Rabu, 06 Januari 2016

#Serial Sang Badai Eps. 4

Waktu membaca: 5-7 menit
Darat, Laut dan Udara.
Tiga kubu inilah yang menjalankan Bumi dengan semestinya semenjak milyaran tahun yang lalu. Mereka bukan Organisme. Mereka adalah makhluk transendental, yang dilihat oleh manusia sebagai Benda non-biologis. Yang tidak mereka tahu bahwa sebenarnya benda-benda itu hidup. Mungkin lebih hidup daripada mereka.
Penghuni langit—atau kubu langit, adalah makhluk transendental yang menghuni langit. Ada awan timur, awan barat, angin muson, Ozon, Stratosfer, Mesosfer, hingga Termosfer. Pemimpin mereka adalah Sang Atmosfir. Seorang Penjaga Langit.
Ada juga Penghuni Laut. Mereka adalah kmoponen-komponen lautan. Ada Samudra, Teluk, Tanjung, Palung, hingga gunung api yang berada di dalam air. Pemimpin mereka adalah Sang Penjaga air, Mari.
Yang ketiga, Penghuni Daratan. Gunung, Bukit, Pulau, hingga Gua dan Air terjun. Sungai dan Danau pun belakangan mengekor sebagai Penghuni Daratan. Pemimpin mereka, adalah Wafee. Sang Penjaga Tanah.
Sementara itu, ada pula dua Penjaga Langit lain. Sang Cahaya, dan Sang Badai.
Sang Cahaya adalah pemimpin para Penjaga Langit. Ia yang mengatur pertemuan dan menjalin hubungan dengan kehidupan fana di galaksi lain. Ia juga yang menjaga stabilitas di Bumi sesuai dengan rencana.
Sementara itu, Sang Badai, adalah saudara terdekat dari Sang Atmosfir. Bedanya, Sang Badai mengatur segala kerusakan yang terjadi di bumi, sebagai bentuk seleksi alam, ataupun sifat dari Bumi itu sendiri.
Jutaan tahun yang lalu, Bumi butuh banyak badai. Mikro-organisme pertama, adalah mereka yang bertahan dari badai-badai ini. Fase demi fase pun berlanjut. Ada Zaman Es, dan lain sebagainya. Berbagai seleksi alam dan fase bumi ini adalah tugas dari Sang Badai.
Maka, berkat kelima Penjaga Langit tersebutlah Bumi menjadi seperti sekarang.
***
Robby mengangguk-angguk, menerima pelajaran dari gurunya dengan pikiran terbuka.
Bocah itu sudah kehabisan ide tentang apa yang terjadi dalam hidupnya dalam kurun waktu 2 X 24 jam ini. Dari mulai kematian ayahnya, hingga kenyataan bahwa ia adalah penerus dari seorang Penjaga Langit.
Sebuah fakta yang begitu mengejutkan.
  “Kau tampak kelelahan, Robby.” Ujar Feliks, orang berjas yang datang ke rumahnya kemarin.
“Ya, aku hanya berusaha mencerna banyak informasi yang baru ini.” Ia memegang kepalanya.
“Hahaha. Kau akan terbiasa.”
***
Esoknya, Robby belajar terbang. Maksudnya, terbang. Tanpa menggunakan apa-apa. Terbang secara harfiah. Tanpa sayap, tanpa bantuan apapun.
Feliks membawa Robby ke ketinggian 3 KM, kemudian menjatuhkannya. Pria tersebut menyuruh Robby untuk mencoba berkonsentrasi dan mengontrol udara di sekelilingnya agar ia bisa mengambang di udara.
Robby jatuh, dan sekuat apapun ia mencoba berkonsentrasi, ia tak bisa mengontrol udara di sekelilingnya. Bocah itu jatuh, dan jatuh.
Hingga akhirnya sebelum menyentuh lautan di bawahnya, Feliks menangkap Robby dan memulai lagi dari awal.
***
Siang sudah usai, dan Robby masih gagal dalam pelajaran terbangnya.
“Begini, Robby. Terbang. Ingat, sekarang kau bukanlah manusia. Kau adalah seorang makhluk transendental. Jadi, coba gunakan kekuatanmu.”
Feliks menasihati. Jujur saja, ia tahu bahwa masih ada bagian manusia yang tersisa dalam diri Robby, hal itulah yang menghalanginya dari mengontrol udara yang ada di sekelilingnya.
“Aku tahu kau akan bisa melalui proses ini. Yakinlah.” Feliks berkata lagi.
“Dan, oh ya. Santailah sedikit.” Feliks melempar sebuah kunci kepada Robby. “Pakailah sesukamu.”
Robby menangkap kunci tersebut dan memandangnya. “Kunci apa ini?”
Feliks hanya tersenyum. “Tekan saja tombolnya.”
Robby yang masih bingung akhirnya menekan tombol yang ada pada kunci tersebut.
Tiba-tiba, secercah cahaya mengelilinginya. Berputar-putar cepat, dan mulai melapisi tubuhnya.
“Apa ini?”
Feliks hanya melambai-lambaikan tangan. Tubuh Robbby pun mgnhilang ditelan cahaya tersebut.
***
Bukan menghilang lebih tepatnya, namun dipindahkan. Robby kini berada dalam sebuah ruangan mewah yang sangat keren.
Ada tempat tidur super empuk yang modern, meja kerja, sofa, kulkas yang penuh dengan makanan, layar LCD super besar, dan juga komputer canggih. Selain itu ada pula dapur mewah yang minimalis. Di sana sudah ada segala macam peralatan memasak dan bumbu-bumbu yang bisa ia gunakan kapan saja.
“Waw.” Ujarnya saat melihat koleksi kartu pemain bola yang lengkap. Ya, kartu-kartu yang selama ini selalu ia kolesi dan ia pamerkan di sekolah.
Lalu Robby melihat ke jendela. Dan yang ia lihat adalah...
“Tunggu, ini di langit?” Seluruh pemandangan awan tipis dan Kota Jakarta yang indah kini berada di bawahnya.
Robby telat menyadari bahwa kunci itu adalah sebuah kunci kendaraan awan yang juga berfungsi sebagai rumah para Penghuni Langit.
Layar LCD super besar tadi adalah alat navigasi dan pengaturan perjalanan. Dan ia tinggal memilih lokasi yang ingin ia kunjungi. Selain itu, ia juga bisa tinggal dan menikmati fasilitas di dalam kendaraan tersebut. Sudah seperti jet pribadi super mewah!
“Kau suka?” Tanya Feliks yang tiba-tiba berada di sana.
Robby mengelus dada. “Kau harus berhenti muncul secara tiba-tiba seperti itu.”
“Hahaha. Bagaimana rumah barumu ini?”
Robby mengangguk-angguk. “Lumayan. Terutama bagian kartu-kartu bola tersebut. Aku sangat menyukainya.”
Feliks tersenyum. “Kami menyebut kendaraan ini Cloudvan. Bisa kau gunakan untuk perjalanan sesuka hati, sekaligus tinggal di dalamnya. Menarik, bukan?”
“Kau tinggal di cloudvan juga?”
Feliks tertawa. “Aku tidak bisa memberitahumu. Aku adalah Partner seorang Penjaga Langit. Lokasi kami rahasia.”
Robby mengangguk-angguk saja.
“Hei, lebih baik kau mandi sana. Malam ini, aku ingin membawamu ke suatu tempat.”
***
Feliks membawa Robby dengan Mobil awannya. Mirip seperti Cloudvan, namun yang ini lebih kecil. Sepri mobil pada umumnya, namun terbuat dari awan.
“Baiklah, siap-siap untuk melihat sesuatu yang belum pernah kau lihat.” Feliks membuat suasana menjadi dramatis.
Di depan mereka, ada sebuah awan tebal yang berbentuk seperti lorong dan mengarah ke atas. Mereka pun masuk ke dalamnya dan.. Slurp, naik dengan cepat. Robby berpegangan pada apa saja yang ada. Kecepatan mereka tinggi sekali. Feliks hanya tertawa kecil di sebelahnya melihat kekagetan Robby.
Dan setelah 10 detik dalam kecepatan gila tersebut, mobil mereka keluar dari lorong awan tadi, melambat dengan halus dan sempurna.
Kini, di depan Robby, tampak sebuah kota megah yang terbuat dari awan kristal. Dengan gedung-gedung bertingkat, papan-papan iklan, jalanan, taman, sungai-sungai, dan lampu-lampu indah.
Feliks segera masuk ke dalam jalanan bersama mobil-mobil lainnya. Mereka mengambil jalanan utama yang menyuguhkan pemandagnan seluruh kota. Indah sekali.
“Di mana kita?” Tanya Robby.
Feliks tersenyum. “Selamat datang di noctilucent cloud.
***
“Kita berada 80 km di atas permukaan laut. Awan noctilucent adalah satu-satunya jenis awan yang bisa bertahan di atas lapisan Troposfer.”
Robby menggaruk-garukkan kepala.
“Singkatnya begini. Urutan Atmosfir dari bawah: Troposfer—Stratosfer—Mesosfer. Awan yang berasal dari air bumi yang menguap itu tidak sanggup naik ke atas lapisan troposfer. Mereka akan ‘keberatan’ karena suhu yang dingin di stratosfer.”
“Jadi, darimana datangnya awan noctilucent ini? Dari debu dan air yang menguap ketika meteor terbakar di Mesosfer. Dan karena ‘air’ dari meteor itu spesial, yang terbentuk adalah awan kristal. See? Makanya tempat ini sangat indah.”
“Manusia bisa melihat kota ini?”
Feliks tertawa. “Jangan bercanda. Ingatan mereka tentang ayahmu yang jatuh dari langit pun sudah kami hapus. Pada musim panas, mereka memang bisa melihat pantulan kristal yang ada pada awan ini, namun sisanya, mereka akan ‘kehilangan’ fenomena awan noctilucent.”
“Dan untuk kota ini, mereka sama sekali tidak bisa melihatnya.”
Robby mengangguk-angguk.
“Mau ke mana kita seakrang?”
Feliks menunjuk sebuah tempat di depannya. Gedung bertingkat yang sangat indah.
“Kita mau belanja.”
***
Feliks memarkirkan kendaraan mereka di sebuah lift khusus. Dari sana, mereka tinggal masuk ke dalam pusat perbelanjaan, dan lift tadi akan mengantar mobil mereka ke basement.
“Pusat perbelanjaan terbesar di NC—noctilucent cloud—adalah tempat ini. No-Store. Well, aku sering berbelanja di sini.” Feliks bercerita.
“Mamaku seirng membawaku ke Mal yang ada di Jakarta. Namun tak pernah kusangka bahwa di atas langit aku akan menemukan tempat seeprti ini.”
“Yeah, kalau kau mau, sebenarnya ada lagi tempat yang lebih besar.”
“Kita berada di kota Noctilucent selatan. Dekat dengan kutub selatan. Kapan-kapan aku akan membawamu ke Noctilucent utara.”
Robby meng-iya saja.
Pusat perbelanjaan tersebut sepenuhnya berkilau. Kristal membuat tiap sudutnya memancarkan keanggunan yang mewah. Hiasan menggantung di langit-langit. Kereta-kereta menghubungkan antar lantai dan toko. Semua bergerak secara efisien. Ada pula air mancur dan taman di tengah-tengah bangunan. Orang-orang bisa beristirahat di taman tersebut.
No-store memilki 154 lantai. 50 lantai di bawah adalah untuk parkiran mobil, 10 untuk pusat perbelanjaan, dan 70 untuk perkantoran. Sementara 24 lantai sisanya adalah gudang.
Feliks menjelaskan semuanya seakan-akan ia adalah pemilik tempat tersebut. Ia begitu paham detail-detail dari No-store.
“Kita mau belanja apa memangnya?” Robby bertanya saat mereka masuk ke dalam sebuah toko.
“Sudah kau ikut saja.”
Feliks membuka pintu. Orang-orang yang ada di sana langsung menyambutnya dengan ceria. Ruangan tersebut penuh dengan estalase dan kursi-kursi. Berbagai perangkat keras yang tidak diketahui oleh Robby berjajar di estalase tersebut.
“Kev! Haha, senang bertemu lagi denganmu.” Ujar seorang pria berbadan besar.
“Sudah lama juga, ya! Haha!” Feliks memang bisa dipanggil Kev. Entah apa maksudnya.
“Inikah dia?” Pria lain yang berbadan kurus menunjuk Robby. Feliks mengangguk ke arahnya.
Seluruh toko pun mendadak senyap. Orang-orang langsung membungkuk pada Robby selama 2 detik, dan kemudian menatapnya dengan hormat.
“Kau sudah terkenal sekarang.” Feliks berbisik pada bocah itu.
Seseorang mendatanginya. “Salam, wahai Penjaga Langit. Saya Troposfer. Bagian atmosfir yang paling dekat dengan bumi. Bila ada apa-apa, silahkan hubungi saya.”
“Santai saja, Tropo.” Feliks tersenyum.
Tropo pun memeluk Robby dengan erat. “Ayahmu adalah pahlawan, nak. Turut berduka cita atas kepergiannya.”
Robby mengangguk-angguk. “Ya, beliau adalah orang hebat.”
Semua orang di sana mengangguk-angguk.
Troposfer melepaskan pelukannya. “Aku berharap bisa membantu anda dalam hal apapun. Jangan pernah sungkan.”
Robby mengangguk.
“Baiklah, kembali pada pekerjaan masing-masing. Aku ada sedikit urusan di sini.”
Feliks membawa Robby ke belakang. Orang-orang pun kembali pada rutinitasnya.
***
Hacep mengelilingi tubuh Ernest yang sedang terbaring.
“Bisakah kau berhenti? Aku pusing melihatnya.” Ernest protes kepada partnernya tersebut.
“Oke, bos.” Hacer pun berhenti dan bertengger di sampingnya.
“Aku sedang merenungkan pengetahuan yang kudapat dari Pandora.” Ernest menatap binta-bintang.
“Coba saja aku bisa melihatnya lebih lama, pasti aku akan memiliki pengetahuan yang sempurna tentag senjata itu.”
Hacep ber-kwak-kwak.
“Maksudmu Alchemist bos? Yang konon bisa mengalahkan cahaya paling kuat sekalipun?”
“Ya, alat yang terbuat dari Neutrino. Partikel yang bisa melebihi kecepatan cahaya.”
“Jadi kau sudah tahu di mana senjata itu disembunyikan, bos?” Hacep bertanya kegirangan.
“”Benda itu tidak disembunyikan, Cep. Alchemist memang tidak ada. Kita harus membuatnya.” Ernest mengepalkan tangan.
“Membuatnya, bos? Bagaimana caranya?”
“Informasi yang kudapatkan adalah tentang lokasi citak biru dari alchemist tersebut. Kalau kita bisa mengambilnya, maka mungkin saja dari cetak biru itu kita bisa membuat sebuah alchemist.
“Wah, kedengarannya sulit, bos.”
“Memang. Namun itulah satu-satunya cara untuk mengalahkan Papa Sang Cahaya.”
“Bukankah ada satu cara lagi, bos?”
“Kita simpan saaja dua cara ini. Menggunakan alchemist kemungkinannya sangat kecil. Apalagi Neutrino belum tentu juga bsia menandingi kecepatan cahaya. Kita lihat saja nanti. Aku sedang berpikir.”
Hacep mengangguk-angguk.
***
“Liana, aku khawatir dengan Kev.” Mari berkata pada partnernya, si lumba-lumba, Liana.
“Mengapa memang?”
“Entahlah, namun aku mempunyai firasat buruk.”
Mari masam.
“Sesuatu akan terjadi.”
Bersambung.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar