Waktu membaca: 7-9 menit
“Duh, maaf ya.” Lelaki itu
berkata sembari membantuku mengambil buku-buku yang berjatuhan.
“Hahaha, iya gapapa kok, biasa
terjadi.” Aku mencoba bersikap ramah, meski susah juga karena buku yang
berjatuhan sangat banyak.
“Lain kali gue bakal hati-hati.”
Ujar lelaki itu sambil berjalan lagi, meninggalkanku yang sudah berdiri dan
melihat sedikit punggungnya karena terhalang tumpukan buku di tangan.
Lorong Fakultas Kedokteran UI ini
memang ramai dengan lalu lalang mahasiswa. Aku baru saja dari kelas, dengan
setumpuk buku, ingin menuju halte bus tepat di luar gedung ini. Namun, tanpa
sengaja laki-laki tak dikenal tadi menabrakku hingga jatuh.
Aku menggelengkan kepala sekali
lagi, dan kemudian melanjutkan berjalan. Gedung berbentuk persegi minimalis ini
memang indah. Arsitekturnya bisa dibilang “beda sendiri” di antara
bangunan-bangunan lain di Universitas kami. Warnanya abu-abu dan putih. Dengan
dinding dari kaca yang elegan, sungguh. Aku saja masih suka senyum-senyum
sendiri bila melihat gedung ini, serasa bukan di Indonesia.
Satu menit berlalu, dan aku sudah
duduk di halte. Menunggu mobil besar berwarna kuning itu untuk menjemputku
kembali ke kosan.
Aku segera berdiri begitu melihat
satu bus datang beberapa menit kemudian. Udara sangat sejuk kala itu. Daun-daun
dari pohon Shorea spp berjatuhan menimpa jalanan, membuat suasana begitu
asri. Beberapa binatang seperti Eutropis multifasciata atau kadal kebun
berlarian di antara pepohonan. Tampak sangat riang, tidak seperti mahasiswa
kedokteran yang setiap hari dijejali buku, praktek, dan ujian. Aku terkadang
ingin menjadi kadal saja.
Sial, setelah naik bus ini, aku
tidak mendapat tempat duduk. Aku pun akhirnya berdiri di belakang, sambil masih
menahan beban dari buku-buku itu.
“Duduk, mbak.” Seseorang di
belakangku berdiri.
“Terima kasih.” Kataku sambil
langsung menduduki tempat kosong yang baru ditinggalkannya. “Loh, kamu?”
Orang itu mengerutkan dahi.
“Haha, bisa ketemu lagi kita.”
Dia, adalah laki-laki yang
barusan menabrakku di lorong menuju pintu keluar, dan seingatku, ia tadi
berjalan cepat ke arah dalam, sementara aku keluar. Namun kenapa dia yang bisa
ada di bus ini duluan?
“Kok kamu bisa di ini?” Aku
bertanya keheranan.
“Well, ini negara bebas.”
Aku menggeleng. “Gak, maksudku,
tadi kan kamu ke dalem gedung, dan aku keluar, harusnya aku dong yang sampe
sini duluan.”
“Hehe.”
Orang aneh, pikirku dalam
hati.
Aku segera mengusir pikiranku
darinya dan memasang headset. Mendengarkan lagu Demi Lovato, heart attack, sambil
menunggu bus ini sampai tujuan.
Kemudian, tepat di halte Fakultas
Teknik, aku turun. Dari sini, aku lewat jalan belakang yang menghubungkan
kampus dengan lingkungan luar. Di sana banyak warung makan, jajanan, juga
kos-kosan. Dari situ, hanya tinggal berjalan kaki sedikit untuk sampai ke
kosanku, kosan putri “Amelia”.
***
“Masih ngerjain tugas, Rof?” Ati,
teman kosanku bertanya.
“Iya
nih, Neuromuskuloskeletal,
gak ngerti
parah.” Aku berkata sambil menggaruk-garuk kepala.
Semester tiga sekarang
bikin aku benar-benar bingung. Kuliah terbagi jadi 4 blok. Blok-blok ini
semacam pembagian pelajaran. Yang pertama, blok neoplasma, mempelajari
kelainan sel-sel dalam tubuh, seperti kanker dan kawan-kawan. Lalu, blok muskuloskeletal,
atau anatomi. Duh, ketemu mayat beneran. Ngebongkar tubuh manusia mati itu,
rasanya ingin muntah. Tapi ini termasuk yang kami pelajari. Ah.
Sudahlah, lupakan.
“Yee,
kamu aja gak ngerti, Rof, apalagi aku yang cuma mahasiswa sastra.” Ati
menggeleng-gelengkan kepala sambil menyeruput teh manisnya.
“Biar.
Biar mahasiswa kedokteran saja yang menanggung beban ini, Ti. Mahasiswa sastra mah
tinggal bikin puisi aja tentang perjuangan kami.”
Ati ketawa sambil meninggalkanku yang masih terpaku di
depan laptop. Di sampingku, buku-buku bertebaran. Ada buku ajar Neuromuskuloskeletal
dari kampus, buku Nicola J. Petty yang judulnya panjang sekali; Neuromusculoskeletal Examination and Assessment: A
Handbook for Therapists, dan buku-buku
mata kuliah lain yang sengaja kubawa untuk membuat kesan bahwa aku sedang
berjuang.
Aku pun kembali bergulat dalam
tugas.
***
Esoknya,
aku keluar kelas dengan membawa 3 tumpuk buku tebal di tangan. Atlas Anatomy
Sobotta; Friedrich Paulson and Jens, Fundamentals of Anatomy and Physiology;
Martini, dan Color Atlas of Anatomy; Rohen, Yokochi.
Hari
ini Blok Musculoskeletal rencananya ingin aku babat habis, belajar
sendiri di kelas sampai pingsan. Namun ternyata, sore itu, aku sudah tidak kuat
lagi. Kuputuskan untuk pulang ke kosan saja, tidak jadi sampai pingsan di
kelas.
Bruk.
“Duh,
maaf ya.”
Aku
terjatuh. Dan begitu mengangkat kepala, persis seperti kemarin, suara dan
sosoknya, masih lelaki yang sama yang menabrakku.
“Lain
kali gue bakal lebih hati-hati.” Katanya.
Aku
menggelengkan kepala untuk menambah kesadaran. Kejadian ini terulang lagi?
Ia
membantuku berdiri, kemudian pergi. Di lorong ini, kami sudah bertabrakan dua
kali. Dan ia bahkan hanya bersikap seperti itu?
“Hey!”
Aku memanggilnya.
Lelaki
itu menengok.
“Kali
ini aku duluan yang bakal sampai di bus.” Ujarku. Ia tersenyum.
***
Penat.
Penat.
Itulah
yang benar-benar kurasakan. Aku sebenarnya sudah sangat ingin pingsan di kelas
tadi saat belajar sendirian. Dan kini, aku memijit-mijit kepalaku sembari duduk
menunggu bus yang akan datang. Entah apa yang barusan kupikirkan saat mencoba
“bersikap hangat” dengan melemparkan sedikit guyon receh kepada lelaki itu.
Kali
ini aku duluan yang bakal sampai di bus.
Mungkin
itu reaksi dari hormon adrenalin-ku yang menyeruak di antara kepenatan. Bahwa
aku butuh hiburan. Bahwa aku harus keluar dari segala rutinitas menyebalkan
ini.
Dan
mungkin, lelaki itu adalah jawabannya.
***
Bus selanjutnya
datang, dan aku naik. Refleks, aku melihat ke segala arah, memastikan
“ketidak-beradaan” lelaki itu sebagai tanda bahwa aku menang. Dan, yes, dia
belum sampai di sini. Aku segera menyiapkan skenario apa yang akan terjadi bila
nanti aku memergokinya naik ke dalam bus. Mungkin aku akan bilang “Kamu kalah!”
atau “Sekarang, aku yang menang” atau “Kita bisa mulai dengan tukeran nomer
telepon”.
Beberapa detik
setelahnya, aku senyum-senyum sendiri.
Bus pun berjalan pelan.
Belum kulihat tanda-tanda lelaki itu masuk. Bahkan ketika bus ini meninggalkan
halte, ekor mataku tidak menangkap sosoknya sama sekali.
Aku cemberut. Sedikit
kecewa.
***
“Masih sama tugas yang
kemaren, Rof?”
Ati menyeruput teh
manisnya di depanku yang sedang bergumul dengan laptop.
“Engga, udah beda
blok. Ini tugas anatomi, Ti.”
Yang diajak bicara
hanya manggut-manggut. “Tau gak, Rof, gua baru kenal sama cowok tadi siang.”
Aku mengangkat alis.
Nge-gosip dulu ah.
“IYA? SIAPA TI? LU
NAKSIR?” Aku memberondongnya.
“Yaelah, selow dikit
napa. Baru aja kenalan.” Ati mengelak. Teh manisnya hampir-hampir tumpah karena
ia kaget.
“Oke.” Aku memasang
posisi duduk nyaman untuk mendengarkannya.
“Namanya Nina, Rof.
Anak kedokteran juga, tapi kayaknya dia lebih cocok jadi anak sastra deh.
Hahaha.” Ati senyum-senyum. Hmm.
“Cowok kok namanya
Nina? Aneh.” Aku berkomentar.
“Muhammad Nina, Rof.
Yaelah kayak nama lu kurang aneh aja. Siti Rofiah. Panggliannya Rofi. Deuh.”
Aku menyerang Ati.
Gemes.
“Duh aduh jadi cerita
gak nih?” Ati berkata sambil menghindari paket cubitan-jambakan-kelitikan
dariku.
Aku berhenti. “Terus
gimana?”
“Iya, jadi gua kenal
dia gara-gara tabrakan di depan Masjid Ukhuwah.Terus gua jatoh kan, tadinya gua
mau langsung berdiri, tapi begitu ngeliat cowoknya lumayan, gua pura-pura mau
pingsan aja deh.”
Ati kewata setan.
“Dih. Ada-ada aja lu.
Terus gimana?”
“Abis itu dia bawa gua
ke kantin sebelah masjid, terus dia beliin gua jeruk anget deh. Yuhuu, abis itu
kita kenalan.”
Aku menyimak-imut.
“Masa dia langsung
ngegombalin aku coba.” Ati bercerita.
“Gimana?”
“Bapak kamu ilmuwan ya?”
Ati menirukan gaya cowok tadi. “Kata dia gitu. Yaudah kan gua langsung nangkep
itu sebagai gombalan. Penasaran juga apa jawabannya entar.”
“Iya, kok kamu tau?”
Ati menjawab.
“Soalnya beliau tahu
banget gimana nyari pasangan hidup yang punya genom eukariotik yang
fantastis, sehingga ketika kromoson homolognya bertemu dengan punya
ibumu, bisa menghasilkan anak secantik dan se-mempesona kamu.”
Aku ngakak.
“Lu ngerti, Ti?”
“Boro-boro!” Ati
melempar bantal ke arahku. “Makanya abis itu aku nanya ‘maksud kamu apaan’?”
Aku tertawa-tawa.
“Sori-sori, maklum gua
anak FK.” Ati menirukan gaya cowok itu.
“Tuh kan, Rof. Dia
anak FK tapi lebih cocok jadi anak sastra!”
“Iya-iya, Ti. By the
way, udah sampe situ doang kenalannya?”
“Yaa, udah. Abis itu
pas jeruk angetnya dateng, dia malah pergi. Katanya ada urusan mendadak.”
“Ooooohh, kecewa dong
sahabatku ini.” Aku memasang muka kasihan.
“Hahaha. Ya tapi
berkesan Rof. Lumayan lah, coba tiap hari ada cowok ganteng gitu kan nabrak aku
terus kenalan. Hmm.”
Aku terkekeh. Ati
memang cantik sih. Lebih cantik dariku sedikit lah. Ia punya wajah manis
berkacamata, yang kalau tersenyum itu—aduhai. Sementara aku, bisa dibilang
lumayan. Hehe. Entah bagaimana mendeskripsikan kecantikan yang—menurutku—aku
miliki. Dan entah mengapa dengan semua modal itu kami berdua masih jomblo saja.
Duh. aku jadi terbayang cowok yang sudah dua kali menabrakku itu. Sebenarnya
dia cukup lumayan sih.
“Eh tugas lo gak
dilanjutin Rof?” Ati membuyarkan lamunanku.
“Yawlaaaaa. ATI UNTUNG
LU NGINGETIN!”
Aku segera teringat
tugas yang masih menumpuk itu. Waktu sangat berharga bagi anak FK. Tak boleh
terbuang begitu saja.
***
Semenjak tahun 2013,
mahasiswa S1 Program kedokteran UI belajar di Kampus Depok. Sebelumnya,
mahasiswa kedokteran menempati kampus yang ada di Salemba. Aku—yang dari SMP
memang bercita-cita ingin masuk UI Depok—beruntung karena masuk tepat di tahun
2013, angkatan pertama yang mulai menggunakan kampus Depok, di rumpun Fakkultas
Ilmu Kesehatan.
Duh, jadi melantur.
Esoknya, ketika aku
sedang bersantai sambil membaca buku di pinggir danau kenanga—danau besar yang
ada di samping masjid ukhuwah—aku melihat cowok yang biasanya menabrakku
itu sedang lewat.
Segera kututup buku
dan kusapa dia.
“Hai!”
Ia menengok ke arahku.
“Oh, hai.” Jawabnya
sambil tersenyum. Ia berjalan ke arahku. Aku langsung kikuk sambil merapihkan
rambut seadanya.
Namun, ketika ia
tinggal beberapa langkah lagi menuju tempatku duduk, seseorang memanggilnya
dari belakang.
“Hei Nina!”
Cowok tadi menengok.
Loh?
Kulihat Ati setengah berlari
menuju cowok yang barusan ia panggil Nina itu. Jadi selama ini?
“Wah, kita ketemu lagi.” Nina
tersenyum sambil berkata kepada Ati yang sudah berada di sampingnya.
“Iya nih, hehe.” Ati balas tersenyum genit. Huh.
“Loh? Rofi?” Ujarnya saat menangkap visualku yang sedang duduk di bawah
pohon tepat beberapa langkah di depannya.
“Jadi ini Ti yang kamu ceritain?” Aku bertanya (sok) polos.
“Iya, hehe. Kenalin, Nin, ini Rofi, teman kos-anku.” Ati memperkenalkan.
Cowok itu seperti menahan tawa.
“Iya, sudah kenal kok. Dia ini udah dua kali gua tabrak di lorong FK.
Hahaha.”
Wajahku memerah.
“Lah si Rofi kagak cerita-cerita nih nabrak cowok ganteng. Malah aku yang
cerita kalo kemaren tabrakan di depan Masjid Ukhuwah.”
“Hehe.” Ucapku. Mati gaya.
Suasana betul-betul kikuk saat
itu.
“A.. aku duluan ya Ti.” Ujarku
sambil berdiri dan membersihkan celana sedikit.
Nina terlihat agak tidak nyaman
ketika melihatku ingin pergi. Ya, kan aku yang pertama memanggilnya, dan ia
tampaknya sudah ingin mengobrol denganku sebelum ada panggilan tak
diinginkan dari Ati.
“Loh, buru-buru amat Rof?” Ati
bertanya tepat sebelum langkah pertama kujejakkan demi meninggalkan ke-kaku-an
ini.
“Iya, mau ada kelas 15 menit
lagi.” Aku berbohong.
Ati ber-oh dan yaudah sambil
mengangguk-angguk. Pun dengan Nina.
Aku memang ada kelas 15 menit
kemudian. Ya, kelas menenangkan diri di pojok masjid ukhuwah. Dengan aku
satu-satunya murid yang hadir. Dengan dosen kebijaksanaan yang kugali dari
dalam diriku sendiri.
Oke.
***
“Gimana jalan-jalannya?” Aku
membuka percakapan saat Ati menutup pintu kosan kami, jam 8 malam. Aku sedang
membaca buku saat itu.
“Wkwkw, ya begitu.”
Aku pulang cepat. Sore sudah di
kosan. Skip 2 matkul. Tidak apa-apa lah. Sedang ingin sendiri. Nanti aku kejar.
“Nina ganteng kan Rof?’ Ati ini,
sudah membuka luka di tubuhku, lalu disiram lagi pakai air garam. Perih.
“Ya lumayan.” Aku skeptis.
“Aku kira semua anak FK garing,
ternyata ada juga yang humoris kayak dia.”
“Hmm.”
“Lu setuju gak kalo gua jadian
sama dia?”
Segera kututup buku. WHAT?!
“Gua cocok kan sama Nina?”
Sudah disiram air garam,
dikoyak-koyak lagi luka ini sampai dalam.
Aku mengatur napas. “Cocok kok.”
Senyum yang terpaksa.
“Hehe.” Ati menuju kulkas dan
meminum teh manis kesukaannya.
Aku di dalam hati hanya bisa
mengutuk-ngutuk pasrah.
***
Bruk.
Aku terjatuh. Buku-buku di
tanganku berserakan. Hanya tiga buku sih.
“Maaf.” Ujar orang yang
menabrakku.
“Nina!” Ujarku saat melihat
sosoknya.
“Hei. Maaf gue buru-buru.”
Ia kembali berjalan cepat ke dalam lorong.
Dengan ini sudah 3 kali. Dan
tanpa obrolan sekalipun. Ah, mungkin aku tidak seberuntung Ati. Atau mungkin
Nina memang perlu kuusir saja dari pikiran ini.
***
Dua minggu berlalu, besok ada
ujian blok. Aku sudah dari minggu lalu belajar mati-matian hingga hanya tidur 4
jam sehari. Miris. Namun perlu.
Ati kulihat santai-santai saja.
Ia membaca ketika ada waktu luang. Tugas pun tidak telalu berat. Kulihat
terkadang ia membaca puisi di pojok kasurnya. Atau bernyanyi sesekali. Mungkin
memraktekkan musikalisasi dari bait-bait puisinya.
Untung saja aku anak kedokteran.
Hampir seluruh waktu terkuras untuk pelajaran, sehingga perlahan, aku mulai
lupa dengan kejadian-kejadian yang menguras emosi kemarin. Dan Ati, perlahan
tampak biasa lagi di mataku. Bukan sesosok gadis jahat yang merebut inceran
orang.
Untunglah.
***
Ujian blok. Aku mendapat nilai
sempurna. Oke, tidak sempurna juga sih. Namun setidaknya tidak ada mata kuliah
yang mendapat C. Tiga puluh persen mendapat A, dan sisanya B. Bangga.
Pikiran tentang Nina kini sudah
sempurna hilang dari ingatanku. Aku menjalani hari-hari dengan pelajaran, dan
sedikit hobi untuk memotret dari pingir danau kenanga. Sendiri itu tidak buruk
kok.
Beberapa kali aku melihat Ati
berjalan bersama Nina di pinggir danau ini. Mereka tidak melihatku, dan aku-
pun akhirnya iseng memotret kemesraan mereka. Lalu, ketika kutunjukkan foto
tersebut pada Ati di kosan, wajahnya memerah malu.
“Paparazzi ya!” Ati menuduhku.
“Hehe, cuma kebetulan ngeliat
kalian jalan di pinggir danau, kok.”
“Aaaah, Rofi bikin gue malu
aja. Jangan disebar, wkwk.”
“Santai, bos.”
Kini, aku sudah bisa menyenyuminya
dengan tulus.
***
10 tahun kemudian.
Aku mengikuti program Millenium
Development Goals (MDGs) alias program yang menempatkan dokter-dokter muda
ke pelosok negeri. Aku ditempatkan di Puskesmas Oguta, Kecamatan Dampa Utara,
Kabupaten Toli-toli, Sulawesi Tengah. Bersama beberapa dokter lain, kami rutin
melakukan penyuluhan kesehatan terhadap masyarakat. Masalahnya, masih banyak
dari mereka yang bila sakit malah dibawa ke dukun, bukan puskesmas. Pemikiran
itulah yang berusaha kita ubah.
Sudah setahun aku ditempatkan di
sini. Ya, aku bahagia bisa melakukan tugas mulia menolong warga desa. Orang
tuaku pun setuju.
Aku mempunyai kantor kecil di
Puskesmas. Pemandangan di sini sangat indah. Anak-anak kecil bermain dengan
riang. Pohon-pohon menghijau dengan bebas tanpa ancaman pembangunan apartemen
atau mall sepeti yang terjadi di kota-kota metropolitan.
Di mejaku, beberapa peralatan
dokter tergeletak. Aku menarik napas dalam. Sudah lama juga aku menjadi dokter,
profesi yang kuidam-idamkan semenjak SD.
Kulihat lagi meja kerjaku yang
sederhana. Aku tersenyum kecil. Di sana, ada beberapa bingkai foto. Foto
keluargaku—aku, ayah, ibu, dan adik. Lalu di bingkai satunya ada sebuah foto
usang yang kuambil 10 tahun yang lalu.
Foto teman kosanku, Ati, yang
sedang menggandeng tangan seorang cowok yang dulu begitu kuidam-idamkan. Foto
yang tak sengaja kuambil di pinggir danau kenanga, foto mereka yang sedang
mesra-mesranya. Ah, tak terasa waktu telah berjalan begitu cepat. Aku sudah
tidak bertukar kabar dengan Ati sejak 5 tahun yang lalu. Kira-kira bagaimana
kabarnya ya?
“Dok, ada pasien.” Kudengar
sebuah suara memanggilku.
“Ih, kamu aja yang nanganin dulu.
Lagi asyik mengenang masa lalu nih.” Jawabku ketus.
“Hahaha. Itu foto pake segala
masih dipajang. Udah lama itu, Rof. Kan sekarang aku udah sama kamu.”
Aku tersenyum mendengarnya.
“Ya gapapa lah. Lagian dulu kamu
pake sempet kepincut sama si Ati.”
“Wkwk, itu kan demi menggali
informasi tentang kamu lebih jauh.”
Aku tersenyum lagi. Cowok ini
memang jagonya kalo bikin alasan.
“Ya sudah. Kali ini aku yang
tangani.”
Aku bangkit dari kursiku dan
menuju pintu keluar. Namun, sebelum aku melewati pintu itu, Dokter Nina
menahanku.
“Pasiennya itu aku.”
Ia tiba-tiba menciumku dan
menutup pintu. Aku tahu ini akan mengarah ke mana.
“Wahai suamiku yang banyak
alasan. Ini masih di kantor, tau!”
Nina tidak menghiraukan. Aku
pasrah saja. Setelah semua pintu dan jendela ditutup, kami pun larut dalam
elegi cinta.
Tamat.
Pondok
Petir, 01 Januari 2016
Mari
awali tahun dengan sebuah cerita cinta ^^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar