Selasa, 12 April 2016

#Serial Murder Eps 7

Murder Eps 7
Markas besar O, Jenewa, Swiss.
“Santi adalah proyek besar kita. Peperangan yang akan terjadi antara dirinya dan manusia super buatan kita akan menjadi fokus utama selanjutnya. Ini akan menjadi bagian penting dalam sejarah umat manusia.”
Sebuah suara keluar dari mointor, beserta gambar wajah dan kantor yang sibuk di belakangnya.
“Aku mendengar dari mata-mata kita bahwa Santi menolak untuk bergabung dengan aliansi besutan Mursi, dan memilih untuk melanjutkan Murdernya. Keputusan yang ia ambil sedikit memuluskan rencana kita.”
Kali ini, sosok misterius yang berada di kantor itu yang bicara.
“Namun tetap saja, kita tidak bisa meremehkan anak itu.”
Sosok ketiga yang bicara sekarang.
Maka, sudah bisa ditebak, percakapan super rahasia ini terjadi antara tiga pimpinan O. Sosok paling menakutkan sekaligus paling berbahaya di dunia. Penjahat dari para penjahat.
Serigala yang tak pernah diketahui oleh gerombolan domba di dunia; umat manusia.
Kim Jong Un tersenyum licik.
“Itu berarti kita langsung mulai saja pertarungan ini secepatnya.”
Di belahan bumi yang lain, Erdogan, sang Presiden Turki menjawab lirih.
“Akan sangat bijak bila kita tidak melupakan ancaman dari Mursi dan kawan-kawan. Lebih baik, urusan Santi kita tunda beberapa hari demi mengurus bajingan-bajingan yang ingin menghancurkan kita tersebut terlebih dahulu.”
Putin, yang berada di Swiss, menjawab usulan dari dua rekannya.
“Dan menurut hematku, sepertinya kita harus melakukan kedua hal tersebut bersamaan.”
Selesailah rapat itu.
Besok, hal-hal besar segera dimulai.
“Tangkap dia.”
***
“Bos, mau kupanggil beberapa wanita untuk menemani?”
Joe menawarkan hal tersebut kepada bosnya yang sepertinya sedang banyak pikiran.
“Ah, tidak perlu Joe, aku hanya ingin sendiri sekarang.”
Sang tangan kanan pun mafhum dan pamit meninggalkan ruangan.
Setelah kejadian di markas aliansi Mursi beberapa saat yang lalu, kini Santi telah sampai di Rumahnya di New York. Hanya berjarak setengah jam perjalanan menggunakan helikopter super mewahnya.
Di sana, ia kembali merenung. Ibunya, Jean, perempuan yang tak pernah ia impi-impikan keberadaanya, kini muncul di depan mata dan langsung membuatnya luluh.
Ayahnya, Red, si penjahat tua tersebut, akhirnya mengakui bahwa rahasianya selama ini telah terbongkar.
Lalu Santi melihat dirinya sendiri. Muda, kuat, kaya raya, dan ternyata berasal dari keluarga yang paling mematikan di dunia.
Ayah dan ibunya adalah penjahar kelas top. Dua-duanya pernah lolos dari Murder, dan ia kini akan menghadapi Murdernya sendiri.
Ah, Murder, katanya ia akan menghadapi manusia super. Santi menggelengkan kepala dan mencoba yakin, bahwa dirinya pasti bisa lolos dari Murdernya.
Tiba-tiba, pintunya diketuk.
“Masuk.” Ujarnya dingin.
Beru beberapa menit, sudah ada yang mau mengganggunya saja.
Dan orang yang masuk, adalah orang yang paling tidak ia sangka-sangka.
Santi agak terbelalak.
“Qadir, mau apa kau ke sini?”
Yang ditanya tersenyum culas.
“Aku adalah utusan O. Aku datang untuk memberitahumu tentang Murder yang akan kau hadapi nanti.”
Santi meneguk ludah. Jadi selama ini dia lah mata-mata O di aliansi Mursi?
“Bagaimana kau bisa pergi dari kapal itu? Cih. Seharusnya mereka sudah tahu bahwa kau lah pengkhianatnya!”
Santi mengepalkan tinju, bersiap untuk mempertahankan diri bila perlu.
“Ah, tak perlu buru-buru, Santi. Simpan pukulanmu untuk orang lain selainku. Aku di sini hanya akan menyampaikan pesan. Um, sebenarnya, pesan yang sangat penting.”
“Jawab dulu pertanyaanku.”
Santi memancingnya lagi. Dalam hatinya yang terdalam, ia sebenarnya ingin tahu apa yang terjadi dengan orang-orang di kapal tersebut. Bila Qadir berhasil pergi, apakah itu artinya Mursi dan yang lainya telah dikalahkan?
“Kau memang kepo. Baiklah, akan kuberitahu kau tentang diriku.”
Qadir memberi isyarat untuk duduk di salah satu sofa mahal milik Santi.
“Duduklah, tidak ada jebakan di situ.”
Dan sang pria arab pun duduk.
“Baiklah, sampai di mana kita? Oh ya, aku belum mulai sedikitpun, hehe.”
Santi ber-haha garing untuk lelucon Qadir yang tidak lucu sama sekali di matanya.
“Aku, bukanlah Qadir yang kau lihat di kapal bersama mereka. Aku adalah saudara kembarnya, Qadar.”
Santi berusaha keras menahan dan menawan tawa. Namun, ia tidak bisa.
“Bwahahaha. Jadi kalian kembar? Biar kutebak, pasti kalian lahir dari unta berpunuk dua kan? Yang depan si Qadir, dan yang belakang adalah kau, Qadar!”
“Lucu sekali, Santi! Kau seharusnya ikut stand up comedy, bukan menjadi penjahat!”
Qadar membalas.
“Dan kau harusnya membeli klub bola di Inggris saja!”
Santi tertawa lagi selama beberapa detik, kemudian, suasana menjadi agak tenang.
“Baiklah, lalu bagaimana kabarnya?”
Qadar menunjukkan ekspresi serius lagi demi menanggapi pertanyaan dari musuhnya tersebut.
“Ini. Ambillah.”
Pria itu menyodorkan sebuah kertas kepada Santi.
“Apa ini?”
Qadar tersenyum. “Petunjuk yang kau butuhkan.”
“Tangkap dia.”
***
“Sial. Lalu apa langkah kita selanjutnya, Mursi?! Salah satu markasku telah dibombardir oleh O! Kalau rencanamu tidak berhasil, kau akan kuhantui seumur hidup, Mursi!”
Andrew mencak-mencak setelah kekisruhan keluarga Red berakhir.
“Cih. Kalau rencana ini tidak berhasil, aku akan mati duluan daripada kau! Bagaimana mungkin hantumu akan menghantui hantuku yang lebih senior?!”
Mursi balas memencak Andrew.
“Kita tetap pada rencana semua, Mursi.” Red berkata.
“Ya, aku sepakat denganmu.”
Mursi menatap Red dengan pandangan setuju.
Jean yang ada di situ langsung menimpali. “Rencana apa? Kalian belum mengatakannya padaku.”
“Tunggu. Bukankah sebaiknya kita menemukan pengkhianat itu terlebih dahulu?”
Kali ini, Qadir yang angkat bicara.
“Ah, pengkhianat sialan. Akan kucincang dia sampai mampus.”
Kumar ikut-ikutan membuat suasana menjadi panas.
“Lalu akan kubuat tulang-tulangnya menjadi makanan hiu!”
“Ekhm. Hiu tidak memakan tulang, Kumar.” Jean menimpali.
“Ya! Kalau begitu kuberikan bersama daging-dagingnya!”
“Cukup!” Mursi menengahi.
“Kalian semua, mari kembali ke ruang rapat. Kita akan berlayar ke Samudra Pasifik sambil membahas rencana kita. Lalu, seiring waktu, kita akan menemukan pengkhianat tersebut.”
“Tangkap dia.”
***
Santi menatap halaman depannya yang rapih dan penuh dengan tanaman hijau. Calachoe pinnata yang dikoleksinya semenjak enam bulan yang lalu tumbuh subur dengan perawatan dari tukang-tukang kebunnya. Kadang, ia sendiri turun tangan merawat tanaman koleksinya. Namun, tentu sjaa, hal terebut tidak bisa ia lakukan belakangan ini.
“Bos?”
Santi menengok ke asal suara. Joe.
“Lakukan, Joe.”
“Tangkap dia.”
***
Semua kembali ke ruang rapat. Terkecuali Mursi, ia butuh beberapa saat untuk mengobrol dengan kapten kapal, sebelum pada akhirnya bergabung lagi ke ruang rapat.
“Ah, maaf menunggu.”
Mursi pun mengeluarkan remote khusus dan menyalakan layar besar di depan mereka.
Sebuah video berisi pertemuan antara dua orang di sebuah kamar mewah muncul.
“Ini  baru saja dikirim oleh anakmu, Red. Ia bertemu dengan perwakilan O beberapa saat yang lalu untuk membahas tentang Murdernya. Dan, ah.”
Mursi menekan tombol pause di klip yang tepat untuk menggambarkan wajah lawan bicara Santi di video tersebut.
“Dan inilah yang kita punya. Saudara kembar dari sang pengkhianat tersebut.”
Semua mata menuju kepada Qadir.
“Tuu.. tunggu. Kalian semua tidak menganggap bahwa akulah pengkhianat tersebut, kan?”
Mursi menarik napas dalam.
“Tangkap dia.”
Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar