Waktu membaca: 4-6 menit
Mudah saja kalau ingin terkenal.
Kencing di depan gedung rektor pun kita sudah bisa terkenal, minimal se-kampus
selama 2 hari. Mudah saja kalau ingin populer. Pakai barang branded, show off
di depan kantin fakultas. Minimal se-kampus selama tiga hari.
Yang sulit itu kalau ingin
dicintai.
Kita harus santun, bersahaja, dan
gak nyampah di pergaulan. Influence berbanding lurus dengan reputasi.
Itu yang selalu kupegang dari dulu.
Makanya, kini, ketika aku duduk
di semester dua bangku perkuliahan, banyak yang menghormatiku. Sebagai teman,
aku selalu berusaha untuk berguna. Ada di saat suka dan duka. Sebagai
mahasiswa, aku selalu berusaha mendengarkan. Sebagai pemimpin, aku
selalu berusaha adil.
Ya, minimal se-fakultas psikologi
Undip aku dikenal sebagai seorang Adul yang sederhana, baik hati dan setia. Itu
saja sudah cukup. Tak perlu embel-embel populer dan terkenal. Aku selalu
menyukai lingkunganku, teman-temanku, dan semuanya.
Sebuah lingkaran kecil akan tetap
indah bila kita bisa memegang sisinya.
Sebaliknya lingkaran besar akan
menjadi rumit karena sisinya terlalu jauh untuk dipegang.
Itulah pergaulan. Sedikit namun
benefit.
Cerita ini dimulai di ketika aku
masuk ke Universitas Diponegoro, Semarang, sebagai seorang mahasiswa baru, 6 bulan yang lalu. Aku masih
bau kencur. Lulusan pesantren. Dan baru move on dari seorang ustajah penjaga
koperasi.
Diriku saat baru masuk dulu
adalah seorang remaja tanggung yang baru melihat dunia di luar pesantrenku.
Dipaksa untuk beradaptasi dengan kerasnya kehidupan; sebagai anggota masyarakat,
dan mahasiswa. Dari awal, aku sudah terpesona dengan kehidupan baru ini. Dan sebagai
seorang yang religius, aku selalu besikap mendahulukan orang lain.
Jadilah banyak orang
mengandalkanku.
Baiklah, mari kita masuk ke dalam
cerita.
***
Satu hal yang baru kusadari saat
masuk jurusan psikologi: 80 persen anggota kelas adalah perempuan!
Ya, aku, di sini hanya bersama 5
teman laki-lakiku (berarti jumlahnya enam orang), bisa dibilang minoritas bila
dibandingkan dengan jumlah mahasiswi di sini yanng mencapai 25 orang.
Oke.
Satu lagi kenyataan yang harus
kuhadapi, lima temanku yang lain, zakar-zakar penghuni kelas ini, culun semua.
Mereka adalah golongan kutu buku
yang tidak pernah menyentuh lapangan bola, yang hanya bergulat pada anime dan
game, yang terpaksa masuk jurusan psikologi karena pilihan kedua.
Maka begitulah, aku, dengan
sendiriku, menjadi satu-satunya laki-laki yang bisa diandalkan di kelas. Teman-teman
perempuanku paling percaya kepadaku.
Awalnya, concern mereka hanya
pada pelajaran. Aku sering meladeni chat mereka yang bertanya tentang
ilmuwan-ilmuwan psikologi pertama di dunia seperti Wilhem Wundt, sampai
metodologi-metodologi yang kurang jelas disampaikan oleh dosen.
Lama-lama, pertanyaan mereka
melingkar jauh melewati batas-batas horizon, sampai curhat tentang mantan yang
baru jadian dengan sahabat mereka, hingga tentang teman SD yang mau sedang
menggebetnya.
Aku, sebagai teman yang baik,
meladeni sewajarnya.
Tabiatku memang tidak suka tebar
pesona. Kalem, sibuk dengan duniaku sendiri. Terkadang, saat aku merenung,
pikiranku dapat menelurkan sebuah kebijaksanaan. Apdetlah status. Lama-lama,
karena teman-teman tahu sosmedku, mereka mengumpulkan kata-kata yang kubuat dan
menamainya -adul quotes-, agak menjijikkan memang.
Maka, sesuai dugaan, tak lama
setelah itu, aku dudapuk sebagai ketua kelas.
Hore.
Fak.
Bulan pertama berlalu dengan
meladeni 8 teman perempuanku yang rajin ngechat tiap hari. Aku (sekali lagi)
sebagai teman yang baik, meladeni sewajarnya.
Usut punya usut, gosip menyebar
bahwa delapan orang ini naksir padaku.
Sekali lagi, delapan orang ini
naksir kepadaku.
Reaksiku? Hanya bingung.
Aku bukan jenis fakboi yang
identik dengan popularitas dan cewek-cewek yang naksir padanya. Aku hanya
seorang Adul, yang punya dunianya sendiri, senang merenung, dan berusaha
menjadi teman yang baik.
Di samping itu, aku religius. Ahay.
Mungkin bila ukuran religius itu adalah hapal bacaan solat, ya aku seperti itu.
Semenjak gosip menyebar, suasana
di kelas menjadi agak canggung. Bukan aku, namun mereka. Lagian ada-ada saja.
Aura-aura persaingan mulai
nampak. Namun itu di belakangku, di depanku, mereka langsung berubah bak
bidadari yang (meng)anggun(-anggunkan diri). Aku santai. Hidupku tidak suka
ambil pusing masalah cinta monyet seperti itu.
Aku lebih suka menggoda anak kecil dibanding
mereka. Bagiku, anak kecil itu lebih menarik. Tidak ada modus dalam setiap
gerak-gerik kita. Yang ada benar-benar kasih sayang.
Oke, stop ceramahnya.
Besok hari, di bulan ketiga, ada
bunga di tasku.
Bah, ulah siapa pula ini. Dan kapan
dia (atau mereka) memasukkannya.
Aku lagi-lagi tak ambil pusing. Kuterima
saja bunga itu, lalu kulanjutkan hari dengan biasa.
Bulan keempat, sebentar lagi UAS.
Makin banyak yang ingin belajar bersamaku. Ya, perempuan-perempuan itu. Aku sih
oke saja. Sewajarnya.
Bulan kelima, UAS tinggal
seminggu lagi. Aku ditawari datang ke kosan seorang teman perempuanku untuk
belajar di sana. Tenang saja, katanya, berlima yang akan datang.
Aku, dengan pikiran bersih nan
suci, menyanggupi.
Namun kenyataan yang kutemui
adalah lain. Kami di sana hanya berdua. Tatkala kutanya di mana yang lain,
jawabnya masih di jalan. Yowis ndak apa-apa.
Setengah jam berlalu, kami sudah
selesai satu bab, namun belum datang juga teman-temannya.
“Temen-temen lo kok belom dateng
juga Mi?” Aku bertanya. Nama dia Mia.
“Umm, Dul, yaudahlah tunggu aja.”
Aku mengangguk.
Satu jam berlalu, karena kami
hanya berdua saja daritadi, aku jadi merasa tidak enak. Aku pun segera pamit
daripada hal yang tidak diinginkan terjadi.
“Ih, cepet amat dul!” Protes Mia.
“Lupa, ada janji sama kasir
Indomaret.”
“Lah? Janji apa lagi?”
“Gebetan baru, hehe.”
Dar! Demi mendengar hal itu, air
muka Mia langsung berubah masam. Adul? Gebetan baru? Ini tidak boleh terjadi!
Mungkin itu yang ada dalam pikirannya.
Aku memang sudah tiga hari ini
naksir sama seorang kasir indomaret dekat rumah. Hehe. Meski sudah lama
berhenti main cinta-cintaan, namanya juga kebutuhan biologis, rasa naksir itu
pasti tetap ada. Ini hal yang natural kok.
Terlebih, mungkin sudah kutukan
yang melekat padaku, lagi-lagi naksir sama seorang kasir. Dulu pas di pondok,
aku kepincut juga kan sama ustajah penjaga koperasi. Halah.
Yang jelas, mendadak chat dari
delapan teman sekelasku itu berhenti selama dua hari. Waw. Ini rekor. Jemariku bisa
beristirahat dengan tenang. Meski pada akhirnya aku bertanya-tanya juga, pada
ke mana mereka?
Ketika di kelas, aku pun bertanya
pada Mia. Gimana kabar dia? Maksudku kabar pelajaran yang kemarin, sudah nempel
di otak atau belum.
Eh si Mia malah blo’on bego. Diam
seperti sungai yang tenang. Tegar seperti batu karang.
“Heh.”
Mia menengok, namun tak acuh
lagi.
Ya sudahlah.
***
Kejadian demi kejadian berlalu
hingga genap semester satu pun selesai.
Tidak pernah ada kata benci dalam
kamusku. Tidak ada juga kata “menelantarkan” dan “menolak”. Namun terkadang
kita harus bangun, dan melihat bahwa sebetulnya “ada yang lain”.
Aku pun mulai rutin mengunjungi
indomaret tempat si kasir bekerja. Ia begitu rupawati (karena rupawan itu untuk
cowok). Bagian favoritku adalah saat ia menyerahkan struk beserta kembalian
belanjaanku, karena di sana ada momen di mana aku bisa menyentuh tangan
indahnya.
Oh. Halus.
Namun, sekali lagi namun, satu
hal yang tidak pernah diketahui delapan perempuan itu, aku tak pernah bersama
si kasir. Istilah gebetan hanyalah sebuah ilusi akan kebutuhanku untuk
memujanya. Aku bahkan tak pernah bertukar kontak dengannya, maupun mengobrol
barang sesaat.
Sama seperti dengan ustajah dulu.
Ah, sayang sekali, mereka tidak
tahu.
***
Azam Rofiullah, 2016

Bagus yaa
BalasHapus