Minggu, 10 April 2016

#Serial Sang Badai Eps 7

Sang Badai Eps 7
Rencana menghancurkan bumi adalah sebuah rencana yang besar. Tidak bisa ujug-ujug dilaksanakan begitu saja. Ernest sendiri telah merencanakan hal ini beberapa ratus tahun yang lalu. Saat itu ia mulai bosan dengan kesendiriannya di Jupiter. Hobinya—membuat badai—memang tersalurkan sih, namun tetap saja kesendirian itu perlahan membunuh. Tak lagi ia betah dengan kondisinya waktu itu.
Maka, dengan mengantongi rencana A dan B, ia kini siap membuat kejutan.
Satu langkah telah berhasil ia lewati. Mengintip Pandora.
Langkah kedua pun berhasil. Membunuh Ernest. Ya, meski ganjarannya ia harus menepi selama 10 tahun karena luka yang dideritanya dalam pertarungan dahsyat yang tak pernah disaksikan oleh manusia tersebut.
Kini, ia menuju langkah selanjutnya.
Membuat Alchemist, dan membunuh Mari.
***
“Bangun, nak! Ayo kita mulai latihan!” Bim mengangkat tubuh Robb dari tempat tidurnya, tanpa menggunakan tangan.
“Wooo, mengapa aku terbang?”
Bim memiringkan kepala. ”Karena aku yang menggerakkanmu.”
Dan dengan sekali jentikan jari, Bim menjatuhkan lagi anak itu ke kasurnya. Cloudvan miliknya tetap tenang di atas langit. Malam itu, Robby tidur dengan pulas karena kelelahan belanja di hari sebelumnya. Bim sendiri tidur di sofa ruang tengah. Mereka bahkan belum merapihkan barang belanjaan mereka.
“Jadi, apa latihan kita hari ini?” Tanya Robby lima menit kemudian, setelah ia menggosok gigi dan mengganti baju.
“Masih sama, terbang.”
Robby menelan ludah.
“Namun, kali ini aku memastikan bahwa kau akan berhasil.”
Senyuman seram terlintas di wajah Bim. Seperti om-om yang menakuti anak kecil.
“Semoga saja begitu.”
***
Dan saat itulah, Robby pertama kalinya merasakan terbang. Pelan, indah, dan mulus. Hanya butuh 2 jam bagi Bim untuk bisa membuatnya merasakan sensasi ini. Coba dari kemarin Bim melatihku, pasti aku langsung bisa terbang, pikirnya.
“Merasa senang?” Bim tiba-tiba muncul di sampingnya.
“Aku sebenarnya takut ketinggian.” Jawab Robby.
“Kau tidak akan takut lagi, karena sekarang, kau yang mengendalikan ketinggian itu sendiri.”
Robby tersenyum. Bim benar. Ia kini merasa sebagai makhluk transendental seutuhnya.
***
2 jam yang lalu.
“Kau akan terbang, Robby. Apa yang harus kau ingat saat terbang?”
Robby berpikir. “Tidak tahu. Memangnya apa?”
“Agar tidak jatuh.”
Bim serentak mendorongnya dari cloudvan. Tubuh kecil Robby pun meluncur ke bawah bersama teriakan ketakutannya. Sadis.
“Aaaaaaa, BIIIIIMMMM!”
Sedetik kemudian, Bim sudah sampai di samping bocah itu.
“Terbanglah, Robby. Naik. Ke atas.”
Wajah Robby menggelepar-gelepar ditampar angin.
“Aku. Belum. Siap. Dasar.”
Bim tersenyum lalu menangkap sang bocah.
“Oke. Kita mulai dari awal. Apa yang harus kau ingat ketika terbang?”
Robby masih mengatur napas. Tiga detik kemudian, ia melihat ke wajah Bim yang kini memeganginya.
“Agar tidak jatuh.” Robby menjawab.
“Kalau begitu, lakukan.”
Dan Bim melepas Robby lagi. Sang bocah menjerit-jerit sambil terus meluncur ke bawah. Dari tempatnya, Bim hanya menggelengkan kepala sambil sesekali memotret wajah memalukan sang bocah.
***
DI percobaan ke 41 lah, Robby berhasil terbang.
“Ingat, apa yang harus kau pikirkan saat terbang?”
Dan itu merupakan pertanyaan Bim yang ke-41 juga.
“Huh.. huh.. agar... tidak jatuh.”
Lewat sepersekian detik setelah jawaban itu dilontarkan, Bim melepasnya lagi ke udara. Membiarkan bocah itu terjun bebas. Menabrak lapisan-lapisan angin.
Namun kali ini Robby tidak teriak. Ia mencoba mencerna pertanyaan yang diulang-ulang terus oleh gurunya. Lalu, kepalanya penuh oleh sebuah pikiran; agar tidak jauh.
Tidak jatuh. Tidak jatuh. Tidak jatuh.
Beberapa detik kemudian, tubuhnya berhenti meluncur ke bawah. Robby merasakan angin berhenti menamparnya.
Sekonyong-konyong, ia mulai terbang.
***
“Kau adalah makhluk transendental. Kau harus bisa mengendalikan kekuatanmu. Dan satu-satunya cara untuk mengendalikan kekuatanmu adalah dengan mengendalikan pikiranmu. Itu saja.”
Bim menjelaskan dengan santai.
Mereka kini beristirahat dengan tenang di sebuah awan. Bim yang memadatkannya. Menjadikan awan tersebut seperti sebuah sofa tempat bersantai. Lalu, pria itu membawa awan mereka ke bawah, agar mereka bisa melihat pemandangan pulau Jawa yang eksotis.
“Aku harus bisa mengendalikan kekuatanku, katamu. Namun sejujurnya, aku sendiri tidak mengetahui kekuatan apa saja yang kupunya, Bim.”
Robby menyeruput air awan yang diberikan oleh bim. Air itu enak. Bim membawa sebungkus muniman sachet belanjaan mereka kemarin, lalu mengembunkan awan mereka sedikit, dan menyeduhnya dengan bubuk minuman tersebut.
Hasilnya, minuman awan rasa jeruk.
“Kau punya banyak kekuatan, Robby. Kau adalah Penjaga langit. Golongan tertinggi dari makhluk transendental. Aku akan memberitahumu perlahan-lahan saja. Karena ada lebih dari 1000 kekuatan yang kau punya. Termasuk untuk menahan meteor sebesar gunung. Ya, kau bisa melakukannya.”
Robby menelan ludah mendengar perkataan Bim barusan.
“Aku kuat, ternyata.”
“Tentu saja. Kau akan menjadi seperti ayahmu.”
Bim menyeruput minumannya lagi.
“Oh ya, terkait hal itu, aku ingin bertanya sesuatu.”
Bim mengangkat alis. “Tanya saja, nak.”
Robby menggerakkan kepalanya sedikit sebelum melontarkan pertanyaannya.
“Ummm.. aku adalah anak dari Galang, Sang Atmosfir. Salah satu penjaga langit. Nah, apakah aku adalah satu-satunya? Maksudku, apakah Penjaga langit yang lain mempunyai anak juga?”
Bim menghabiskan minumannya sampai tetes terakhir, lalu menjawab dengan diplomatis.
“Pertanyaan menarik. Kau punya bakat untuk mencuri pengetahuan, nak. Bagus. Dan terkait hal ini, penjelasannya cukup rumit sebenarnya. Tapi baiklah, akan kujawab.”
“Penjaga Langit, atau makhluk transendental manapun, kebanyakan tidak memiliki anak. Mengapa? Karena mereka tibak bisa. Perkawinan antara makhluk transendental dengan makhluk transendental lain tidak akan menghasilkan keturunan, kau tahu?”
Robby menggeleng.
“Nah, satu-satunya cara bila kau ingin memiliki anak adalah dengan menikahi manusia.”
Robby memotong. “Seperti yang ayahku lakukan.”
“Tepat sekali.” Bim melihat Robby dengan wajah seperti seorang guru yang senang karena anak muridnya cepat mengerti.
“Nah, ayahmu pintar. Ia menikahi manusia yang sebenarnya adalah makhluk transendental. Sehingga kau, anaknya, tetap mempunyai kekuatan penuh sebagai makhluk transendental.”
Robby mengangguk-angguk. Ia memang sempat diberitahu oleh Felix bahwa ibunya adalah Lady Hans. Dan ia sedang menjalani hukuman karena fitnah keji orang-orang yang telah membunuh ayahnya.
“Lalu apa yang terjadi dengan anak campuran dari makhluk transendental dan manusia biasa?”
Bim tersenyum mendengar pertanyaan selanjutnya.
“Mereka tetap menjadi manusia biasa. Selamanya.”
***
“Jadi, bagaimana pembagian tugasnya, Mauna Loa?”
Yang ditanya menatap dingin ke semua peserta rapat.
“Kita membutuhkan sedikitnya 72 item untuk membuat Alchemist. Aku akan membagi kita menjadi 3 kelompok. Kelompok pertama diketuai oleh aku sendiri, kelompok kedua oleh Kilimanjaro, dan kelompok ketiga dipimpin oleh Mariana.”
“Tujuh puluh dua item tersebut tersebar di belahanbumi yang berbeda. Dan kita harus mengumpulkannya secara cepat, lalu mengirimkan kepada bos di Jupiter agar ia bisa membuat alat tersebut di sana.”
Semua masih mendengar dengan takzim.                                                          
“Aku sudah membuat peta dan detail item apa saja yang kita butuhkan. Seperti misalnya uranium yang ada di Oklo, Afrika. Lalu lumpur di Sidoarjo, Indonesia, dan lain sebagainya.”
Mauna Loa menarik napas sebelum melanjutkan.
“Masalahnya...”
Ia menggantung kalimat tersebut. Membuat suasana yang sunyi tambah temaram bagaikan lampu minyak di tengah hutan.
“Aku tidak yakin kita bisa mengambil semua barang tersebut secara diam-diam. Kita mungkin—atau pasti—akan membuat keributan.”
Kilimanjaro memotong.
“Maka dari itu...” Ia menatap Mauna Loa, minta lampu hijau untuk melanjutkan perkataannya.
“Kita tidak akan sembunyi-sembunyi lagi. Bos telah mendeklarasikan perang. Maka, inilah saat yang tepat bagi kita untuk juga memulai pertempuran kita.”
“Kita akan menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalan kita untuk mendapatkan item-item tersebut. Karena aku yakin, Felix si Kuda Terbang pasti sudah memperingatkan para penjaga item pembuat alchemist untuk waspada.”
“Maka, mulai saat ini, kita akan melawan.”
***
Sepuluh orang dibagi tiga.
Kelompok pertama, dipimpin Kilimanjaro, mengambil item-item di Timur Bumi. Kelompok kedua, yang dipimpin oleh Mariana, mengambil yang ada di sisi Barat. Sedangkan kelompok terakhir, yang dipimpin langsung oleh Mauna Loa, berusaha mengacaukan Dewan Langit, yang juga adalah kumpulan makhluk transendental terkuat sepeti Samudra dan Awan.
Sasaran pertama Mauna Loa adalah Langit Asia Tenggara. Mereka datang ke sana dan langsung menangkap Joko, Sang Langit. Serangan secara mengejutkan ini ternyata sangat ampuh. Joko tertangkap dengan mudah. Tak lupa, mereka meninggalkan robekan sigil dari Langit China.
Esoknya, mereka pergi ke Samudra Hindia. Dengan cepat mereka pun dapat menawan Hindia dan membawanya ke markas mereka. Dan sesuai rencana Mauna Loa, mereka meninggalkan sigil Antartika di sana.
Bumi kacau, makhluk transendental panik. Desas-desus mengenai sebuah kelompok yang menculik para dewan langit tersebar. Celakanya, semua saling menuduh. Langit China dan Antartika disudutkan karena sigil mereka ditemukan di lokasi kejadian.
Yang tertuduh pun menolak habis-habisan, dan tidak mengaku bahwa penculikan tersebut adalah ulah mereka. Suasana pun makin memanas.
Di sisi lain, Kilimanjaro berhasil mendapatan 14 item pertama setelah melumpuhkan tiga gunung dan lima sungai di Afrika. Mereka datang dengan cepat dan menghilang sama cepatnya.
Mariana pun tidak kalah sukses, ia berhasil mengumpulkan 24 item yang dibutuhkan. Tidak ada halangan berarti sepanjang perjalanan mereka. Bahkan, semua ini terasa sangat mudah sekali.
Seisi bumi, setelah dalam dua hari penuh kekacauan ini, saling menuduh, memfitnah, dan mencari dalang dari kerusuhan yang terjadi.
“Mengapa orang sekuat Samudra Hindia dapat dengan mudah dilumpuhkan?!” Para Dewan Langit berkumpul untuk membahas masalah ini.
“Semua ini tidak masuk akal. Dua klan besar sudah siap bertarung. Langit China dan Asia Tenggar sudah di puncak emosi mereka. Juga dengan Antartika dan Samudra Hindia.”
“Kita harus menghentikan mereka!”
Dewan Langit masih terus mebahas masalah tersebut hingga larut malam.
Memang, satu hal yang membuat mereka heran. Kelompok mana yang bisa berbuat keonaran sehebat ini dengan mulus?
***
Dua hari sebelumnya.
“Dan untuk melancarkan rencana kita, aku akan memberi kalian sesuatu.”
Mauna Loa berbicara dengan nada berat.
“Ini, badai Ernest yang telah dikonversikan menjadi alat teleportasi. Dengan ini, kita akan masuk dan keluar medan pertempuran dengan mudah. Dan bisa meloloskan diri dengan cepat.”
“Bos mengeluarkan setengah dari kekuatannya untuk alat ini. Sebegitu pentingnya alchemist untuknya, ia sampai rela membuat alat ini untuk kita. Kalau saja kekuatannya tidak terkuras untuk membuat alat ini, maka ia tidak akan terluka separah sekarang.”
“Tunggu, jadi pertempuran melawan Gaang kemarin, bos hanya menggunakan setengah kekuatannya?”
Seorang anggota aliansi bertanya.
“Benar.”
“Dan ia tetap menang melawan Galang yang menggunakan seluruh kekuatannya?”
“Tidak juga. Saat itu, Galang sudah melemah.”
Mauna Loa menjelaskan.
“Sang Atmosfir sudah banyak kehilangan kekuatan sebelumnya. Seperti yang kalian tahu, ia mempunyai anak. Dan bila seorang makhluk transendental mempunyai anak, maka kekuatannya akan menurun drastis, dan berpindah kepada anak itu sebelum ia mati.”
Seluruh hadirin terdiam.
Jadi, itulah kebenarannya.
***
“Ini dia makanannya. Ayo dimakan! Aku akan menghukummu kalau ka menyisakan makanan!” Bim menaruh nampan besar hasil masakannya di meja makan.
“Kelihatannya enak.” Robby memandang makanan di depannya itu dengan tatapan napsu.
“Tentu saja, ini kan buatan ko....”
Bum!
Cloudvan mereka terguncang. Listrik yang menerangi mobil awan tersebut mati secara tiba-tiba.
“Robby, tetap di dekatku, nak.”
Tidak ada jawaban.
“Ro...”
Dan belum selesai Bim memanggil nama tersebut, sang anak sudah menghilang dari tempatnya tadi.
Bim kecolongan.
Robby menghilang begitu saja. Entah ke mana, entah bersama siapa.
Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar