Waktu membaca: 7-9 menit
“Jaga
dirimu baik-baik, sayang,” ibu mencium pipiku,” ibu akan segera kembali.”
“Iya
bu,” jawabku.
“Oh
iya, kalau perlu apa-apa, bilang saja ke bu Desi ya!” ibu mengingatkan kembali.
Bu Desi adalah tetangga kami. Ia juga adalah teman dekat ibu.
“Iya..iya,
aku sudah ingat bu,” kataku lagi.
“Baiklah,
dadah sayaaang…” ia melambai ke arahku sambil berjalan.
“Dadah
ibuuu…” aku ikutan melambai ke arahnya.
Tak
lama, ia pun masuk ke taksi kuning yang akan mengantarkannya ke stasiun. Beliau
akan mengikuti pelatihan guru selama 3 hari di Solo. Beliau pergi menaiki
kereta yang akan berangkat dari stasiun parujakan, Cirebon. Nantinya, aku yang
tinggal di rumah sendiri akan dititipkan ke bu Desi. Untuk keperluan
sehari-hari, makan, dan lain sebagainya.
Kami
memang hanya tinggal berdua. Ayah dan ibu bercerai saat ibu belum tahu bahwa
dirinya hamil. Sebulan setelah perceraian, barulah ia mengetahui bahwa ia
sedang mengandungku. Ayah tidak tahu pergi ke mana saat iu, jadi, ibu terus
menunggu dan menunggu sampai akhirnya beliau melahirkan dan membesarkanku
hingga umurku 8 tahun saat ini. Ah, beliau memang keren.
Aku
segera masuk kembali ke rumah. Mengunci pintu dan berlari ke dalam dengan
senyum kegirangan.
Saatnya
pesta, kawan! Aku menyalakan televisi dan mengeluarkan pop corn dari dapur. Tak
lama, aku pun menyetel sebuah film action yang baru kupinjam dari temanku.
Hahaha, asyiknya kalau tidak ada orang tua di rumah. Aku bagaikan raja di sini.
Tanpa peraturan, dan tanpa siapa pun yang menyuruh-nyuruhku.
Namun
saat sedang asyik-asyiknya, bu Desi datang.
Ia
memencet bel saat film sedang memasuki adegan puncaknya. Aku yang mendengar ada
orang yang ingin datang, segera mem-pause film tersebut dan berlari menuju
pintu. Saat kulihat siapa yang datang dari kaca kecil di pintu, aku terkejut
melihat itu adalah bu Desi.
“Kevaaan!
Bukain pintunya dong!” ujar bu Desi saat aku tidak kunjung membukakan pintu.
Jelas, aku harus membereskan ruang tv dahulu sebelum ia masuk.
“Sebentar
buuuu! Kevan lagi di kamar mandi nih!” teriakku yang padahal sedang membereskan
ruang tv yang berantakan.
Mungkin
ada sekiar 10 menit bu Desi menunggu hingga aku membuka pintu.
“Kamu sakit perut?” tanyanya.
“Lumayan
sih bu, tapi tidak apa-apa kok,” aku tersenyum meyakinkan.
“Ibu
ada obat kok kalau kamu sakit perut. Nih, ibu bawakan kue, dimakan ya!” ia
memberikanku sepiring kue coklat yang masih hangat.
“Sudah,
ibu mau ngasih itu aja. Kalau ada apa-apa bilang ke ibu ya!” ucapnya seraya pergi lagi ke
rumahnya.
Sial!
Tahu begini ngapain adi aku beres-beres? Mana filmnya lagi seru! Aku mengutuki diri sendiri.
Ah,
percuma menyesal, sudah berlalu.
Aku
kembali menutup pintu dan masuk ke dalam. Tak sadar kalau dari tadi ada
sebuah mobil van yang mengintai rumahku dari kejauhan….
***
Cirebon
cukup panas hari itu. Matahari bersinar terik seperti layaknya kota-kota di
pinggir laut yang lain. Membakar kulit-kulit manusia yang terbuka langsung
kepadanya.
Sebuah
mobil van sedari tadi mengintai sebuah rumah yang baru saja ditinggal pergi
oleh pemiliknya. Mereka berniat jahat dan berencana untuk membobol rumah
tersebut. Well, rumah tersebut sangatlah besar. Dengan dua lantai dan satu
loteng serta halaman yang cukup untuk memarkirkan 3 mobil. Apalagi di dalamnya
hanya tinggal seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Hmm, sasaran empuk
untuk sekalian mereka culik dan jual di perdagangan manusia.
Sempurna.
Mereka pun merencanakan bahwa nanti malam, mereka akan masuk dan mengambil
semua barang berharga yang ada di sana. Namun tentu saja mereka harus tetap
hati-hati, takutnya membangunkan para tetangga.
Mereka
pun pulang dengan rasa gembira yang meluap-luap. Sebentar lagi, kita akan
kaya! Sorak mereka dalam hati.
***
Sementara
itu, aku yang sudah selesai menonton film mulai bosan tinggal di rumah
sendirian. Aku butuh hiburan, namun aku tidak punya cukup ide untuk menghibur
diri. Aku ingin mengundang teman ke sini, namun aku khawatir mereka malah
mengacak-acak rumahku.
Di
saat-saat kebingunganku memuncak, seseorang memencet bel. Asyik! Ada tamu!
Semoga bukan bu Desi yang membosankan.
Aku
berlari ke pintu. Mengintip dari kaca kecil di sana untuk memastikan. Wah! Ini
kejutan.
Aku
membuka pintu dengan cepat dan melihat seorang laki-laki ganteng di depanku.
“Hai
Kevan!” ujarnya.
“Halo
mas penulis! Tumben kok jarang main ke rumahku?” tanyaku padanya.
Ia adalah mas penulis,
orang yang mengarang semua cerita dari awal sampai akhir. Aku sangat
menyukainya.
“Hahaha, jangan ditunggu,
nanti malah kecewa… eh, saya boleh masuk gak nih?” jelasnya padaku.
“Oh, boleh dong! Ayo,
ayo! Kebetulan aku sedang tidak ada teman, mas!” aku mempersilahkannya masuk.
Ia pun melepas sepatunya dan melangkah ke dalam.
“Wah! Rumah kamu bagus
van! Siapa yang bikin?” tanyanya saat melihat-lihat sekeliling.
“Ya bagus, kan yang
men-setting mas sendiri, yang membuat karakter kami semua kan juga mas! Gimana
sih??” aku menjawab. Meskipun ganteng, ia benar-benar bodoh.
“Oh iya ya! Wah, beruntung
kamu saya jadikan orang kaya di cerita ini!”
“Iya mas, makasih.”
“Etts, jangan berterima
kasih sama saya, berterima kasihlah pada Allah SWT, Tuhan yang menjadikan saya
bisa menciptakan karakter kamu dan semua cerita ini. Ucapkan hamdalah!”
jelasnya panjang lebar.
“Alhamdulillah…”
“Bagus, bagus! Eh,
kebetulan, saya ke sini mau menyampaikan sesuatu buat kamu,” mas penulis
kembali berkata.
“Apa itu mas?” tanyaku.
“Begini…”
Ia menjelaskan padaku
tentang orang jahat yang berencana untuk merampok rumahku nanti malam. Bahwa
mereka sangat berbahaya dan aku harus hati-hati. Tak lupa, ia menjelaskan
padaku ciri-ciri mereka.
“Mereka ada 3 orang. Yang
satu perempuan dan yang dua laki-laki. Dua diantara mereka adalah suami-istri,
dan laki-laki
yang satu lagi adalah adik dari sang perempuan. Kamu harus berhati-hati karena
mereka sudah berpengalaman dalam banyak pencurian. Tapi tenang saja, kita akan
menyiapkan perangkap yang akan membuat mereka gagal merampok di sini,” mas
penulis menjelaskan padaku panjang lebar.
“Mas, endingnya gimana
ntar?” tanyaku padanya.
“Sssst! Gak ada bocoran
apa-apa tentang hal itu!”
Aku cemberut.
“Nah, ayo kita siap-siap!
Sudah jam 4 nih!” ajaknya padaku.
Kami pun menyiapkan
perangkap di seluruh sisi rumah. Mulai dari halaman, sampai loteng. Kami
benar-benar ingin melindungi seluruh isi rumah dengan segenap kemampuan kami.
Hahay, mas penulis memang baik. Ia rela mengorbankan waktunya yang berharga untuk
membantuku dalam cerita di cerpennya sendiri.
“Oke, kita sudah siap!”
ujarnya 3 jam kemudian.
Kami benar-benar membuat
perangkap besar-besaran. Kini, rasanya tinggal menunggu penjahat itu datang dan
tersiksa dalam jebakan-jebakan kami. Hahaha. Tapi tunggu dulu.
“Mas, kamu mau langsung
pulang? Nemenin aku gak malam ini?” tanyaku padanya.
Ia mengelus rambutku dan
tersenyum,” kalo saya ikut campur lebih dalam, nanti para pembaca akan protes.
Lagian, kamu kan tokoh utama, harusnya, kamu yang menentukan nasibmu sendiri!
Mas Cuma bisa membantu sampai sini saja, oke?”
Aku cemberut.
“Heh, jangan ngambek gitu
dong! Semangat! Jadikan cerpen ini cerpen terbaik yang pernah dibaca oleh para
pembaca, oke? Jadi kamunya harus jadi tokoh utama yang keren! Paham?” ia
membesarkan hatiku.
“Iya.. iya mas,” jawabku.
“Nah gitu dong! Mas pergi
dulu ya! See you!”
Ia pun menghilang dalam
sekejap. Curang, mentang-mentang pengarang jadinya bisa punya kemampuan
menghilang kayak gitu. Aku juga mau tuh kalo boleh mah!
Hey! Kembali ke
cerita! Ucap sebuah suara yang entah dari mana. Itu
suara mas penulis!
“Iya maaaas, ettt dah
tenang aja sih!” aku menjawab suara tersebut. Oke, mari kita kembali serius.
Malamnya, aku
besiap-siap. Menungu kedatangan para perampok itu dengan penuh waspada.
***
Di sisi lain…
“Ayo jang! Bangun! Udah
jam 11 nih! Kita mau ngerampok kan!” Kiki membangunkan adiknya yang sedang
tertidur di bangku depan mobil van tersebut.
“I…iya teeeh. Elaaah, 15 menit
lagi, ngantuk aing!” pinta Ujang pada kakaknya tersebut. Ciri khasnya adalah tompel di
bawah mata.
“Mau bangun? Atau gue
bacok?? Hah?!” Kiki mengancam.
Dengan cepat, Ujang pun
melotot terbangun mendengar ancaman tersebut.
“Iya… iyaaa, ampun!” ia
pun menggeleng-gelengkan matanya untuk mendapat kesadaran lebih.
“Ayo Jang, kita sebentar
lagi sampai,” ujar Andi, sang ketua tim yang sekaligus suami dari Kiki. Ia
mempunyai codet di pipinya.
“Oke, oke bang!” Ujang
mengacungkan jempolnya tanda ia sudah siap.
“Nah, itu dia rumahnya.
Ayo kita masuk.”
***
Aku melihat van tersebut
datang dan parkir tak jauh dari rumahku. Mereka turun, dan kemudian berjalan
mengendap-endap menuju ke sini. Kulihat, ada sang perempuan, ada laki-laki
bercodet, dan ada pula yang bertompel. Oke, aku dapat mencirikan mereka semua.
Aku melihat dari teropong
di loteng. Mereka
melompati pagar, dan turun dengan sangat hati-hati, namun mereka tidak tahu
bahwa kami memasang kawat berduri di halaman rumah sebagai ranjau pertama.
“Awww?? Apa ini??!” Got
it! Mereka kena!
“Ssst!”
Ujar sang perempuan pada si tompel,” kau bisa membangunkan para tetangga!”
“Iya
teh! Santai!
Ini kaki aing
berdarah kena kawat berduri ini, kayaknya ada yang memasang jebakan buat kita!”
ringis si tompel sambil memegangi kakinya.
“Kita
harus hati-hati, siapa tahu anak kecil itu sangat pintar seperti yang di film
Home Alone,” kata si codet.
“Baik
bang!” ujar sang perempuan dan si tompel bersamaan.
Mereka
pun berencana masuk lewat pintu belakang.
Aku
melihat dari sisi lain loteng.
“Oke,
mana kuncinya?” tanya sang perempuan.
Si
tompel pun memberikan sebuah jepit rambut yang khusus mereka desain unuk membobol
kunci. Namun…
“Iuwww,
apa ini?” sang perempuan merasakan sesuatu yang lengket di gagang pintu. Tentu
saja! Itu kan lem “super power permanent glue”!! Efeknya akan langsung terasa dan ia akan
menempel sangat kuat.
“Gawat,
tanganku tidak bisa lepas!” panik sang perempuan.
‘Sial,
tanganmu menutupi lubang kunci. Sini, biar aku tarik. Tahan ya!” si codet
menarik tangan sang perempuan.
“Aaawww!”
jeritnya, namun sang codet langsung membungkam mulut perempuan itu.
“Ingat?
Jangan berisik. Tahan saja,” katanya.
Sang
perempuan mengangguk, dan ia pun melepas tangannya dari mulut perempuan
tersebut.
“Oke,
kita tarik lagi,” si codet kembali menarik.
“Bantu
aku, Jang!” katanya menyuruh si tompel untuk ikut menarik.
Sang
perempuan terlihat sangat kesakitan kala itu. Dan setelah menarik dengan sekuat
tenaga, tangan itu pun lepas, namun kulitnya terobek sehingga berdarah-darah.
Aw! Aku tak sanggup melihatnya.
“Tahan
darahmu dengan perban! Kita harus melanjutkan misi. Sial! Ternyata anak itu
sanga pintar!” Unggah si codet.
Hahaha,
aku tertawa sendiri dalam hati.
Mereka
pun berhasil membuka pintu, namun saat itu, tiba-tiba sebuah palu melayang ke
arah mereka dan tepat memukul selangkangan si codet.
“Hummmph….”
Ia menahan sakit.
Aku
di sini kesulitan manahan tawa.
Mereka
pun masuk. Aku segera turun ke bawah untuk tetap memperhatikan gerak-gerik
mereka sambil mempersiapkan jebakan demi jebakan berikutnya.
“Oke,
kita berpencar, kau masuk ke ruang tv, dan aku akan masuk ke kamar orang
tuanya,” si codet membagi mereka menjadi dua tim. Ia sendirian dan si tompel bersama
sang perempuan.
“Siap!”
Mereka
pun berpencar.
Saat
sang codet sendiri, ia masuk ke dalam kamar ibuku. Di dalamnya, tentu saja
sudah ada sesuatu yang menantinya.
Begitu membuka pintu, ia tanpa
sengaja sekaligus menarik pelatuk dari sebuah senapan angin yang langsung
mengarah pada kakinya.
Darr!
Ia
terjatuh menahan sakit.
“Awas
kau! Anak kecil!” umpatnya.
Namun
ia sangat kuat. Dengan cepat ia berdiri kembali dan berjalan menuju lemari
perhiasan ibuku. Namun di jalan, aku sudah menaruh kelereng-kelereng kecil yang
membuatnya terpeleset terlebih dahulu.
“Arrrrgh!”
ia mengepalkan tangan tanda kemarahan. Namun, semakin ia marah, malah
membuatnya semakin tidak waspada.
Saat
ia bangun, ia menginjak sebuah perangkap tikus yang sebuat jemari kakinya
terjepit kesakitan.
Aww!
Ia
menuju lemari pakaian dan memukul-mukulnya. Waw, wah, ia menjadi sangat marah
sepertinya sekarang.
Namun
ketika ia memukul-mukul lemari tersebut, ia malah membuat sebuah bola
mengelinding ke samping di atas lemari, kemudian bola itu jatuh di atas tuas “njot-njotan” dan membuat kelereng di
sisi lainnya terbang. Kelereng itu jatuh di atas tombol yang menggerakkan
sebuah mobil-mobilan untuk berjalan, dan mobil-mobilan tersebut pun menabrak
sebuah pisau dan mendorongnya untuk memotong sebuah tali tipis, yang nantinya
akan membuat sebuah jaring kawat terjatuh ke arahnya.
Si
codet hanya termangu melihat jebakan tadi berjalan, dan tanpa sadar, sebuah
jaring dari kawat berduri jauh dari langit-langit, mengurung dirinya sekaligus
menggores kulitnya hingga berdarah di sana sini. Bila ia bergerak, maka kawat
itu akan semakin menyakiti kulitnya.
Ia
ingin sekali berteriak saat itu, namun ia menahannya karena resikonya terlalu besar.
Awww!
Kelihatannya sakit sekali.
Tapi
biarkan saja, yang penting, satu sudah tertangkap!
Di
sisi lain, kakak-beradik itu masuk ke ruang tv. Baru saja masuk saat tiba-tiba
sebuah mobil remote kontrol yang kukendalikan melewati kolong kaki mereka dan
mengarah keluar.
Refleks,
mereka pun mengikuti mobil tersebut karena tahu bahwa aku yang
mengendalikannya.
“Di
mana kau, anak kecil?” tanya sang perempuan.
“Tenang
saja, kami orang baik kok, keluarlah...” kata si tompel.
“Datanglah
pada kami, kami tidak akan menyakitimu kok,” kata sang perempuan.
Aku
pun turun dari tangga.
“Baiklah,
aku datang. Aku percaya kalian tidak akan menyakitiku….” aku tersenyum manis
pada mereka.
Mereka
pun tersenyum balik.
“…
karena aku yang akan menyakiti kalian duluan…” lanjutku.
Kemudian
aku menekan sebuah tombol remote yang membuat musik menyala di sekeliling
rumah. Tentu saja, aku menyalakan musik yang keras di home theaterku untuk membuat mereka panik.
“Matikan!”
teriak sang perempuan.
“Apa?
Aku tak bisa mendengarmu??” aku pura-pura tidak mendengar.
“Sudahlah
teh, ayo
langsung kita kejar!” mereka berlari menuju tangga, namun kaki mereka malah
terperosok ke dalam kayu tangga yang rapuh. Aku memang sengaja memasang jebakan
di situ.
Mereka
pun mencoba melepaskan kaki mereka saat aku menumpahkan cat tembok dari atas.
“Ups,”
kataku.
Dua
orang itu berteriak seperti mengutuk-ngutuk tidak jelas.
“Oh
ya, satu lagi nih ketinggalan,” ujarku lagi sambil menjatuhkan kaleng catnya di
atas kepala mereka.
Wow!
Tepat sasaran! Si tompel pun pingsan.
“Awas
kau anak kecil! Kalau kau tertangkap akan kujadikan kau daging cincang!” teriak
sang perempuan saat kakinya sudah terlepas.
Aku
berlari ke arah loteng. Dan aku yakin, suara musik yang keras akan membangunkan
para tetangga. Bu desi pasti akan kemari dan melapor pada polisi.
“Di
mana kau?” tanyanya saat sudah sampai di lantai 2.
“Aku
di sini! Weee!” tantangku sambil memelet.
Aku
berada di depan lorong yang berisi anak tangga untuk naik ke loteng. Saat sang
perempuan melihatku, ia pun berlari mengejar. Dan tepat saat ia sudah dekat,
kututup pintu ke lorong tersebut sehingga ia menabraknya dengan keras.
Buk!
Ia terjatuh ke lantai, kesakitan.
“Ups,”
aku membuka pintu lagi dan menyemprotkan pengharum ruangan ke mukanya. Otomais,
ia memegang-megang matanya yang perih. Perempuan itu pun berlari mencari kamar
mandi untuk mengelap matanya.
“Wow,
kamar mandi ada di bawah, bu, kau harus kembali ke tangga,” ujarku saat ia
pontang panting di lantai 2, kemudian, seteleah mendengar penuturanku, ia pun
berlari menuju tangga. Namun nahasnya, karena berlari tanpa melihat, ia pun terpeleset dan
jatuh menimpa adiknya yang baru saja bangun dari pingsannya.
Dan
bruk! Mereka jatuh tak sadarkan diri lagi.
Fyuuh,
aku mengusap peluh dan bersyukur karena ini semua telah berakhir. Well, benar
kataku, tak lama kemudian bu Desi datang dan melapor pada polisi bahwa di
rumahku ada pencuri yang sudah kulumpuhkan.
Dan
beberapa menit kemudian, para polisi datang untuk mengamankan tempat kejadian
perkara. Ibuku pun dikabari atas kejadian barusan. Beliau panik dan mengatakan
ingin langsung pulang besok. Namun, bu Desi meyakinkannya kalau semua sudah
terkendali, dan tak lupa, ia juga memuji kecerdasanku yang bisa melawan
pencuri-pencuri itu seorang diri.
“Semuanya!
Bersihkan tempat ini dan bawa pencuri-pencuri itu ke penjara!” ujar sang Kepala Polisi.
“Siap
pak!” jawab yang lain.
Tunggu,
tungu, sepertinya aku kenal dengan suara Kepala Polisi tadi…
Aku
pun menengok ke arahnya. Dan ia berkedip ke arahku.
Oalaaaah,
ternyata itu mas penulis toh! Dasar, ia bisa menjadi apa saja yang ia mau dalam
cerita-ceritanya.
--tamat--
Mas Penulis, hahaha
Cerpen kedua puluh. PAID!
31-08-2012, 09.16

Mas penulis LOCO deuh
BalasHapusTerima kasih pujiannya (^:
Hapus