Minggu, 17 Januari 2016

#Cerpen Si Pecinta

Waktu membaca: 4-6 menit
Mudah saja kalau ingin terkenal. Kencing di depan gedung rektor pun kita sudah bisa terkenal, minimal se-kampus selama 2 hari. Mudah saja kalau ingin populer. Pakai barang branded, show off di depan kantin fakultas. Minimal se-kampus selama tiga hari.
Yang sulit itu kalau ingin dicintai.
Kita harus santun, bersahaja, dan gak nyampah di pergaulan. Influence berbanding lurus dengan reputasi. Itu yang selalu kupegang dari dulu.
Makanya, kini, ketika aku duduk di semester dua bangku perkuliahan, banyak yang menghormatiku. Sebagai teman, aku selalu berusaha untuk berguna. Ada di saat suka dan duka. Sebagai mahasiswa, aku selalu berusaha mendengarkan. Sebagai pemimpin, aku selalu berusaha adil.
Ya, minimal se-fakultas psikologi Undip aku dikenal sebagai seorang Adul yang sederhana, baik hati dan setia. Itu saja sudah cukup. Tak perlu embel-embel populer dan terkenal. Aku selalu menyukai lingkunganku, teman-temanku, dan semuanya.
Sebuah lingkaran kecil akan tetap indah bila kita bisa memegang sisinya.
Sebaliknya lingkaran besar akan menjadi rumit karena sisinya terlalu jauh untuk dipegang.
Itulah pergaulan. Sedikit namun benefit.
Ah, jadi kebanyakan melantur.
Cerita ini dimulai di ketika aku masuk ke Universitas Diponegoro, Semarang, sebagai seorang  mahasiswa baru, 6 bulan yang lalu. Aku masih bau kencur. Lulusan pesantren. Dan baru move on dari seorang ustajah penjaga koperasi.
Diriku saat baru masuk dulu adalah seorang remaja tanggung yang baru melihat dunia di luar pesantrenku. Dipaksa untuk beradaptasi dengan kerasnya kehidupan; sebagai anggota masyarakat, dan mahasiswa. Dari awal, aku sudah terpesona dengan kehidupan baru ini. Dan sebagai seorang yang religius, aku selalu besikap mendahulukan orang lain.
Jadilah banyak orang mengandalkanku.
Baiklah, mari kita masuk ke dalam cerita.
***
Satu hal yang baru kusadari saat masuk jurusan psikologi: 80 persen anggota kelas adalah perempuan!
Ya, aku, di sini hanya bersama 5 teman laki-lakiku (berarti jumlahnya enam orang), bisa dibilang minoritas bila dibandingkan dengan jumlah mahasiswi di sini yanng mencapai 25 orang.
Oke.
Satu lagi kenyataan yang harus kuhadapi, lima temanku yang lain, zakar-zakar penghuni kelas ini, culun semua.
Mereka adalah golongan kutu buku yang tidak pernah menyentuh lapangan bola, yang hanya bergulat pada anime dan game, yang terpaksa masuk jurusan psikologi karena pilihan kedua.
Maka begitulah, aku, dengan sendiriku, menjadi satu-satunya laki-laki yang bisa diandalkan di kelas. Teman-teman perempuanku paling percaya kepadaku.
Awalnya, concern mereka hanya pada pelajaran. Aku sering meladeni chat mereka yang bertanya tentang ilmuwan-ilmuwan psikologi pertama di dunia seperti Wilhem Wundt, sampai metodologi-metodologi yang kurang jelas disampaikan oleh dosen.
Lama-lama, pertanyaan mereka melingkar jauh melewati batas-batas horizon, sampai curhat tentang mantan yang baru jadian dengan sahabat mereka, hingga tentang teman SD yang mau sedang menggebetnya.
Aku, sebagai teman yang baik, meladeni sewajarnya.
Tabiatku memang tidak suka tebar pesona. Kalem, sibuk dengan duniaku sendiri. Terkadang, saat aku merenung, pikiranku dapat menelurkan sebuah kebijaksanaan. Apdetlah status. Lama-lama, karena teman-teman tahu sosmedku, mereka mengumpulkan kata-kata yang kubuat dan menamainya -adul quotes-, agak menjijikkan memang.
Maka, sesuai dugaan, tak lama setelah itu, aku dudapuk sebagai ketua kelas.
Hore.
Fak.
Bulan pertama berlalu dengan meladeni 8 teman perempuanku yang rajin ngechat tiap hari. Aku (sekali lagi) sebagai teman yang baik, meladeni sewajarnya.
Usut punya usut, gosip menyebar bahwa delapan orang ini naksir padaku.
Sekali lagi, delapan orang ini naksir kepadaku.
Reaksiku? Hanya bingung.
Aku bukan jenis fakboi yang identik dengan popularitas dan cewek-cewek yang naksir padanya. Aku hanya seorang Adul, yang punya dunianya sendiri, senang merenung, dan berusaha menjadi teman yang baik.
Di samping itu, aku religius. Ahay. Mungkin bila ukuran religius itu adalah hapal bacaan solat, ya aku seperti itu.
Semenjak gosip menyebar, suasana di kelas menjadi agak canggung. Bukan aku, namun mereka. Lagian ada-ada saja.
Aura-aura persaingan mulai nampak. Namun itu di belakangku, di depanku, mereka langsung berubah bak bidadari yang (meng)anggun(-anggunkan diri). Aku santai. Hidupku tidak suka ambil pusing masalah cinta monyet seperti itu.
 Aku lebih suka menggoda anak kecil dibanding mereka. Bagiku, anak kecil itu lebih menarik. Tidak ada modus dalam setiap gerak-gerik kita. Yang ada benar-benar kasih sayang.
Oke, stop ceramahnya.
Besok hari, di bulan ketiga, ada bunga di tasku.
Bah, ulah siapa pula ini. Dan kapan dia (atau mereka) memasukkannya.
Aku lagi-lagi tak ambil pusing. Kuterima saja bunga itu, lalu kulanjutkan hari dengan biasa.
Bulan keempat, sebentar lagi UAS. Makin banyak yang ingin belajar bersamaku. Ya, perempuan-perempuan itu. Aku sih oke saja. Sewajarnya.
Bulan kelima, UAS tinggal seminggu lagi. Aku ditawari datang ke kosan seorang teman perempuanku untuk belajar di sana. Tenang saja, katanya, berlima yang akan datang.
Aku, dengan pikiran bersih nan suci, menyanggupi.
Namun kenyataan yang kutemui adalah lain. Kami di sana hanya berdua. Tatkala kutanya di mana yang lain, jawabnya masih di jalan. Yowis ndak apa-apa.
Setengah jam berlalu, kami sudah selesai satu bab, namun belum datang juga teman-temannya.
“Temen-temen lo kok belom dateng juga Mi?” Aku bertanya. Nama dia Mia.
“Umm, Dul, yaudahlah tunggu aja.”
Aku mengangguk.
Satu jam berlalu, karena kami hanya berdua saja daritadi, aku jadi merasa tidak enak. Aku pun segera pamit daripada hal yang tidak diinginkan terjadi.
“Ih, cepet amat dul!” Protes Mia.
“Lupa, ada janji sama kasir Indomaret.”
“Lah? Janji apa lagi?”
“Gebetan baru, hehe.”
Dar! Demi mendengar hal itu, air muka Mia langsung berubah masam. Adul? Gebetan baru? Ini tidak boleh terjadi! Mungkin itu yang ada dalam pikirannya.
Aku memang sudah tiga hari ini naksir sama seorang kasir indomaret dekat rumah. Hehe. Meski sudah lama berhenti main cinta-cintaan, namanya juga kebutuhan biologis, rasa naksir itu pasti tetap ada. Ini hal yang natural kok.
Terlebih, mungkin sudah kutukan yang melekat padaku, lagi-lagi naksir sama seorang kasir. Dulu pas di pondok, aku kepincut juga kan sama ustajah penjaga koperasi. Halah.
Yang jelas, mendadak chat dari delapan teman sekelasku itu berhenti selama dua hari. Waw. Ini rekor. Jemariku bisa beristirahat dengan tenang. Meski pada akhirnya aku bertanya-tanya juga, pada ke mana mereka?
Ketika di kelas, aku pun bertanya pada Mia. Gimana kabar dia? Maksudku kabar pelajaran yang kemarin, sudah nempel di otak atau belum.
Eh si Mia malah blo’on bego. Diam seperti sungai yang tenang. Tegar seperti batu karang.
“Heh.”
Mia menengok, namun tak acuh lagi.
Ya sudahlah.
***
Kejadian demi kejadian berlalu hingga genap semester satu pun selesai.
Tidak pernah ada kata benci dalam kamusku. Tidak ada juga kata “menelantarkan” dan “menolak”. Namun terkadang kita harus bangun, dan melihat bahwa sebetulnya “ada yang lain”.
Aku pun mulai rutin mengunjungi indomaret tempat si kasir bekerja. Ia begitu rupawati (karena rupawan itu untuk cowok). Bagian favoritku adalah saat ia menyerahkan struk beserta kembalian belanjaanku, karena di sana ada momen di mana aku bisa menyentuh tangan indahnya.
Oh. Halus.
Namun, sekali lagi namun, satu hal yang tidak pernah diketahui delapan perempuan itu, aku tak pernah bersama si kasir. Istilah gebetan hanyalah sebuah ilusi akan kebutuhanku untuk memujanya. Aku bahkan tak pernah bertukar kontak dengannya, maupun mengobrol barang sesaat.
Sama seperti dengan ustajah dulu.  
Ah, sayang sekali, mereka tidak tahu.
***



Azam Rofiullah, 2016

1 komentar: