Senin, 14 Desember 2015

#Cerpen Dan Langit pun Iri

<!--[if gte mso 9]> acer V5 Normal Azam 2 1010 2015-12-14T15:05:00Z 2015-12-14T15:05:00Z 9 2277 12984 108 30 15231 14.00 <![endif]
Dan Langit pun Iri
            Jakarta, 15 September 2019
            Langit membentang biru. Suasana Ibukota nampak seperti biasa. Jalanan utama yang dilindasi jutaan kendaraan, trotoar yang dilindasi jutaan kendaraan yang tidak kebagian tempat di jalanan utama, dan jalan-jalan kecil yang dilindasi jutaan kendaraan lain yang mencoba tidak melindasi opsi pertama dan kedua.
            Kalan memperhatikan semua itu.
            Fenomena-fenomena sosial; tikus-tikus jalanan, tikus-tikus kantor, tikus-tikus parlemen, bahkan tikus-tikus tempat ibadah. Sepertinnya seluruh kota ini memang sudah dipenuhi oleh tikus.
            Kalan menepuk-nepuk pipi dan kembali fokus pada pekerjaannya. Setiap hari ia mengamati Kota ini sambil mengendarai semi-bus tempatnya mengantungkan nasib. Dan beberapa kali ia harus mengembalikan partikel kesadarannya karena larut dalam lamunan. Kalan menjalankan kuda besi itu sedikit ke depan. Metromini merah yang ia kendarai meraung pasrah karena dipaksa berjalan di usia senja. Jalanan di depannya macet. Mau tak mau pemuda itu pun mengantri laju.
            Tiba-tiba, ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang.
“Bang, mau coklat gak?” seorang pemuda, berusia sekitar 20 tahunan, menawarkannya sebungkus coklat. Coklat yang sudah sangat familier di Indonesia. Namun karena masalah aturan komersil, merknya tidak akan disebutkan di sini. Inisialnya saja; Silver Queen.
Kalan memandang heran. Agak canggung, namun akhirnya menerima Silver Queen tersebut.
“Terima kasih,” Kalan tersenyum.
“Sama-sama bang, bagi-bagi rejeki lah. Saya punya banyak di rumah,” pemuda itu menyambung topik,” dulu saya punya tokonya malah.”
Ia juga memperluasnya.
Kalan tidak menjawab karena kemacetan di depan sudah mulai terurai. Ia segera mengganti gigi dan menaikkan laju.
***
Esok hari.
“Bang, mau coklat lagi gak?”
Kalan menengok ke belakang. Pemuda itu lagi.
Lu lagi kurang kerjaan ya?” Kalan menjawab sinis.
“Tahu aja bang. Hahaha,” pemuda itu malah tertawa,” saya kalau gak ada kerjaan suka ngasih hadiah ke orang lain. Lumayan, bikin seneng orang kan dapet pahala bang.”
Kalan terdiam. Pemuda ini bisa bermain kata-kata pula rupanya.
“Kalau begitu kenapa gak semua orang di sini yang lu kasih coklat?”
Pemuda itu tersenyum,” kan tuan rumah di sini abang. Jadi saya lebih mementingkan abang lah.”
Boleh juga argumennya, Kalan berkomentar kecil.
Gua Kalan, perkenalkan.”
Pemuda itu sumringah,” saya Aslan bang. Semoga perkenalan ini diridhoi Allah.”
            Kalan mengangkat satu alis. Namun ia hanya diam menanggapinya.
***
            Malam itu Kalan merenung. Umurnya 26 tahun. Tubuh tinggi, kekar, dan berwibawa. Berotak cemerlang, hidup sebatang kara dari kecil, sampai ia mendapat beasiswa saat lulus SMA. Kuliah University of Sydney; lulus 4 tahun yang lalu. Setelah itu ia memutuskan untuk mengembara ke seluruh dunia.
            Sudah ratusan tempat di dunia ini ia sambangi. Mulai dari Sukhbataar Square di Mongol, sampai ke pemerahan sapi di New Zealand. Paragliding di atas Great Barrier Rief, main petasan di air terjun Iguacu, sampai menyaksikan tornado di USA.
Namun yang paling ia ingat adalah kenangannya bulan lalu. Saat ia menaiki sampan di atas danau Great Stave, Kanada. Saat itu, ia merenungi semua yang telah ia lakukan. Di atas danau sedalam 614 meter tersebut, pikiran Kalan mulai terbuka. Walaupun hidupnya bebas, penuh ketegangan, petualangan yang adrenalin-needed, dan juga pengalaman hebat, ia merasa masih ada sesuatu yang kurang dalam hidupnya. Ada yang harus ia lengkapi, namun ia tidak tahu apa. Serentak semua yang ia lakukan terasa hanyalah omong kosong. Pengembaraannya selama 4 tahun, mengelilingi dunia, menguasai 9 bahasa, semua euphorianya musnah.
Satu hal yang akhirnya ia sadari saat itu.
Ia kehilangan tujuan sejatinya.
Maka, ia pun memutuskan untuk istirahat sejenak dan menemukan hal tersebut dahulu. Pilihannya pun tertuju pada kampung halaman tercinta, dan pada profesi paling aneh yang bisa ia bayangkan.
Supir metromini.
***
“Aslan!” Kalan memanggil seorang pemuda yang tengah duduk di warung kopi terminal. Kebetulan sekali mereka bertemu lagi di sini.
“Oi! Bang Kalan. Apa kabar, bang?” balasnya.
Gua biasa aja. Supir metromini mah cuma gini-gini aja kali,” Kalan menjawab.
“Hahaha, abang nih, coba lebih optimis lah bang! Buat sesuatu aja. Kayak origami gitu. Daripada jadi supir metro doang gak ada skill yang diasah,” Aslan berujar antusias, memamerkan sederet gigi cemerlang.
“Ah, bisa saja kau! Tapi bolehlah nanti dicoba. Eh, mau main catur?” Kalan menawarkan.
“Wah! Boleh tuh bang! Biar saya bisa unjuk kebolehan juga,” Aslan berkata.
Kalan pun mengeluarkan papan catur dari dalam warung. Mereka duduk berhadap-hadapan, bersiap tempur. Namun...
Wah, masa raja putih hilang, Slan!”
Mereka mencari-cari, namun tetap saja tidak ketemu.
“Waduh, yaudah deh, bentar bang,” Aslan mengambil secarik origami dari dalam tasnya. Melipat-lipat kertas tersebut dengan rumit, sampai menjadi bentuk tiruan dari sang Raja yang hilang.
“Keren juga lu, Slan!” Kalan memuji.
“Kata Einstein bang; Logika bisa membawa kita dari A ke B,” Aslan menggerakkan satu bidak catur,” tapi imajinasi,” ia menunjuk kepalanya.
“Bisa membawa kita ke mana aja.”
Kalan tersenyum. Pemuda di depannya ini memang menarik.
***
Keduanya main catur 2 kali. Pertama Kalan kalah, dan yang kedua Aslan menang. Hubungan mereka dengan cepat berkembang. Keduanya pun mengobrol banyak hal. Dan Kalan bisa menangkap butir-butir kebijaksanaan dari kata-kata sang pemuda.
“Hidup lu buat apa, Slan?” Tanya Kalan.
Aslan tersenyum,” Buat Tuhan saya bang. Buat agama saya.”
Kalan tersenyum sinis,” Banyak yang bilang gitu, tapi...” ia sengaja tidak melanjutkan kalimatnya.
“Mungkin abang harus ikut ke tempat saya,” Pungkas sang pemuda.
***
Kalan menyanggupi undangan tersebut. Sewaktu hari Ahad, ia bertemu dengan Aslan di Pasar Rebo untuk mengunjungi tempat sang pemuda. Kampung Pondok Petir namanya. Kesannya angker dan aneh.
Setelah sampai, Kalan mendapati kampung tersebut sangatlah ramai. Warga sedang bergotong-royong membersihkan lingkungan rupanya. Mereka semua ramah menyapa Aslan. Pun dengan Kalan yang berjalan bersamanya. Suasana sangat erat sekali. Semua saling memberi makanan, melempar senyum, berjabat-peluk hangat sesama tetangga, dan saling mengucapkan do’a satu sama lain.
“Kak Aslan, kak Aslan!” tiba-tiba seorang anak perempuan menghampirinya dengan ceria. Anak tersebut memegang sebuah kayu di tangan kanannya. Aslan balas tersenyum gembira,” ada apa, Nisrin?”
“Gigi aku udah putih belum?” Tanya sang bocah seraya menunjukkan giginya.
“Ummm, udah lumayan. Kamu udah rajin kan, siwaknya?” Aslan menjawab dengan pertanyaan balik.
“Udah dong kak! Tapi mulai sekarang aku mau tambah rajin lagi!” Nisrin berkata.
“Bagus tuh, semangat ya!” Aslan mengacak rambut Nisrin dan berjalan kembali.
Kalan yang berada di sampingnya terus memperhatikan. Ada sesuatu yang berbeda di kampung ini. Suasananya, orang-orangnya, lingkungannya, bahkan hewan-hewan yang tinggal di sana. 
“Rumah lu di mana, Slan?” Tanya Kalan.
“Oh, sebentar lagi, bang. Tapi kita mampir ke sana dulu ya?” Aslan menunjuk sebuah bangunan minimalis yang indah. Tampak menawan bila dilihat dari kejauhan. Warnanya, hiasannya, dan arsitekturnya. Bahkan boleh dibilang bahwa Christopher Wren, sang arsitek gereja St. Paul yang terkenal itu pun akan manggut-manggut mengagumi bangunan ini. Yang paling hebat, ada semacam aura damai yang Kalan rasakan tatkala memandang bangunan tersebut.
Mereka pun bergegas menuju ke sana.
Melewati sebuah plang “Masjid Azzam Az-Zakki”
***
“Assalamualaikum, Pak Hasan!” Aslan menyapa seorang tua yang sedang menyapu lantai masjid.
“Waalaikumsalam, Ustadz Aslan!” Mereka berjabat berjabat tangan.
“Ah, sudah saya bilang jutaan kali, jangan panggil saya ustadz, pak! Saya ini masih bodoh,” Aslan merendah,” Oh ya, perkenalkan, ini kawan saya. Kalan namanya.”
Mereka pun berkenalan. Kemudian, Aslan pamit ingin berwudhu sebentar. Meninggalkan Kalan dan pak Hasan untuk berbincang berdua.
“Jadi, bapak sudah lama ada di sini?” Tanya Kalan.
“Sudah sejak lahir, dik Kalan. Saya memang mengabdikan diri untuk Masjid ini. Dari mulai dahulu masjid tidak ada yang peduli, hingga makmur seperti sekarang,” jawab pak Hasan sambil berkaca-kaca.
“Maksud bapak?” Kalan bertanya,” memang dahulu seperti apa?”
Pancingan Kalan cukup ampuh. Pak Hasan pun menceritakan kisah tempat tersebut. Dahulu ketika warga-warga tidak ada yang acuh terhadap kegiatan agama, masjid, sehingga bahkan warga yang berjama’ah hanya 3 orang.
“Kejadian itu 7 tahun yang lalu. Dan saya masih menganggapnya masa terkelam yang pernah dialami masjid ini,” jelas pak Hasan.
“Lalu keadaan sekarang bagaimana pak? Saya lihat suasana di sini sangat damai. Dan masjid sudah makmur. Ceritanya bagaimana?” Kalan merangsang pak tua itu agar bercerita. Ia memang tipe seorang pengamat, maka rasa ingin tahunya sangat besar.
Pak Hasan bercerita lagi. 7 tahun yang lalu, datanglah keluarga baru. Mereka bertiga. Seorang ayah, anak laki-lakinya yang berusia 15 tahun, dan si bungsu yang berusia 8 tahun. Sebagai warga baru, mereka mencoba bersosialisasi kepada seluruh warga. Namun warga di sini tidak terlalu memperdulikan hubungan antar tetangga. Mereka selalu sibuk dengan urusan masing-masing. Hanya ibu-ibu saja yang suka ngerumpi setiap hari. Tapi kan keluarga itu tidak memiliki sosok ibu. Sang ayah single parent dalam mendidik kedua anaknya.
Saat itulah Pak Hasan dan mereka berkenalan. Setelah mengobrol banyak—dengan sang ayah dan anak laki-lakinya—pak Hasan melihat bahwa mereka sangat ingin menumbuhkan tali persaudaraan yang kuat antar tetangga, mereka juga ingin agar masjid kembali menjadi makmur.
Sebenarnya keluarga tersebut tidak pernah mengajak warga untuk pergi ke masjid, mengikuti pengajian, membentuk DKM, dan lain sebagainya. Namun, keluarga tersebut sangat sering memberi hadiah kepada para tetangga. Mengucapkan salam tiap pagi, membantu mereka yang kesulitan tanpa parih, dan juga mengundang mereka untuk syukuran tiap kali ada kesempatan.
Mereka tidak pernah secara langsung mengajak pada kebaikan. Namun  mereka melakukannya. Dan menunjukkan pada semua warga kalau berbuat baik dan melakukan silaturahim itu sangatlah indah.
Sayang seribu sayang, 3 tahun setelah kedatangan mereka, suasana tetaplah tidak berubah. Warga tetap saja seperti dahulu. Bahkan ibu-ibu makin gencar bergosip, dan menimbulkan pertengkaran antar tetangga.
Keluarga tersebut makin prihatin dengan kondisi lingkungan mereka. Sang ayah akhirnya mulai melakukan pendekatan dengan ajakan kepada mereka. Sang anak laki-laki yang waktu itu kelas 3 SMA pun mulai memasuki pergaulan remaja di sana dan mengajak mereka pada kebaikan. Begitu pula dengan sang adik. Ia mengajak teman-teman seumurannya mengaji, dan lainnya.
Yang terjadi akhirnya, adalah kebencian terhadap mereka. Warga sangat terganggu dengan ajakan-ajakan mereka, apalagi saat sang ayah mengajak mereka memakmurkan masjid. Suara murotal dari masjid tersebut dianggap mengganggu dan akhirnya malah membuat mereka makin jauh dari masjid.
Hingga akhirnya, setelah sang anak laki-laki lulus SMA, sang ayah meninggal dunia. Sekalipun warga membencinya, namun mengingat kebaikan hati sang ayah, hampir semua warga melayat  jenazahnya. Bukan, bukan hanya mereka, namun ternyata ribuan orang dari luar juga menghadiri pemakaman beliau. Saat itulah semua warga mengetahui—baru mengetahui—bahwa sang ayah adalah seorang legenda.
Ia adalah seorang musisi legendaris yang 3 tahun lalu menghilang dari peredaran; Iwan Fals.
***
Sejak saat itu, anaknyalah yang melanjutkan misi sang ayah untuk membuat kampung tersebut menjadi makmur dan penuh persaudaraan.
Kematian ayahnya membantu menyadarkan warga akan pentingnya menjalin tali persaudaraan di antara mereka. Bahwa kebaikan yang dilakukan sang legenda tak lain adalah untuk membuat mereka hidup di lingkungan yang damai dan sejahtera.
Sejak saat itu, warga mulai berduyun-duyun datang ke masjid, membantu memakmurkannya, menjadi saling percaya satu sama lain, dan membangun kembali persaudaraan yang lama terputus antar tetangga. Mereka bahkan melakukan puasa senin-kamis bersama. Dan tiap malam senin dan kamis, mereka akan sahur bersama di masjid.
Sang anak laki-laki pun menjadi nahkoda semua kegiatan tersebut. Ia yang mengatur kegiatan-kegiatan para pemuda, membuat mereka betah berada di masjid, dan juga yang membuat Kampung ini kembali bersinar dengan keaktifan para pemudanya.
Nama pemuda itu, adalah Aslan.
***
“Wah, maaf nih lama, tadi buang air dulu,” Aslan berkata sekembalinya dia dari air.
“Tidak apa-apa kok. Gua jadi ngobrol banyak sama pak Hasan ini,” Kalan menjawab.
“Hahaha, bang Kalan mah emang cepet akrab sama orang. Oh iya bang, saya solat dhuha dulu ya,” Aslan berkata, dan Kalan mengangguk.
“Aslan memang lebih sering berada di masjid daripada di rumah,” ujar pak Hasan sambil berbisik.
“Kalau adiknya, sendiri di rumah, pak?”
Pak Hasan menggeleng.
Ia kembali bercerita.
***
Dua minggu yang lalu, toko coklat milik Aslan kebakaran. Padahal,dari situlah pemasukan keluarganya berasal. Semua hangus terbakar, hanya ada sisa satu kardus coklat yang belum sempat ditaruh di gudang karena baru Aslan beli untuk persediaan.
Saat itu, Aslan berkata bahwa ini adalah peringatan dari Allah SWT karena ia kurang bersedekah. Padahal ia sebenarnya sangat sering memberi pada orang lain. Akhirnya ia memutuskan untuk membagi-bagikan coklat sisanya tersebut pada orang lain yang ia temui. Dan ia akan mencari kerja lain ke kantor-kantor di Jakarta. Makanya belakangan Aslan sering bepergian. Dan kala itu pula Aslan dan Kalan bertemu.
***
“Lalu sang adik?” Kalan bertanya. Meneguk ludah.
“Kau mungkin sudah bisa menebak,” Pak Hasan berkata.
“Hani ikut terbakar bersama toko tersebut,” Kalan melihat sang pemuda berdo’a sehabis sholat sambil menangis di sudut masjid.
***
Malam itu juga, Kalan telah menemukan apa yang ia cari. Aslan, pemuda rendah hati itu telah membuka seluruh mata hatinya. Apa yang harus ia lakukan, dan apa tujuan hidupnya yang sejati.
Maka di malam bertabur gemintang itu, Kalan membuka rahasianya pada Aslan, mengatakan bahwa ia sebenarnya adalah seorang pengembara, sedang mengelilingi dunia, dan sedang mencari kesejatian hidupnya. Aslan terkejut mendengar penuturan sang abang, bahkan ketika Kalan memperlihatkan jurnal perjalanan keliling dunia miliknya.
Lu udah ngebuka pikiran gua begitu jauh, Slan. Terima kasih,” Kalan menepuk pundak pemuda itu.
“Sekarang gua punya satu penawaran buat lu.”
“Ayo ikut gua pergi; keliling dunia.”
***
            Di sebuah metromini, 3 tahun kemudian.
            “Mau coklat?” sesorang menepuk pundak Aslan dari belakang.
            “Bang Kalan!” Aslan terkejut melihat kawan lamanya tersebut. Sudah tiga tahun mereka tidak berjumpa. Tiga tahun semenjak ia menolak dengan halus tawaran hebat untuk ikut berpetualang keliling dunia bersamanya.
            “Gua ada kejutan buat lu,” Kalan berkata. Kemudian dari belakangnya muncul serorang anak kecil berumur sekitar 2 tahun yang langsung menerjang Aslan. Juga seorang wanita cantik yang mengenalkan diri sebagai “Nyonya Kalan”.
“Seperti kata-kata terakhir yang lu bilang sebelum kita berpisah,” Kalan berkata.
            “Tugas terakhir buat pemuda muslim sejati; harus nikah.”
Kalan dan Aslan  pun berpelukan hangat.
Membuat iri langit biru di atas mereka.




-->

4 komentar: