Jumat, 25 Desember 2015

#Cerpen Home Alone Indonesia

Waktu membaca: 7-9 menit
“Jaga dirimu baik-baik, sayang,” ibu mencium pipiku,” ibu akan segera kembali.”
“Iya bu,” jawabku.
“Oh iya, kalau perlu apa-apa, bilang saja ke bu Desi ya!” ibu mengingatkan kembali. Bu Desi adalah tetangga kami. Ia juga adalah teman dekat ibu.
“Iya..iya, aku sudah ingat bu,” kataku lagi.
“Baiklah, dadah sayaaang…” ia melambai ke arahku sambil berjalan.
“Dadah ibuuu…” aku ikutan melambai ke arahnya.

Tak lama, ia pun masuk ke taksi kuning yang akan mengantarkannya ke stasiun. Beliau akan mengikuti pelatihan guru selama 3 hari di Solo. Beliau pergi menaiki kereta yang akan berangkat dari stasiun parujakan, Cirebon. Nantinya, aku yang tinggal di rumah sendiri akan dititipkan ke bu Desi. Untuk keperluan sehari-hari, makan, dan lain sebagainya.
Kami memang hanya tinggal berdua. Ayah dan ibu bercerai saat ibu belum tahu bahwa dirinya hamil. Sebulan setelah perceraian, barulah ia mengetahui bahwa ia sedang mengandungku. Ayah tidak tahu pergi ke mana saat iu, jadi, ibu terus menunggu dan menunggu sampai akhirnya beliau melahirkan dan membesarkanku hingga umurku 8 tahun saat ini. Ah, beliau memang keren.
Aku segera masuk kembali ke rumah. Mengunci pintu dan berlari ke dalam dengan senyum kegirangan.
Saatnya pesta, kawan! Aku menyalakan televisi dan mengeluarkan pop corn dari dapur. Tak lama, aku pun menyetel sebuah film action yang baru kupinjam dari temanku. Hahaha, asyiknya kalau tidak ada orang tua di rumah. Aku bagaikan raja di sini. Tanpa peraturan, dan tanpa siapa pun yang menyuruh-nyuruhku.
Namun saat sedang asyik-asyiknya, bu Desi datang.
Ia memencet bel saat film sedang memasuki adegan puncaknya. Aku yang mendengar ada orang yang ingin datang, segera mem-pause film tersebut dan berlari menuju pintu. Saat kulihat siapa yang datang dari kaca kecil di pintu, aku terkejut melihat itu adalah bu Desi.
“Kevaaan! Bukain pintunya dong!” ujar bu Desi saat aku tidak kunjung membukakan pintu. Jelas, aku harus membereskan ruang tv dahulu sebelum ia masuk.
“Sebentar buuuu! Kevan lagi di kamar mandi nih!” teriakku yang padahal sedang membereskan ruang tv yang berantakan.
Mungkin ada sekiar 10 menit bu Desi menunggu hingga aku membuka pintu.
“Kamu sakit perut?” tanyanya.
“Lumayan sih bu, tapi tidak apa-apa kok,” aku tersenyum meyakinkan.
“Ibu ada obat kok kalau kamu sakit perut. Nih, ibu bawakan kue, dimakan ya!” ia memberikanku sepiring kue coklat yang masih hangat.
“Sudah, ibu mau ngasih itu aja. Kalau ada apa-apa bilang ke ibu ya!” ucapnya seraya pergi lagi ke rumahnya.
Sial! Tahu begini ngapain adi aku beres-beres? Mana filmnya lagi seru! Aku mengutuki diri sendiri.
Ah, percuma menyesal, sudah berlalu.
Aku kembali menutup pintu dan masuk ke dalam. Tak sadar kalau dari tadi ada sebuah mobil van yang mengintai rumahku dari kejauhan….
***
Cirebon cukup panas hari itu. Matahari bersinar terik seperti layaknya kota-kota di pinggir laut yang lain. Membakar kulit-kulit manusia yang terbuka langsung kepadanya.
Sebuah mobil van sedari tadi mengintai sebuah rumah yang baru saja ditinggal pergi oleh pemiliknya. Mereka berniat jahat dan berencana untuk membobol rumah tersebut. Well, rumah tersebut sangatlah besar. Dengan dua lantai dan satu loteng serta halaman yang cukup untuk memarkirkan 3 mobil. Apalagi di dalamnya hanya tinggal seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Hmm, sasaran empuk untuk sekalian mereka culik dan jual di perdagangan manusia.
Sempurna. Mereka pun merencanakan bahwa nanti malam, mereka akan masuk dan mengambil semua barang berharga yang ada di sana. Namun tentu saja mereka harus tetap hati-hati, takutnya membangunkan para tetangga.
Mereka pun pulang dengan rasa gembira yang meluap-luap. Sebentar lagi, kita akan kaya! Sorak mereka dalam hati.
***
Sementara itu, aku yang sudah selesai menonton film mulai bosan tinggal di rumah sendirian. Aku butuh hiburan, namun aku tidak punya cukup ide untuk menghibur diri. Aku ingin mengundang teman ke sini, namun aku khawatir mereka malah mengacak-acak rumahku.
Di saat-saat kebingunganku memuncak, seseorang memencet bel. Asyik! Ada tamu! Semoga bukan bu Desi yang membosankan.
Aku berlari ke pintu. Mengintip dari kaca kecil di sana untuk memastikan. Wah! Ini kejutan.
Aku membuka pintu dengan cepat dan melihat seorang laki-laki ganteng di depanku.
“Hai Kevan!” ujarnya.
“Halo mas penulis! Tumben kok jarang main ke rumahku?” tanyaku padanya.
Ia adalah mas penulis, orang yang mengarang semua cerita dari awal sampai akhir. Aku sangat menyukainya.
“Hahaha, jangan ditunggu, nanti malah kecewa… eh, saya boleh masuk gak nih?” jelasnya padaku.
“Oh, boleh dong! Ayo, ayo! Kebetulan aku sedang tidak ada teman, mas!” aku mempersilahkannya masuk. Ia pun melepas sepatunya dan melangkah ke dalam.
“Wah! Rumah kamu bagus van! Siapa yang bikin?” tanyanya saat melihat-lihat sekeliling.
“Ya bagus, kan yang men-setting mas sendiri, yang membuat karakter kami semua kan juga mas! Gimana sih??” aku menjawab. Meskipun ganteng, ia benar-benar bodoh.
“Oh iya ya! Wah, beruntung kamu saya jadikan orang kaya di cerita ini!”
“Iya mas, makasih.”
“Etts, jangan berterima kasih sama saya, berterima kasihlah pada Allah SWT, Tuhan yang menjadikan saya bisa menciptakan karakter kamu dan semua cerita ini. Ucapkan hamdalah!” jelasnya panjang lebar.
“Alhamdulillah…”
“Bagus, bagus! Eh, kebetulan, saya ke sini mau menyampaikan sesuatu buat kamu,” mas penulis kembali berkata.
“Apa itu mas?” tanyaku.
“Begini…”
Ia menjelaskan padaku tentang orang jahat yang berencana untuk merampok rumahku nanti malam. Bahwa mereka sangat berbahaya dan aku harus hati-hati. Tak lupa, ia menjelaskan padaku ciri-ciri mereka.
“Mereka ada 3 orang. Yang satu perempuan dan yang dua laki-laki. Dua diantara mereka adalah suami-istri, dan laki-laki yang satu lagi adalah adik dari sang perempuan. Kamu harus berhati-hati karena mereka sudah berpengalaman dalam banyak pencurian. Tapi tenang saja, kita akan menyiapkan perangkap yang akan membuat mereka gagal merampok di sini,” mas penulis menjelaskan padaku panjang lebar.
“Mas, endingnya gimana ntar?” tanyaku padanya.
“Sssst! Gak ada bocoran apa-apa tentang hal itu!”
Aku cemberut.
“Nah, ayo kita siap-siap! Sudah jam 4 nih!” ajaknya padaku.
Kami pun menyiapkan perangkap di seluruh sisi rumah. Mulai dari halaman, sampai loteng. Kami benar-benar ingin melindungi seluruh isi rumah dengan segenap kemampuan kami. Hahay, mas penulis memang baik. Ia rela mengorbankan waktunya yang berharga untuk membantuku dalam cerita di cerpennya sendiri.
“Oke, kita sudah siap!” ujarnya 3 jam kemudian.
Kami benar-benar membuat perangkap besar-besaran. Kini, rasanya tinggal menunggu penjahat itu datang dan tersiksa dalam jebakan-jebakan kami. Hahaha. Tapi tunggu dulu.
“Mas, kamu mau langsung pulang? Nemenin aku gak malam ini?” tanyaku padanya.
Ia mengelus rambutku dan tersenyum,” kalo saya ikut campur lebih dalam, nanti para pembaca akan protes. Lagian, kamu kan tokoh utama, harusnya, kamu yang menentukan nasibmu sendiri! Mas Cuma bisa membantu sampai sini saja, oke?”
Aku cemberut.
“Heh, jangan ngambek gitu dong! Semangat! Jadikan cerpen ini cerpen terbaik yang pernah dibaca oleh para pembaca, oke? Jadi kamunya harus jadi tokoh utama yang keren! Paham?” ia membesarkan hatiku.
“Iya.. iya mas,” jawabku.
“Nah gitu dong! Mas pergi dulu ya! See you!”
Ia pun menghilang dalam sekejap. Curang, mentang-mentang pengarang jadinya bisa punya kemampuan menghilang kayak gitu. Aku juga mau tuh kalo boleh mah!
Hey! Kembali ke cerita! Ucap sebuah suara yang entah dari mana. Itu suara mas penulis!
“Iya maaaas, ettt dah tenang aja sih!” aku menjawab suara tersebut. Oke, mari kita kembali serius.
Malamnya, aku besiap-siap. Menungu kedatangan para perampok itu dengan penuh waspada.
***
Di sisi lain…
“Ayo jang! Bangun! Udah jam 11 nih! Kita mau ngerampok kan!” Kiki membangunkan adiknya yang sedang tertidur di bangku depan mobil van tersebut.
“I…iya teeeh. Elaaah, 15 menit lagi, ngantuk aing!” pinta Ujang pada kakaknya tersebut. Ciri khasnya adalah tompel di bawah mata.
“Mau bangun? Atau gue bacok?? Hah?!” Kiki mengancam.
Dengan cepat, Ujang pun melotot terbangun mendengar ancaman tersebut.
“Iya… iyaaa, ampun!” ia pun menggeleng-gelengkan matanya untuk mendapat kesadaran lebih.
“Ayo Jang, kita sebentar lagi sampai,” ujar Andi, sang ketua tim yang sekaligus suami dari Kiki. Ia mempunyai codet di pipinya.
“Oke, oke bang!” Ujang mengacungkan jempolnya tanda ia sudah siap.
“Nah, itu dia rumahnya. Ayo kita masuk.”
***
Aku melihat van tersebut datang dan parkir tak jauh dari rumahku. Mereka turun, dan kemudian berjalan mengendap-endap menuju ke sini. Kulihat, ada sang perempuan, ada laki-laki bercodet, dan ada pula yang bertompel. Oke, aku dapat mencirikan mereka semua.
Aku melihat dari teropong di loteng. Mereka melompati pagar, dan turun dengan sangat hati-hati, namun mereka tidak tahu bahwa kami memasang kawat berduri di halaman rumah sebagai ranjau pertama.
“Awww?? Apa ini??!” Got it! Mereka kena!
“Ssst!” Ujar sang perempuan pada si tompel,” kau bisa membangunkan para tetangga!”
“Iya teh! Santai! Ini kaki aing berdarah kena kawat berduri ini, kayaknya ada yang memasang jebakan buat kita!” ringis si tompel sambil memegangi kakinya.
“Kita harus hati-hati, siapa tahu anak kecil itu sangat pintar seperti yang di film Home Alone,” kata si codet.
“Baik bang!” ujar sang perempuan dan si tompel bersamaan.
Mereka pun berencana masuk lewat pintu belakang.
Aku melihat dari sisi lain loteng.
“Oke, mana kuncinya?” tanya sang perempuan.
Si tompel pun memberikan sebuah jepit rambut yang khusus mereka desain unuk membobol kunci. Namun…
“Iuwww, apa ini?” sang perempuan merasakan sesuatu yang lengket di gagang pintu. Tentu saja! Itu kan lem super power permanent glue!! Efeknya akan langsung terasa dan ia akan menempel sangat kuat.
“Gawat, tanganku tidak bisa lepas!” panik sang perempuan.
‘Sial, tanganmu menutupi lubang kunci. Sini, biar aku tarik. Tahan ya!” si codet menarik tangan sang perempuan.
“Aaawww!” jeritnya, namun sang codet langsung membungkam mulut perempuan itu.
“Ingat? Jangan berisik. Tahan saja,” katanya.
Sang perempuan mengangguk, dan ia pun melepas tangannya dari mulut perempuan tersebut.
“Oke, kita tarik lagi,” si codet kembali menarik.
“Bantu aku, Jang!” katanya menyuruh si tompel untuk ikut menarik.
Sang perempuan terlihat sangat kesakitan kala itu. Dan setelah menarik dengan sekuat tenaga, tangan itu pun lepas, namun kulitnya terobek sehingga berdarah-darah. Aw! Aku tak sanggup melihatnya.
“Tahan darahmu dengan perban! Kita harus melanjutkan misi. Sial! Ternyata anak itu sanga pintar!” Unggah si codet.
Hahaha, aku tertawa sendiri dalam hati.
Mereka pun berhasil membuka pintu, namun saat itu, tiba-tiba sebuah palu melayang ke arah mereka dan tepat memukul selangkangan si codet.
“Hummmph….” Ia menahan sakit.
Aku di sini kesulitan manahan tawa.
Mereka pun masuk. Aku segera turun ke bawah untuk tetap memperhatikan gerak-gerik mereka sambil mempersiapkan jebakan demi jebakan berikutnya.
“Oke, kita berpencar, kau masuk ke ruang tv, dan aku akan masuk ke kamar orang tuanya,” si codet membagi mereka menjadi dua tim. Ia sendirian dan si tompel bersama sang perempuan.
“Siap!”
Mereka pun berpencar.
Saat sang codet sendiri, ia masuk ke dalam kamar ibuku. Di dalamnya, tentu saja sudah ada sesuatu yang menantinya.
Begitu membuka pintu, ia tanpa sengaja sekaligus menarik pelatuk dari sebuah senapan angin yang langsung mengarah pada kakinya.
Darr!
Ia terjatuh menahan sakit.
“Awas kau! Anak kecil!” umpatnya.
Namun ia sangat kuat. Dengan cepat ia berdiri kembali dan berjalan menuju lemari perhiasan ibuku. Namun di jalan, aku sudah menaruh kelereng-kelereng kecil yang membuatnya terpeleset terlebih dahulu.
“Arrrrgh!” ia mengepalkan tangan tanda kemarahan. Namun, semakin ia marah, malah membuatnya semakin tidak waspada.
Saat ia bangun, ia menginjak sebuah perangkap tikus yang sebuat jemari kakinya terjepit kesakitan.
Aww!
Ia menuju lemari pakaian dan memukul-mukulnya. Waw, wah, ia menjadi sangat marah sepertinya sekarang.
Namun ketika ia memukul-mukul lemari tersebut, ia malah membuat sebuah bola mengelinding ke samping di atas lemari, kemudian bola itu jatuh di atas tuas njot-njotan dan membuat kelereng di sisi lainnya terbang. Kelereng itu jatuh di atas tombol yang menggerakkan sebuah mobil-mobilan untuk berjalan, dan mobil-mobilan tersebut pun menabrak sebuah pisau dan mendorongnya untuk memotong sebuah tali tipis, yang nantinya akan membuat sebuah jaring kawat terjatuh ke arahnya.
Si codet hanya termangu melihat jebakan tadi berjalan, dan tanpa sadar, sebuah jaring dari kawat berduri jauh dari langit-langit, mengurung dirinya sekaligus menggores kulitnya hingga berdarah di sana sini. Bila ia bergerak, maka kawat itu akan semakin menyakiti kulitnya.
Ia ingin sekali berteriak saat itu, namun ia menahannya karena resikonya terlalu besar.
Awww! Kelihatannya sakit sekali.
Tapi biarkan saja, yang penting, satu sudah tertangkap!
Di sisi lain, kakak-beradik itu masuk ke ruang tv. Baru saja masuk saat tiba-tiba sebuah mobil remote kontrol yang kukendalikan melewati kolong kaki mereka dan mengarah keluar.
Refleks, mereka pun mengikuti mobil tersebut karena tahu bahwa aku yang mengendalikannya.
“Di mana kau, anak kecil?” tanya sang perempuan.
“Tenang saja, kami orang baik kok, keluarlah...” kata si tompel.
“Datanglah pada kami, kami tidak akan menyakitimu kok,” kata sang perempuan.
Aku pun turun dari tangga.
“Baiklah, aku datang. Aku percaya kalian tidak akan menyakitiku….” aku tersenyum manis pada mereka.
Mereka pun tersenyum balik.
“… karena aku yang akan menyakiti kalian duluan…” lanjutku.
Kemudian aku menekan sebuah tombol remote yang membuat musik menyala di sekeliling rumah. Tentu saja, aku menyalakan musik yang keras di home theaterku untuk membuat mereka panik.
“Matikan!” teriak sang perempuan.
“Apa? Aku tak bisa mendengarmu??” aku pura-pura tidak mendengar.
“Sudahlah teh, ayo langsung kita kejar!” mereka berlari menuju tangga, namun kaki mereka malah terperosok ke dalam kayu tangga yang rapuh. Aku memang sengaja memasang jebakan di situ.
Mereka pun mencoba melepaskan kaki mereka saat aku menumpahkan cat tembok dari atas.
“Ups,” kataku.
Dua orang itu berteriak seperti mengutuk-ngutuk tidak jelas.
“Oh ya, satu lagi nih ketinggalan,” ujarku lagi sambil menjatuhkan kaleng catnya di atas kepala mereka.
Wow! Tepat sasaran! Si tompel pun pingsan.
“Awas kau anak kecil! Kalau kau tertangkap akan kujadikan kau daging cincang!” teriak sang perempuan saat kakinya sudah terlepas.
Aku berlari ke arah loteng. Dan aku yakin, suara musik yang keras akan membangunkan para tetangga. Bu desi pasti akan kemari dan melapor pada polisi.
“Di mana kau?” tanyanya saat sudah sampai di lantai 2.
“Aku di sini! Weee!” tantangku sambil memelet.
Aku berada di depan lorong yang berisi anak tangga untuk naik ke loteng. Saat sang perempuan melihatku, ia pun berlari mengejar. Dan tepat saat ia sudah dekat, kututup pintu ke lorong tersebut sehingga ia menabraknya dengan keras.
Buk! Ia terjatuh ke lantai, kesakitan.
“Ups,” aku membuka pintu lagi dan menyemprotkan pengharum ruangan ke mukanya. Otomais, ia memegang-megang matanya yang perih. Perempuan itu pun berlari mencari kamar mandi untuk mengelap matanya.
“Wow, kamar mandi ada di bawah, bu, kau harus kembali ke tangga,” ujarku saat ia pontang panting di lantai 2, kemudian, seteleah mendengar penuturanku, ia pun berlari menuju tangga. Namun nahasnya, karena berlari tanpa melihat, ia pun terpeleset dan jatuh menimpa adiknya yang baru saja bangun dari pingsannya.
Dan bruk! Mereka jatuh tak sadarkan diri lagi.
Fyuuh, aku mengusap peluh dan bersyukur karena ini semua telah berakhir. Well, benar kataku, tak lama kemudian bu Desi datang dan melapor pada polisi bahwa di rumahku ada pencuri yang sudah kulumpuhkan.
Dan beberapa menit kemudian, para polisi datang untuk mengamankan tempat kejadian perkara. Ibuku pun dikabari atas kejadian barusan. Beliau panik dan mengatakan ingin langsung pulang besok. Namun, bu Desi meyakinkannya kalau semua sudah terkendali, dan tak lupa, ia juga memuji kecerdasanku yang bisa melawan pencuri-pencuri itu seorang diri.
“Semuanya! Bersihkan tempat ini dan bawa pencuri-pencuri itu ke penjara!” ujar sang Kepala Polisi.
“Siap pak!” jawab yang lain.
Tunggu, tungu, sepertinya aku kenal dengan suara Kepala Polisi tadi…
Aku pun menengok ke arahnya. Dan ia berkedip ke arahku.
Oalaaaah, ternyata itu mas penulis toh! Dasar, ia bisa menjadi apa saja yang ia mau dalam cerita-ceritanya.
--tamat--  
Mas Penulis, hahaha
Cerpen kedua puluh. PAID!
31-08-2012, 09.16




            

2 komentar: