Dan untuk kota ini, mereka sama sekali tidak bisa melihatnya.”
Robby mengangguk-angguk.
“Mau ke mana kita seakrang?”
Feliks menunjuk sebuah tempat di depannya. Gedung bertingkat yang sangat
indah.
“Kita mau belanja.”
***
Feliks memarkirkan kendaraan mereka di sebuah lift khusus. Dari sana,
mereka tinggal masuk ke dalam pusat perbelanjaan, dan lift tadi akan mengantar
mobil mereka ke basement.
“Pusat perbelanjaan terbesar di NC—noctilucent cloud—adalah tempat
ini. No-Store. Well, aku sering berbelanja di sini.” Feliks bercerita.
“Mamaku seirng membawaku ke Mal yang ada di Jakarta. Namun tak pernah
kusangka bahwa di atas langit aku akan menemukan tempat seeprti ini.”
“Yeah, kalau kau mau, sebenarnya ada lagi tempat yang lebih besar.”
“Kita berada di kota Noctilucent selatan. Dekat dengan kutub
selatan. Kapan-kapan aku akan membawamu ke Noctilucent utara.”
Robby meng-iya saja.
Pusat perbelanjaan tersebut sepenuhnya berkilau. Kristal membuat tiap
sudutnya memancarkan keanggunan yang mewah. Hiasan menggantung di
langit-langit. Kereta-kereta menghubungkan antar lantai dan toko. Semua bergerak
secara efisien. Ada pula air mancur dan taman di tengah-tengah bangunan. Orang-orang
bisa beristirahat di taman tersebut.
No-store memilki 154 lantai. 50 lantai di bawah adalah untuk parkiran
mobil, 10 untuk pusat perbelanjaan, dan 70 untuk perkantoran. Sementara 24 lantai
sisanya adalah gudang.
Feliks menjelaskan semuanya seakan-akan ia adalah pemilik tempat
tersebut. Ia begitu paham detail-detail dari No-store.
“Kita mau belanja apa memangnya?” Robby bertanya saat mereka masuk ke
dalam sebuah toko.
“Sudah kau ikut saja.”
Feliks membuka pintu. Orang-orang yang ada di sana langsung menyambutnya
dengan ceria. Ruangan tersebut penuh dengan estalase dan kursi-kursi. Berbagai perangkat
keras yang tidak diketahui oleh Robby berjajar di estalase tersebut.
“Kev! Haha, senang bertemu lagi denganmu.” Ujar seorang pria berbadan
besar.
“Sudah lama juga, ya! Haha!” Feliks memang bisa dipanggil Kev. Entah apa
maksudnya.
“Inikah dia?” Pria lain yang berbadan kurus menunjuk Robby. Feliks mengangguk
ke arahnya.
Seluruh toko pun mendadak senyap. Orang-orang langsung membungkuk pada
Robby selama 2 detik, dan kemudian menatapnya dengan hormat.
“Kau sudah terkenal sekarang.” Feliks berbisik pada bocah itu.
Seseorang mendatanginya. “Salam, wahai Penjaga Langit. Saya Troposfer.
Bagian atmosfir yang paling dekat dengan bumi. Bila ada apa-apa, silahkan
hubungi saya.”
“Santai saja, Tropo.” Feliks tersenyum.
Tropo pun memeluk Robby dengan erat. “Ayahmu adalah pahlawan, nak. Turut berduka
cita atas kepergiannya.”
Robby mengangguk-angguk. “Ya, beliau adalah orang hebat.”
Semua orang di sana mengangguk-angguk.
Troposfer melepaskan pelukannya. “Aku berharap bisa membantu anda dalam
hal apapun. Jangan pernah sungkan.”
Robby mengangguk.
“Baiklah, kembali pada pekerjaan masing-masing. Aku ada sedikit urusan di
sini.”
Feliks membawa Robby ke belakang. Orang-orang pun kembali pada
rutinitasnya.
***
Hacep mengelilingi tubuh Ernest yang sedang terbaring.
“Bisakah kau berhenti? Aku pusing melihatnya.” Ernest protes kepada
partnernya tersebut.
“Oke, bos.” Hacer pun berhenti dan bertengger di sampingnya.
“Aku sedang merenungkan pengetahuan yang kudapat dari Pandora.” Ernest
menatap binta-bintang.
“Coba saja aku bisa melihatnya lebih lama, pasti aku akan memiliki
pengetahuan yang sempurna tentag senjata itu.”
Hacep ber-kwak-kwak.
“Maksudmu Alchemist bos? Yang konon bisa mengalahkan cahaya paling
kuat sekalipun?”
“Ya, alat yang terbuat dari Neutrino. Partikel yang bisa melebihi
kecepatan cahaya.”
“Jadi kau sudah tahu di mana senjata itu disembunyikan, bos?” Hacep
bertanya kegirangan.
“”Benda itu tidak disembunyikan, Cep. Alchemist memang tidak
ada. Kita harus membuatnya.” Ernest mengepalkan tangan.
“Membuatnya, bos? Bagaimana caranya?”
“Informasi yang kudapatkan adalah tentang lokasi citak biru dari alchemist
tersebut. Kalau kita bisa mengambilnya, maka mungkin saja dari cetak biru
itu kita bisa membuat sebuah alchemist.”
“Wah, kedengarannya sulit, bos.”
“Memang. Namun itulah satu-satunya cara untuk mengalahkan Papa Sang
Cahaya.”
“Bukankah ada satu cara lagi, bos?”
“Kita simpan saaja dua cara ini. Menggunakan alchemist kemungkinannya
sangat kecil. Apalagi Neutrino belum tentu juga bsia menandingi kecepatan
cahaya. Kita lihat saja nanti. Aku sedang berpikir.”
Hacep mengangguk-angguk.
***
“Liana, aku khawatir dengan Kev.” Mari berkata pada partnernya, si
lumba-lumba, Liana.
“Mengapa memang?”
“Entahlah, namun aku mempunyai firasat buruk.”
Mari masam.
“Sesuatu akan terjadi.”
Bersambung.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar