Jumat, 01 Januari 2016

#Cerpen Nina

Waktu membaca: 7-9 menit

“Duh, maaf ya.” Lelaki itu berkata sembari membantuku mengambil buku-buku yang berjatuhan.
“Hahaha, iya gapapa kok, biasa terjadi.” Aku mencoba bersikap ramah, meski susah juga karena buku yang berjatuhan sangat banyak.
“Lain kali gue bakal hati-hati.” Ujar lelaki itu sambil berjalan lagi, meninggalkanku yang sudah berdiri dan melihat sedikit punggungnya karena terhalang tumpukan buku di tangan.
Lorong Fakultas Kedokteran UI ini memang ramai dengan lalu lalang mahasiswa. Aku baru saja dari kelas, dengan setumpuk buku, ingin menuju halte bus tepat di luar gedung ini. Namun, tanpa sengaja laki-laki tak dikenal tadi menabrakku hingga jatuh.
Aku menggelengkan kepala sekali lagi, dan kemudian melanjutkan berjalan. Gedung berbentuk persegi minimalis ini memang indah. Arsitekturnya bisa dibilang “beda sendiri” di antara bangunan-bangunan lain di Universitas kami. Warnanya abu-abu dan putih. Dengan dinding dari kaca yang elegan, sungguh. Aku saja masih suka senyum-senyum sendiri bila melihat gedung ini, serasa bukan di Indonesia.
Satu menit berlalu, dan aku sudah duduk di halte. Menunggu mobil besar berwarna kuning itu untuk menjemputku kembali ke kosan.
Aku segera berdiri begitu melihat satu bus datang beberapa menit kemudian. Udara sangat sejuk kala itu. Daun-daun dari pohon Shorea spp berjatuhan menimpa jalanan, membuat suasana begitu asri. Beberapa binatang seperti Eutropis multifasciata atau kadal kebun berlarian di antara pepohonan. Tampak sangat riang, tidak seperti mahasiswa kedokteran yang setiap hari dijejali buku, praktek, dan ujian. Aku terkadang ingin menjadi kadal saja.
Sial, setelah naik bus ini, aku tidak mendapat tempat duduk. Aku pun akhirnya berdiri di belakang, sambil masih menahan beban dari buku-buku itu.
“Duduk, mbak.” Seseorang di belakangku berdiri.
“Terima kasih.” Kataku sambil langsung menduduki tempat kosong yang baru ditinggalkannya. “Loh, kamu?”
Orang itu mengerutkan dahi. “Haha, bisa ketemu lagi kita.”
Dia, adalah laki-laki yang barusan menabrakku di lorong menuju pintu keluar, dan seingatku, ia tadi berjalan cepat ke arah dalam, sementara aku keluar. Namun kenapa dia yang bisa ada di bus ini duluan?
“Kok kamu bisa di ini?” Aku bertanya keheranan.
“Well, ini negara bebas.”
Aku menggeleng. “Gak, maksudku, tadi kan kamu ke dalem gedung, dan aku keluar, harusnya aku dong yang sampe sini duluan.”
“Hehe.”
Orang aneh, pikirku dalam hati.
Aku segera mengusir pikiranku darinya dan memasang headset. Mendengarkan lagu Demi Lovato, heart attack, sambil menunggu bus ini sampai tujuan.
Kemudian, tepat di halte Fakultas Teknik, aku turun. Dari sini, aku lewat jalan belakang yang menghubungkan kampus dengan lingkungan luar. Di sana banyak warung makan, jajanan, juga kos-kosan. Dari situ, hanya tinggal berjalan kaki sedikit untuk sampai ke kosanku, kosan putri “Amelia”.
***
“Masih ngerjain tugas, Rof?” Ati, teman kosanku bertanya.
“Iya nih, Neuromuskuloskeletal, gak ngerti parah.” Aku berkata sambil menggaruk-garuk kepala.
Semester tiga sekarang bikin aku benar-benar bingung. Kuliah terbagi jadi 4 blok. Blok-blok ini semacam pembagian pelajaran. Yang pertama, blok neoplasma, mempelajari kelainan sel-sel dalam tubuh, seperti kanker dan kawan-kawan. Lalu, blok muskuloskeletal, atau anatomi. Duh, ketemu mayat beneran. Ngebongkar tubuh manusia mati itu, rasanya ingin muntah. Tapi ini termasuk yang kami pelajari. Ah.
Sudahlah, lupakan.
“Yee, kamu aja gak ngerti, Rof, apalagi aku yang cuma mahasiswa sastra.” Ati menggeleng-gelengkan kepala sambil menyeruput teh manisnya.
“Biar. Biar mahasiswa kedokteran saja yang menanggung beban ini, Ti. Mahasiswa sastra mah tinggal bikin puisi aja tentang perjuangan kami.”
Ati ketawa sambil meninggalkanku yang masih terpaku di depan laptop. Di sampingku, buku-buku bertebaran. Ada buku ajar Neuromuskuloskeletal dari kampus, buku Nicola J. Petty yang judulnya panjang sekali; Neuromusculoskeletal Examination and Assessment: A Handbook for Therapists, dan buku-buku mata kuliah lain yang sengaja kubawa untuk membuat kesan bahwa aku sedang berjuang.
Aku pun kembali bergulat dalam tugas.
***
Esoknya, aku keluar kelas dengan membawa 3 tumpuk buku tebal di tangan. Atlas Anatomy Sobotta; Friedrich Paulson and Jens, Fundamentals of Anatomy and Physiology; Martini, dan Color Atlas of Anatomy; Rohen, Yokochi.
Hari ini Blok Musculoskeletal rencananya ingin aku babat habis, belajar sendiri di kelas sampai pingsan. Namun ternyata, sore itu, aku sudah tidak kuat lagi. Kuputuskan untuk pulang ke kosan saja, tidak jadi sampai pingsan di kelas.
Bruk.
“Duh, maaf ya.”
Aku terjatuh. Dan begitu mengangkat kepala, persis seperti kemarin, suara dan sosoknya, masih lelaki yang sama yang menabrakku.
“Lain kali gue bakal lebih hati-hati.” Katanya.
Aku menggelengkan kepala untuk menambah kesadaran. Kejadian ini terulang lagi?
Ia membantuku berdiri, kemudian pergi. Di lorong ini, kami sudah bertabrakan dua kali. Dan ia bahkan hanya bersikap seperti itu?
“Hey!” Aku memanggilnya.
Lelaki itu menengok.
“Kali ini aku duluan yang bakal sampai di bus.” Ujarku. Ia tersenyum.
***
Penat.
Penat.
Itulah yang benar-benar kurasakan. Aku sebenarnya sudah sangat ingin pingsan di kelas tadi saat belajar sendirian. Dan kini, aku memijit-mijit kepalaku sembari duduk menunggu bus yang akan datang. Entah apa yang barusan kupikirkan saat mencoba “bersikap hangat” dengan melemparkan sedikit guyon receh kepada lelaki itu.
Kali ini aku duluan yang bakal sampai di bus.
Mungkin itu reaksi dari hormon adrenalin-ku yang menyeruak di antara kepenatan. Bahwa aku butuh hiburan. Bahwa aku harus keluar dari segala rutinitas menyebalkan ini.
Dan mungkin, lelaki itu adalah jawabannya.
***
Bus selanjutnya datang, dan aku naik. Refleks, aku melihat ke segala arah, memastikan “ketidak-beradaan” lelaki itu sebagai tanda bahwa aku menang. Dan, yes, dia belum sampai di sini. Aku segera menyiapkan skenario apa yang akan terjadi bila nanti aku memergokinya naik ke dalam bus. Mungkin aku akan bilang “Kamu kalah!” atau “Sekarang, aku yang menang” atau “Kita bisa mulai dengan tukeran nomer telepon”.
Beberapa detik setelahnya, aku senyum-senyum sendiri.
Bus pun berjalan pelan. Belum kulihat tanda-tanda lelaki itu masuk. Bahkan ketika bus ini meninggalkan halte, ekor mataku tidak menangkap sosoknya sama sekali.
Aku cemberut. Sedikit kecewa.
***
“Masih sama tugas yang kemaren, Rof?”
Ati menyeruput teh manisnya di depanku yang sedang bergumul dengan laptop.
“Engga, udah beda blok. Ini tugas anatomi, Ti.”
Yang diajak bicara hanya manggut-manggut. “Tau gak, Rof, gua baru kenal sama cowok tadi siang.”
Aku mengangkat alis. Nge-gosip dulu ah.
“IYA? SIAPA TI? LU NAKSIR?” Aku memberondongnya.
“Yaelah, selow dikit napa. Baru aja kenalan.” Ati mengelak. Teh manisnya hampir-hampir tumpah karena ia kaget.
“Oke.” Aku memasang posisi duduk nyaman untuk mendengarkannya.
“Namanya Nina, Rof. Anak kedokteran juga, tapi kayaknya dia lebih cocok jadi anak sastra deh. Hahaha.” Ati senyum-senyum. Hmm.
“Cowok kok namanya Nina? Aneh.” Aku berkomentar.
“Muhammad Nina, Rof. Yaelah kayak nama lu kurang aneh aja. Siti Rofiah. Panggliannya Rofi. Deuh.”
Aku menyerang Ati. Gemes.
“Duh aduh jadi cerita gak nih?” Ati berkata sambil menghindari paket cubitan-jambakan-kelitikan dariku.
Aku berhenti. “Terus gimana?”
“Iya, jadi gua kenal dia gara-gara tabrakan di depan Masjid Ukhuwah.Terus gua jatoh kan, tadinya gua mau langsung berdiri, tapi begitu ngeliat cowoknya lumayan, gua pura-pura mau pingsan aja deh.”
Ati kewata setan.
“Dih. Ada-ada aja lu. Terus gimana?”
“Abis itu dia bawa gua ke kantin sebelah masjid, terus dia beliin gua jeruk anget deh. Yuhuu, abis itu kita kenalan.”
Aku menyimak-imut.
“Masa dia langsung ngegombalin aku coba.” Ati bercerita.
“Gimana?”
“Bapak kamu ilmuwan ya?” Ati menirukan gaya cowok tadi. “Kata dia gitu. Yaudah kan gua langsung nangkep itu sebagai gombalan. Penasaran juga apa jawabannya entar.”
“Iya, kok kamu tau?” Ati menjawab.
“Soalnya beliau tahu banget gimana nyari pasangan hidup yang punya genom eukariotik yang fantastis, sehingga ketika kromoson homolognya bertemu dengan punya ibumu, bisa menghasilkan anak secantik dan se-mempesona kamu.”
Aku ngakak.
“Lu ngerti, Ti?”
“Boro-boro!” Ati melempar bantal ke arahku. “Makanya abis itu aku nanya ‘maksud kamu apaan’?”
Aku tertawa-tawa.
“Sori-sori, maklum gua anak FK.” Ati menirukan gaya cowok itu.
“Tuh kan, Rof. Dia anak FK tapi lebih cocok jadi anak sastra!”
“Iya-iya, Ti. By the way, udah sampe situ doang kenalannya?”
“Yaa, udah. Abis itu pas jeruk angetnya dateng, dia malah pergi. Katanya ada urusan mendadak.”
“Ooooohh, kecewa dong sahabatku ini.” Aku memasang muka kasihan.
“Hahaha. Ya tapi berkesan Rof. Lumayan lah, coba tiap hari ada cowok ganteng gitu kan nabrak aku terus kenalan. Hmm.”
Aku terkekeh. Ati memang cantik sih. Lebih cantik dariku sedikit lah. Ia punya wajah manis berkacamata, yang kalau tersenyum itu—aduhai. Sementara aku, bisa dibilang lumayan. Hehe. Entah bagaimana mendeskripsikan kecantikan yang—menurutku—aku miliki. Dan entah mengapa dengan semua modal itu kami berdua masih jomblo saja. Duh. aku jadi terbayang cowok yang sudah dua kali menabrakku itu. Sebenarnya dia cukup lumayan sih.
“Eh tugas lo gak dilanjutin Rof?” Ati membuyarkan lamunanku.
“Yawlaaaaa. ATI UNTUNG LU NGINGETIN!”
Aku segera teringat tugas yang masih menumpuk itu. Waktu sangat berharga bagi anak FK. Tak boleh terbuang begitu saja.
***
Semenjak tahun 2013, mahasiswa S1 Program kedokteran UI belajar di Kampus Depok. Sebelumnya, mahasiswa kedokteran menempati kampus yang ada di Salemba. Aku—yang dari SMP memang bercita-cita ingin masuk UI Depok—beruntung karena masuk tepat di tahun 2013, angkatan pertama yang mulai menggunakan kampus Depok, di rumpun Fakkultas Ilmu Kesehatan.
Duh, jadi melantur.
Esoknya, ketika aku sedang bersantai sambil membaca buku di pinggir danau kenanga—danau besar yang ada di samping masjid ukhuwah—aku melihat cowok yang biasanya menabrakku itu sedang lewat.
Segera kututup buku dan kusapa dia.
“Hai!”
Ia menengok ke arahku.
“Oh, hai.” Jawabnya sambil tersenyum. Ia berjalan ke arahku. Aku langsung kikuk sambil merapihkan rambut seadanya.
Namun, ketika ia tinggal beberapa langkah lagi menuju tempatku duduk, seseorang memanggilnya dari belakang.
“Hei Nina!”
Cowok tadi menengok.
Loh?
Kulihat Ati setengah berlari menuju cowok yang barusan ia panggil Nina itu. Jadi selama ini?
“Wah, kita ketemu lagi.” Nina tersenyum sambil berkata kepada Ati yang sudah berada di sampingnya.
“Iya nih, hehe.” Ati balas tersenyum genit. Huh.
“Loh? Rofi?” Ujarnya saat menangkap visualku yang sedang duduk di bawah pohon tepat beberapa langkah di depannya.
“Jadi ini Ti yang kamu ceritain?” Aku bertanya (sok) polos.
“Iya, hehe. Kenalin, Nin, ini Rofi, teman kos-anku.” Ati memperkenalkan.
 Cowok itu seperti menahan tawa. “Iya, sudah kenal kok. Dia ini udah dua kali gua tabrak di lorong FK. Hahaha.”
Wajahku memerah.
“Lah si Rofi kagak cerita-cerita nih nabrak cowok ganteng. Malah aku yang cerita kalo kemaren tabrakan di depan Masjid Ukhuwah.”
“Hehe.” Ucapku. Mati gaya.
Suasana betul-betul kikuk saat itu.
“A.. aku duluan ya Ti.” Ujarku sambil berdiri dan membersihkan celana sedikit.
Nina terlihat agak tidak nyaman ketika melihatku ingin pergi. Ya, kan aku yang pertama memanggilnya, dan ia tampaknya sudah ingin mengobrol denganku sebelum ada panggilan tak diinginkan dari Ati.
“Loh, buru-buru amat Rof?” Ati bertanya tepat sebelum langkah pertama kujejakkan demi meninggalkan ke-kaku-an ini.
“Iya, mau ada kelas 15 menit lagi.” Aku berbohong.
Ati ber-oh dan yaudah sambil mengangguk-angguk. Pun dengan Nina.
Aku memang ada kelas 15 menit kemudian. Ya, kelas menenangkan diri di pojok masjid ukhuwah. Dengan aku satu-satunya murid yang hadir. Dengan dosen kebijaksanaan yang kugali dari dalam diriku sendiri.
Oke.
***
“Gimana jalan-jalannya?” Aku membuka percakapan saat Ati menutup pintu kosan kami, jam 8 malam. Aku sedang membaca buku saat itu.
“Wkwkw, ya begitu.”
Aku pulang cepat. Sore sudah di kosan. Skip 2 matkul. Tidak apa-apa lah. Sedang ingin sendiri. Nanti aku kejar.
“Nina ganteng kan Rof?’ Ati ini, sudah membuka luka di tubuhku, lalu disiram lagi pakai air garam. Perih.
“Ya lumayan.” Aku skeptis.
“Aku kira semua anak FK garing, ternyata ada juga yang humoris kayak dia.”
“Hmm.”
“Lu setuju gak kalo gua jadian sama dia?”
Segera kututup buku. WHAT?!
“Gua cocok kan sama Nina?”
Sudah disiram air garam, dikoyak-koyak lagi luka ini sampai dalam.
Aku mengatur napas. “Cocok kok.” Senyum yang terpaksa.
“Hehe.” Ati menuju kulkas dan meminum teh manis kesukaannya.
Aku di dalam hati hanya bisa mengutuk-ngutuk pasrah.
***
Bruk.
Aku terjatuh. Buku-buku di tanganku berserakan. Hanya tiga buku sih.
“Maaf.” Ujar orang yang menabrakku.
“Nina!” Ujarku saat melihat sosoknya.
“Hei. Maaf gue buru-buru.” Ia kembali berjalan cepat ke dalam lorong.
Dengan ini sudah 3 kali. Dan tanpa obrolan sekalipun. Ah, mungkin aku tidak seberuntung Ati. Atau mungkin Nina memang perlu kuusir saja dari pikiran ini.
***
Dua minggu berlalu, besok ada ujian blok. Aku sudah dari minggu lalu belajar mati-matian hingga hanya tidur 4 jam sehari. Miris. Namun perlu.
Ati kulihat santai-santai saja. Ia membaca ketika ada waktu luang. Tugas pun tidak telalu berat. Kulihat terkadang ia membaca puisi di pojok kasurnya. Atau bernyanyi sesekali. Mungkin memraktekkan musikalisasi dari bait-bait puisinya.
Untung saja aku anak kedokteran. Hampir seluruh waktu terkuras untuk pelajaran, sehingga perlahan, aku mulai lupa dengan kejadian-kejadian yang menguras emosi kemarin. Dan Ati, perlahan tampak biasa lagi di mataku. Bukan sesosok gadis jahat yang merebut inceran orang.
Untunglah.
***
Ujian blok. Aku mendapat nilai sempurna. Oke, tidak sempurna juga sih. Namun setidaknya tidak ada mata kuliah yang mendapat C. Tiga puluh persen mendapat A, dan sisanya B. Bangga.
Pikiran tentang Nina kini sudah sempurna hilang dari ingatanku. Aku menjalani hari-hari dengan pelajaran, dan sedikit hobi untuk memotret dari pingir danau kenanga. Sendiri itu tidak buruk kok.
Beberapa kali aku melihat Ati berjalan bersama Nina di pinggir danau ini. Mereka tidak melihatku, dan aku- pun akhirnya iseng memotret kemesraan mereka. Lalu, ketika kutunjukkan foto tersebut pada Ati di kosan, wajahnya memerah malu.
“Paparazzi ya!” Ati menuduhku.
“Hehe, cuma kebetulan ngeliat kalian jalan di pinggir danau, kok.”
“Aaaah, Rofi bikin gue malu aja. Jangan disebar, wkwk.”
“Santai, bos.”
Kini, aku sudah bisa menyenyuminya dengan tulus.
***
10 tahun kemudian.
Aku mengikuti program Millenium Development Goals (MDGs) alias program yang menempatkan dokter-dokter muda ke pelosok negeri. Aku ditempatkan di Puskesmas Oguta, Kecamatan Dampa Utara, Kabupaten Toli-toli, Sulawesi Tengah. Bersama beberapa dokter lain, kami rutin melakukan penyuluhan kesehatan terhadap masyarakat. Masalahnya, masih banyak dari mereka yang bila sakit malah dibawa ke dukun, bukan puskesmas. Pemikiran itulah yang berusaha kita ubah.
Sudah setahun aku ditempatkan di sini. Ya, aku bahagia bisa melakukan tugas mulia menolong warga desa. Orang tuaku pun setuju.
Aku mempunyai kantor kecil di Puskesmas. Pemandangan di sini sangat indah. Anak-anak kecil bermain dengan riang. Pohon-pohon menghijau dengan bebas tanpa ancaman pembangunan apartemen atau mall sepeti yang terjadi di kota-kota metropolitan.
Di mejaku, beberapa peralatan dokter tergeletak. Aku menarik napas dalam. Sudah lama juga aku menjadi dokter, profesi yang kuidam-idamkan semenjak SD. 
Kulihat lagi meja kerjaku yang sederhana. Aku tersenyum kecil. Di sana, ada beberapa bingkai foto. Foto keluargaku—aku, ayah, ibu, dan adik. Lalu di bingkai satunya ada sebuah foto usang yang kuambil 10 tahun yang lalu.
Foto teman kosanku, Ati, yang sedang menggandeng tangan seorang cowok yang dulu begitu kuidam-idamkan. Foto yang tak sengaja kuambil di pinggir danau kenanga, foto mereka yang sedang mesra-mesranya. Ah, tak terasa waktu telah berjalan begitu cepat. Aku sudah tidak bertukar kabar dengan Ati sejak 5 tahun yang lalu. Kira-kira bagaimana kabarnya ya?
“Dok, ada pasien.” Kudengar sebuah suara memanggilku.
“Ih, kamu aja yang nanganin dulu. Lagi asyik mengenang masa lalu nih.” Jawabku ketus.
“Hahaha. Itu foto pake segala masih dipajang. Udah lama itu, Rof. Kan sekarang aku udah sama kamu.”
Aku tersenyum mendengarnya.
“Ya gapapa lah. Lagian dulu kamu pake sempet kepincut sama si Ati.”
“Wkwk, itu kan demi menggali informasi tentang kamu lebih jauh.”
Aku tersenyum lagi. Cowok ini memang jagonya kalo bikin alasan.
“Ya sudah. Kali ini aku yang tangani.”
Aku bangkit dari kursiku dan menuju pintu keluar. Namun, sebelum aku melewati pintu itu, Dokter Nina menahanku.
“Pasiennya itu aku.”
Ia tiba-tiba menciumku dan menutup pintu. Aku tahu ini akan mengarah ke mana.
“Wahai suamiku yang banyak alasan. Ini masih di kantor, tau!”
Nina tidak menghiraukan. Aku pasrah saja. Setelah semua pintu dan jendela ditutup, kami pun larut dalam elegi cinta.
Tamat.
Pondok Petir, 01 Januari 2016

Mari awali tahun dengan sebuah cerita cinta ^^






Tidak ada komentar:

Posting Komentar