Previously, on “Murder”
“Mereka menyerang Markas GPS, Mursi! Kita tidak bisa tinggal diam!” Andrew, pemimpin klan GPS yang hadir dalam rapat itu, mencak-mencak.
Dentuman terjadi di atas tempat rapat itu.
“O...” Desis Mursi.
---
“Kita tidak akan bertahan, Mursi!” Kumar berkata saat dentuman demi dentuman mereka terima, beserta laporan dari awak kapal bahwa perisai mereka hampir hancur.
“Sir.” Kapten Miles tiba-tiba menunjuk ke arah barat lautan. Beberapa rudal menghantam kapal selam-kapal selam Navy hingga meledak.
Bum! Bum! Bum!
Dari kejauhan, tampak pula lusinan helikopter berdatangan dan menembaki 4 helikopter musuh hingga hancur.
“Perempuan itu...”
---
“Lama tidak bertemu, Mursi...” Jean masuk ke kapal dengan santai. Barusan, ia menjadi pahlawan karena telah menghancurkan sepasukan tentara O yang menyerang mereka.
“Aku ke sini untuk bertemu Santi.”
“Cih, sayang dia sudah pergi beberapa saat yang lalu.” Red berkata sinis.
“Oh ya?” Jean tersenyum.
---
“The Hell!! Kaca ini anti peluru! Panah macam apa yang bisa menembusnya?!”
Beberapa saat yang lalu, sebuah helikopter mendekat dan menembakkan panahnya ke helikopter Santi.
Santi pun mendekat pada panah yang menancap itu, kemudian melihat lebih teliti.
“Panah ini dilapisi intan. Ujungnya sekuat baja. Pantas saja kaca kita tidak kuat.”
Santi menyentuh ujung panah tersebut. Tanpa menyadari bahwa ada racun yang menempel di sana. Dan begitu jemarinya mendarat di ujung anak panah, hanya gelap yang mampu ia rasakan.
Santi roboh.
---
“Bawa dia masuk.” Ujar Jean. Sesaat kemudian, beberapa prajuritnya membawa tubuh Santi yang masih terengah-engah.
“Santi! Mengapa kau...”
Red terheran-heran, namun melanjutkan kalimatnya kepada orang lain.
“...Mengapa kau membawanya lagi kemari?”
Jean mengangkat bahu.
“Karena aku harus bertemu dengannya, Red.”
Jean angkat bicara pada anak itu.
“Perkenalkan, Santi. Namaku adalah Jean.”
Suasana hening sejenak.
“Aku adalah ibumu.”
Murder Eps 6
Semua orang yang berada di ruangan itu terkejut begitu mendengar perkataan Jean. Oh ya, kecuali Red tentunya.
“Jangan bercanda!” Santi berontak dalam pegangan prajurit Jean. Ia masih belum sadar betul.
“Justru, aku ingin berhenti bercanda, Santi. Aku ibumu. Aku adalah Ibu yang tidak pernah diceritakan oleh Red, ayahmu.”
Yang disebut namanya hanya mematung di pojokan ruangan. Qadir yang ada di sebelahnya juga masih terkejut.
“Kau ayah Santi?” Ujarnya. Lah, dia malah kudet.
Mursi maju satu langkah. “Dan aku tak kalah terkejut, Jean. Kalian ini memang keluarga penjahat kelas dunia. Pantas saja anakmu itu...:”
“Anakku apa?!” Jean memotong kalimat Mursi.
Lelaki itu mengangkat bahu. “Well, bisa dibilang, berbakat.”
“Apa buktinya kalau kau adalah ibuku?!” Santi yang masih geram karena kejadian ini bertanya galak.
“Hah. Dasar kau Santiago Calavatra yang keras kepala. Sudah kubilang aku ini ibumu, jangan buat aku mengeluarkan semua aibmu di sini hanya untuk meyakinkanmu bahwa aku memang orang yang melahirkanmu!”
“Cih.” Santi meludah, meski sebenarnya dalam hati ia juga bertanya-tanya, tidak banyak orang yang tahu nama lengkapku, mengapa dia tahu?
“Cukup, Santi. Tunjukkan hormatmu sedikit. Dia memang ibumu.” Dan Rd kali ini angkat bicara. Membuat semua pernyataan Jean bernilai.
“Namamu adalah Santiago Calavatra. Itu diambil dari nama Arsitek yang membuat WTC, New York. Kami menamaimu seperti itu karena WTC...” Red berhenti sejenak untuk mengambil napas.
“Aku dan Red bertemu di gedung itu.” Jean melanjutkan.
“Aku menghentikannya yang ingin mengganggu seorang pemain akrobat tali yang saat itu ingin melintasi Menara Kembar dengan kawatnya. Sebuah atraksi illegal.” Jean bercerita.
“Philippe Petit?” Qadir bertanya.
“Ya, itu nama sang Pemain Akrobat Tali. Red sangat iseng ingin mengganggunya dengan sniper riffles saat itu. Ia ingin menembak talinya hingga putus, lalu melihat Philippe jatuh dari ketinggian 1.776 kaki. Sangat tidak manusiawi.”
“Aku masih sangat muda waktu itu!” Red menimpali.
“Untung saja aku menyelamatkan nyawa pemuda tak bersalah tersebut.” Jean menatap Red. “Kami pun berkelahi. Kami sepakat bahwa tidak ada yang kalah dalam perkelahian tersebut. Kami sama-sama menang. Karena ternyata, dari kejadian pagi itu, kami bisa mengenal satu sama lain.”
Wajah Red memerah. Sungguh lucu.
“Awalnya, kami ingin menamaimu Philippe, sesuai dengan pemain akrobat yang beraksi saat itu, namun aku berubah pikiran di detik-detik kelahiranmu, Santi.”
“Kau protes dengan alasan yang aneh, Jean.” Red menimpali lagi. Entah mengapa tidak ada yang protes dengan “dongeng di saat genting” kali itu. Semua malah mendengarkan khusyu’ seakan lupa bahwa barusan mereka sedang berada dalam situasiantara hidup dan mati.
“Yeah, aku merasa bahwa Philippe Petit adalah nama yang buruk. Aku tidak ingin nasibmu menjadi buruk, Santi. Jadi, aku mengganti namamu dengan Santiago Calavatra. Sang arsitek tempat pertemuan aku dan ayahmu.”
Santi menarik napas panjang. Tak disangka-sangka, orang tuanya malah reuni di saat seperti ini.
“Lepaskan aku!” Santi melepaskan diri dari pegangan prajurit Jean, lalu berjalan ke arah pintu keluar.
“Mau ke mana kau?” Red bertanya.
“Sudah kubilang, aku akan menyelesaikan Murderku. Orang tua seperi kalian lanjutkan saja rencana kalian!”
Santi menjawab dengan tegas.
Semua yang ada di sana tampak tak ada yang berusaha menghentikan Santi dari langkahnya meninggalkan ruangan tersebut.
“Sudah kuduga, meski kau menamainya Santiago, hatinya tetap sekeras kepala Philippe Petit!” Red menutup argumen Jean.
Perempuan itu hanya menatap kosong punggung Santi hingga ia hilang di balik pintu.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar